Prof. Dr. Eka Cahya Prima, Guru Besar Termuda di Indonesia
Prof. Dr. Eka Cahya Prima, S.Pd., M.T. resmi menyandang gelai guru besar di bidang fisika material energi pada usia 35 tahun. Pencapaian ini menjadikannya sebagai salah satu profesor termuda di Indonesia dalam bidang tersebut. Ia kini dikenal sebagai peneliti yang fokus pada pengembangan material energi surya dan sel surya organik yang ramah lingkungan.
Perjalanan Akademik yang Menginspirasi
Perjalanan akademik Prof. Eka dimulai dari bangku pendidikan fisika saat menempuh studi sarjana. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister dan doktor di bidang teknik fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kini, ia menjadi peneliti di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mengembangkan material energi surya berbasis bahan lokal.
“Saya dibimbing oleh Pak Menteri, Pak Brian Yuliarto, dalam bidang fisika material, terutama fisika material sel surya,” ujar Prof. Eka saat ditemui seusai acara Pengukuhan Guru Besar di Gedung Ahmad Sanusi, Jalan Dr Setiabudhi No 229, Kamis (7/5/2026).
Ia juga membangun laboratorium material energi surya bersama mahasiswa-mahasiswa di UPI. “Saya di sini mengembangkan laboratorium material energi surya dengan mahasiswa-mahasiswa yang ada di sini,” tambahnya.
Pentingnya Energi Terbarukan
Menurut Prof. Eka, perkembangan dunia saat ini membuat riset energi terbarukan menjadi semakin penting. Di tengah isu geopolitik dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, kebutuhan energi ramah lingkungan dinilai tak bisa lagi dihindari.
“Energi itu tidak hanya berbasis energi fosil tetapi juga harus berbasis energi yang ramah lingkungan,” katanya.
Untuk mendorong literasi energi terbarukan sejak dini, Prof. Eka aktif sebagai editor utama buku Teknik Energi Surya, Hidro, dan Angin di Kementerian Pendidikan. “Karena UPI memiliki kontribusi di bidang pendidikan, maka pembelajaran tentang energi terbarukan harus disosialisasikan ke sekolah,” ujarnya.
Tantangan dan Solusi
Di balik pencapaiannya sebagai profesor muda, Eka mengaku menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas laboratorium dan ketergantungan terhadap material nanoteknologi impor.
“Tantangannya bagaimana kita memiliki laboratorium yang baik dengan kualitas tinggi. Terutama untuk material nanoteknologi itu kebanyakan sekarang masih impor,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia mulai mengembangkan material berbahan lokal yang bisa dimanfaatkan peneliti di Indonesia. Bahkan, beberapa produk hasil pengembangannya dipasarkan melalui marketplace.
“Beberapa produk kami digunakan oleh peneliti di Indonesia, ada di BRIN, ITB, dan kampus-kampus besar lainnya,” ujarnya.
Keseimbangan Hidup dan Tantangan Birokrasi
Di tengah aktivitas riset dan akademik, Eka juga harus membagi waktu dengan keluarga. Ia mengaku tantangan menjadi guru besar bukan hanya soal penelitian, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan kehidupan pribadi.
“Di waktu yang sama saya harus membesarkan anak. Anak saya dua, satu SMP dan satu SD,” katanya ramah.
Selain itu, proses menuju jabatan akademik tertinggi juga tidak mudah karena harus melewati berbagai syarat administratif dan akademik.
“Tantangan birokrasi luar biasa karena untuk mencapai level jabatan akademik tertinggi itu banyak sekali yang harus dilampaui,” ujarnya.
Dukungan dari UPI
Meski demikian, Prof. Eka merasa mendapat dukungan besar dari UPI dalam pengembangan laboratorium maupun penelitian. “UPI luar biasa dalam pengembangan laboratorium, menyediakan ruangan, fasilitas dana, dan hibah riset,” katanya.
Pencapaian Prof. Eka juga mendapat perhatian khusus dari Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. Menurutnya, kehadiran profesor muda menjadi hal yang penting agar produktivitas riset dapat berlangsung lebih panjang dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Prof Eka ini merupakan guru besar termuda yang diakui oleh MURI,” ujar Didi.
Ia mengatakan UPI memang mendorong dosen-dosen muda untuk lebih cepat berkembang dalam jenjang akademik, sehingga tidak menunggu usia menjelang pensiun untuk menjadi guru besar.
“Kita dorong dari mulai dosen muda, kemudian mereka menjabat asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan nanti guru besar pun usianya masih muda,” katanya.
Kontribusi untuk Masa Depan
Menurut Prof Didi, produktivitas profesor muda akan memberi manfaat besar karena riset yang dilakukan dapat berkembang lebih lama dan lebih matang.
“Produktivitasnya masih bisa kita rasakan dan dampaknya bagi masyarakat juga akan semakin dirasakan karena risetnya dimulai sejak beliau masih muda,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya riset yang dikembangkan Prof. Eka mengenai sel surya di tengah kondisi dunia yang sedang menghadapi tantangan energi global. “Kita menyaksikan sekarang terjadi peristiwa geopolitik yang luar biasa, krisis energi karena satu dan lain hal. Tentu saja salah satu jalan keluarnya adalah kita mencari energi alternatif, di antaranya adalah sel surya,” katanya.
Penelitian yang Berdampak Luas
Riset sel surya yang dikembangkan Prof. Eka tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan melalui penggunaan material yang lebih aman dan dapat didaur ulang.
“Sel surya ini di UPI saat ini memiliki seorang guru besar yang menekuni bagaimana mengembangkan sel surya yang bahannya tidak mencemari lingkungan, karena bahannya bisa didaur ulang dari bahan-bahan hidup, bukan dari plastik atau metal,” ujar Prof Didi.
Menurutnya, penelitian tersebut akan memberikan manfaat besar bukan hanya untuk dunia akademik, tetapi juga masyarakat luas di masa depan. “Ini tentu akan menjadi hal yang bermanfaat bukan hanya bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga bagi masyarakat,” katanya.
Kepengurusan Guru Besar di UPI
Dalam waktu berdekatan, UPI melahirkan 14 guru besar baru dari berbagai bidang keilmuan. “Kita punya delapan guru besar dan besok enam guru besar yang akan dikukuhkan sehingga jumlahnya 14,” katanya.
Saat ini, UPI memiliki sekitar 254 guru besar dari total sekitar 1.600 dosen. Menurut Prof Didi, jumlah tersebut menjadi kekuatan penting untuk memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
