Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Tempat Rehabilitasi Narkoba yang Dipilih BNN
Yayasan Berkas Bersinar Abadi milik Ipda Purnomo kini resmi menjadi tempat rehabilitasi narkoba yang dipilih oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal ini dilakukan karena yayasan telah memenuhi standar fasilitas medis dan tenaga spesialis yang diperlukan. Dengan pengakuan tersebut, yayasan kini memiliki tanggung jawab untuk merawat pasien narkoba dengan sistem yang sesuai dengan kriteria BNN.
Fasilitas dan Layanan yang Tersedia
Ipda Purnomo menjelaskan bahwa yayasan telah melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Saat ini, yayasan telah menyediakan apotek dan satu dokter spesialis jiwa. Selain itu, pihak yayasan juga menyiapkan lingkungan yang memenuhi standar BNN, termasuk rekomendasi dan tenaga medis seperti dokter dan psikiater.
Alur Penanganan Pasien
Menurut SOP dari BNN, pasien terlebih dahulu menjalani masa karantina selama dua minggu sebagai tahap intervensi krisis. Setelah kondisi stabil, pasien diperbolehkan beraktivitas bersama penghuni lain di dalam yayasan. Proses penanganan ini dilakukan agar pasien dapat diberikan perawatan yang optimal dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Data Terbaru Yayasan Berkas Bersinar Abadi
Saat ini, yayasan Berkas Bersinar Abadi telah merawat sebanyak 460 pasien ODGJ, dengan 50 orang di antaranya perempuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 162 pasien dibiayai langsung oleh yayasan. Selebihnya menggunakan sistem subsidi silang. Purnomo mengungkapkan bahwa ribuan pasien telah berhasil disembuhkan.
Peran Keluarga dalam Proses Pemulihan
Purnomo menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihan pasien. Ia menyarankan agar keluarga tetap memberikan dukungan dan komunikasi yang baik kepada pasien yang sudah pulang. Jika masih harus rutin minum obat, maka peran keluarga sangat dibutuhkan agar obat tersebut diminum secara teratur.
Aturan Khusus Selama Bulan Ramadan
Selama bulan Ramadan, pihak yayasan menerapkan aturan khusus bagi pasien, termasuk kewajiban menjalankan ibadah puasa tanpa disediakan makanan dan minuman pada siang hari. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pasien tetap menjalani proses pemulihan dengan disiplin.
Awal Mula Pendirian Yayasan
Perjalanan Ipda Purnomo merawat ODGJ bermula ketika dirinya membantu ODGJ di Lamongan. Saat masih dinas di Polsek Babat, ia melihat ada ODGJ yang keliaran dan merasa kasihan, sehingga muncul inisiatif untuk menolongnya. Dari hal sederhana itu, hati Ipda Purnomo kembali terketuk untuk terus membantu ODGJ.
Dukungan dari Istri
Kebaikan Ipda Purnomo mendapat dukungan dari istrinya, Lilik Ika Wahyuni (45). Ia menyatakan bahwa istri selalu mendukung tindakan suaminya, bahkan saat awal-awal hingga ikut memandikan ODGJ yang dibawa pulang ke rumah.
Penggunaan Uang Pribadi dari Tunjangan
Selama merawat ODGJ, Ipda Purnomo rela menggunakan uang pribadi yang berasal dari tunjangan sebagai anggota Polri. Di balik aksi baiknya, ia kerap menghadapi masalah, seperti sikap para ODGJ yang meresahkan tetangga. Namun, ia tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk membantu ODGJ.
Sempat Dimarahi Istri
Pada suatu waktu, Ipda Purnomo sempat dimarahi istri setelah menawarkan ODGJ ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) sembari mencari keluarganya melalui media sosial. Namun, ia tetap bertekad untuk membantu ODGJ dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan yayasan sendiri.
Mendirikan Yayasan Sendiri
Dari pengalaman tersebut, Pak Pur memutuskan untuk mendirikan Yayasan Berkas Sinar Abadi yang eksis hingga kini. Ia meminta izin kepada Bupati Lamongan serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Lamongan. Meski awalnya disarankan untuk berada di bawah Dinas Kesehatan, akhirnya yayasan memilih untuk bergabung dengan Dinas Sosial karena kebutuhan ODGJ lebih luas.
Pemasukan Tambahan dari Youtube
Untuk mengelola yayasan yang kini merawat sebanyak 395 ODGJ, Pak Pur mendapatkan bantuan dari beberapa pihak. Ia juga mendapat tambahan pemasukan dari hasil konten YouTube. Aksi baiknya membuat banyak orang terinspirasi dan ingin berkontribusi.
Bantuan ke 39 Guru PPPK
Pada Rabu (18/2/2026), Ipda Purnomo menyerahkan uang sejumlah Rp 11,7 juta, yang kemudian dibagikan kepada 39 guru PPPK Tuban yang kontraknya tak diperpanjang. Bantuan ini merupakan bentuk empati serta dukungan moral agar para tenaga pendidik tersebut tetap semangat meski berada di tengah masa sulit.
Bantuan ke Pemulung
Selain itu, Ipda Purnomo juga membantu seorang pemulung bernama Muntama (56), warga Desa Suci, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ia memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 1 juta untuk belanja keperluan selama Ramadan.





