Program AGUS: Bantuan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri
Banyak pondok pesantren di Indonesia masih mengalami kekurangan mushaf Al-Qur’an yang layak pakai. Tidak sedikit santri yang harus belajar dengan mushaf yang sudah usang, bahkan harus bergantian saat membaca maupun menghafal Al-Qur’an. Kondisi ini mendorong lahirnya program Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri (AGUS) yang digagas Yayasan Al-Fatihah.
Program ini bertujuan membantu pondok pesantren (ponpes) mendapatkan mushaf Al-Qur’an baru sekaligus dukungan gizi bagi para santri. Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa program ini menjadi langkah penting untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi santri yang masih belum merata.
“Kemampuan kami untuk berakselerasi memberi makan santri mungkin masih belum berimbang. Maka dengan adanya Gerakan AGUS ini bisa menambal adanya ketimpangan belum mendapatnya program MBG, khususnya untuk santri,” ujar Yahya saat seremonial peluncuran di Ponpes Al-Uswah Gunungpati Kota Semarang, Minggu (8/3).
Berdasarkan data yang dia sampaikan, terdapat sekitar 19 persen santri terdata memiliki gejala anemia, yang salah satunya dipengaruhi oleh kebutuhan gizi yang belum terpenuhi secara optimal. “Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para santri secara fisik sekaligus memperkuat dukungan terhadap pendidikan di lingkungan pesantren,” ujar Yahya.
Manager Program AGUS Meida Yusna Ilmiah mengatakan program tersebut menargetkan distribusi 100.000 mushaf Al-Qur’an ke pesantren dan santri yang membutuhkan di seluruh Indonesia. Dalam program ini, disalurkan mushaf Al-Qur’an senilai Rp 10 miliar serta 12.500 ribu butir telur yang diperuntukkan bagi para santri di pesantren.
“Tujuannya untuk mencukupi kebutuhan di pesantren. Tidak sedikit santri yang belajar menggunakan mushaf yang sudah usang, bahkan harus bergantian untuk membaca dan menghafal. Dari situlah program ini lahir untuk membantu pesantren yang membutuhkan,” kata Meida.
Program AQSI telah berjalan sejak 2019 itu telah membantu ribuan pesantren di berbagai daerah. Penghimpunan wakaf mushaf dilakukan oleh AQSI, sementara distribusinya dilakukan melalui program Ekspedisi Qur’an (EQ). Dalam menentukan penerima manfaat, pihaknya terlebih dahulu melakukan pendataan pesantren yang membutuhkan Al-Qur’an. Untuk memperluas jangkauan, program tersebut juga menggandeng Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU).
“Kolaborasi ini sangat strategis. Kami membantu pengadaan mushaf Al-Qur’an-nya, sementara RMI PBNU membantu dalam pendataan dan jangkauan pesantren di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menurut Meida, distribusi mushaf Al-Qur’an telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Aceh Tamiang, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Pada peluncuran program di Ponpes Al-Uswah, pihaknya menyalurkan sekitar 5.860 mushaf Al-Qur’an. Selain itu, program tersebut juga disertai dukungan gizi bagi para santri.
“Untuk launching kali ini kami membawa sekitar 5.860 mushaf Al-Qur’an. Kemudian ada dukungan gizi berupa sekitar 12.500 butir telur yang akan didistribusikan kepada 10.000 santri,” ujarnya.
Menurutnya, program dukungan gizi muncul setelah pihaknya menemukan masih banyak santri yang mengalami kekurangan asupan gizi. Program ini lahir karena masih ada santri yang gizinya kurang. Pihaknya berupaya membantu dari sisi protein dan karbohidrat. Proteinnya diberikan dalam bentuk telur karena mudah dikonsumsi dan disimpan.
Distribusi bantuan gizi tersebut disesuaikan dengan jumlah santri di setiap pesantren. Bantuan akan diberikan secara bertahap dengan perhitungan kebutuhan konsumsi para santri.
Sementara itu, Manager Project Ekspedisi Qur’an Yayasan Al-Fatihah Nalurita Firdausya mengatakan program distribusi mushaf dilakukan secara bertahap ke pesantren yang berada di bawah naungan RMI PBNU.
“Program ini bertujuan membantu pondok pesantren yang masih kekurangan Al-Qur’an sekaligus mencetak generasi Qur’ani di Indonesia,” ujarnya.
Setiap donatur yang mewakafkan mushaf melalui Yayasan Al-Fatihah akan mendapatkan doa langsung dari para santri penerima manfaat. “Setiap mushaf yang diwakafkan akan kami tuliskan nama donaturnya. Ketika mushaf tersebut dibaca oleh santri, doa juga akan dipanjatkan untuk para donatur. Dokumentasi dan sertifikat wakaf juga akan kami kirimkan kepada masing-masing donatur,” ujarnya.





