Program Teacher Ambassador: Gimbola sebagai Jembatan Komunikasi antara Guru dan Siswa
Di Surabaya, permainan video game telah menjadi jembatan komunikasi baru antara guru dan siswa melalui program Teacher Ambassador. Inisiatif ini diinisiasi oleh Moonton Games, yang ingin menunjukkan bahwa ekosistem gim bisa menjadi instrumen pendidikan karakter bagi siswa.
Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan kehidupan nyata, yang sering kali tidak ditemukan dalam buku teks. Fokus utama dari program ini adalah memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk memilih, sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur seperti menerima kekalahan, pentingnya kerja sama tim, dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan. Ini adalah soft skill vital untuk menghadapi dunia nyata.
Menanamkan Nilai Positif Melalui Game
Erina Tan, Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, menjelaskan bahwa melalui program ini, para guru dibekali pemahaman untuk menanamkan pilar “Pray, Respect, Peace Out” (DTS). Pilar ini mengajarkan siswa untuk berdoa sebelum bermain, saling menghormati, dan menjauhi perilaku toksik.
Respons dari tenaga pendidik di Surabaya pun sangat positif. Program ini semula melibatkan sebanyak 50 guru, namun kini komunitas Teacher Ambassador berkembang menjadi 328 guru yang aktif membimbing siswa menciptakan lingkungan bermain yang aman dan edukatif.
Lingkungan Bermain yang Aman dan Edukatif
Lingkungan bermain yang aman dan edukatif menjadi fokus utama dari program ini. Dengan adanya Teacher Ambassador, guru dapat masuk ke dunia anak-anak dan memantau perilaku siswa serta mengarahkan penggunaan gawai secara sehat.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa melarang penggunaan gawai di era digital adalah hal yang mustahil. Kuncinya terletak pada pendampingan. Ia menekankan bahwa jika hari ini kita tidak bisa lepas dari handphone, maka anak-anak tidak bisa sekadar dilarang, tetapi harus didampingi. Jika tidak ada pendampingan, hasilnya tidak akan baik.
Seimbangkan Akademis dan Hobi Siswa
Dukungan serupa datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur, Hadi Wawan, mengapresiasi inovasi program yang mampu menyeimbangkan kewajiban akademis dan hobi siswa. Ia juga menyoroti bahwa kehadiran para siswa dan guru di ajang M7 World Championship memberikan pengalaman visual yang berharga.
Temanya sangat tepat: “Belajar dulu, baru mabar”. Artinya, di usia yang masih harus belajar, anak-anak tetap memprioritaskan pendidikan, namun diberi ruang untuk beraktivitas tim melalui gim.
Peran Guru sebagai Jembatan Komunikasi
Gim MLBB menjadi pintu masuk (entry point) bagi guru untuk memonitor perilaku siswa dan mengarahkan penggunaan gawai secara sehat. Melalui program ini, para guru dibekali kemampuan untuk masuk ke dunia anak-anak dan memastikan bahwa nilai-nilai positif tersampaikan dengan efektif.
Program Teacher Ambassador di Surabaya berhasil menjadi pilot project yang sukses. Kesuksesan ini tidak lepas dari visi Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang realistis terhadap perkembangan teknologi. Dengan pendekatan yang tepat, program ini membuktikan bahwa game bisa menjadi alat pendidikan yang efektif dan bermanfaat.





