Kemenangan Berat PSMS Medan atas Sriwijaya FC
PSMS Medan akhirnya kembali meraih kemenangan setelah berhasil mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 1-0 dalam pertandingan lanjutan Liga 2 musim 2025/2026 di Stadion Utama Sumatera Utara, Minggu (19/4/2026). Pertandingan ini berlangsung cukup sengit dan penuh drama, termasuk adanya kartu merah yang memengaruhi jalannya laga.
Tekanan Awal dan Gol Pembuka
Sejak menit awal, PSMS Medan tampil agresif. Tekanan tinggi yang diterapkan membuat Sriwijaya FC kesulitan dalam mengembangkan permainan. Hasilnya terlihat pada menit keempat, ketika Felipe Cadenazzi mencetak gol cepat. Gol tersebut bermula dari umpan spekulatif Clayton Da Silva dari sisi kiri, yang kemudian disontek dengan cermat oleh striker asal Argentina itu.
Gol tersebut sempat memicu kontroversi, namun wasit Subro Malisi melakukan pengecekan melalui VAR untuk memastikan tidak ada pelanggaran dalam prosesnya. Setelah diskusi dengan tim VAR, gol akhirnya disahkan.
Dominasi dan Peluang Emas
Unggul cepat membuat PSMS semakin percaya diri. Dalam sepuluh menit awal, mereka mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Sriwijaya FC. Beberapa peluang emas tercipta, terutama melalui sundulan Felipe Cadenazzi pada menit ke-21 dan menit ke-30. Namun, kedua peluang tersebut belum mampu menambah keunggulan karena bola masih melambung di atas mistar.
Pertandingan mulai berjalan keras. Wasit mengeluarkan sejumlah kartu kuning untuk pemain Sriwijaya FC, termasuk Fadil Redian dan Fahrezi, akibat pelanggaran terhadap pemain PSMS yang tampil agresif.
Petaka bagi PSMS
Petaka datang bagi PSMS menjelang akhir babak pertama. Pada menit ke-43, wasit kembali menggunakan VAR untuk meninjau sebuah pelanggaran. Hasilnya, Antoni Nugroho diganjar kartu merah langsung. PSMS pun harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.
Perubahan Taktik dan Drama Lanjutan
Memasuki babak kedua, pelatih PSMS Eko Purdjianto langsung melakukan penyesuaian taktik. Dani Saputra dimasukkan untuk menggantikan Zaki Ali guna menjaga keseimbangan tim. Di kubu Sriwijaya FC, sejumlah pergantian pemain juga dilakukan untuk memaksimalkan keunggulan jumlah pemain.
Namun situasi kembali berubah pada menit ke-53. Insiden benturan keras yang membuat Adlin Cahya harus ditandu keluar berujung pada kartu kuning kedua untuk Fadil Redian setelah wasit kembali mengecek VAR. Sriwijaya FC pun harus bermain dengan 10 orang, membuat laga kembali imbang secara jumlah pemain.
PSMS kembali mendapatkan momentum. Peluang demi peluang tercipta, termasuk lewat sepakan keras Arif Setiawan pada menit ke-63 yang hanya membentur mistar gawang. Pergantian pemain yang dilakukan PSMS pada menit ke-67 dengan memasukkan Rudiyana dan Ari Maring menambah daya gedor.
Ari Maring bahkan hampir mencetak gol pada menit ke-69, namun tembakan placing-nya tipis melebar di sisi kanan gawang. Sriwijaya FC tidak tinggal diam. Mereka sempat menciptakan peluang melalui Tyson pada menit ke-73, namun kokohnya lini belakang PSMS membuat peluang tersebut gagal berbuah gol.
Kemenangan yang Berharga
Memasuki menit-menit akhir, intensitas pertandingan semakin meningkat. Sejumlah peluang emas kembali didapat PSMS, termasuk pada masa injury time. Pada menit 90+2, kerja sama apik antara Ari Maring dan Rudiyana hampir menggandakan keunggulan. Namun, tembakan keras Rudiyana masih mampu ditepis kiper Sriwijaya FC, Rangga.
Tiga menit berselang, peluang emas kembali hadir. Dani Saputra yang berhadapan langsung dengan kiper gagal memaksimalkan peluang setelah sepakannya berhasil ditepis. Meski terus ditekan dan mendapatkan peluang bertubi-tubi hingga menit 90+9, PSMS tetap tidak mampu menambah gol. Namun, keunggulan 1-0 sudah cukup untuk memastikan tiga poin tetap di kandang.
Lepas dari Ancaman Play-off Degradasi
Kemenangan ini terasa sangat berarti bagi Ayam Kinantan. Selain memutus tren negatif tanpa kemenangan dalam lima pertandingan terakhir, tiga poin ini juga memastikan PSMS Medan terbebas dari ancaman play-off degradasi.
Tambahan poin penuh membuat PSMS kini naik ke peringkat ketujuh klasemen sementara Grup A dengan koleksi 34 poin, hasil dari sembilan kemenangan, tujuh hasil imbang, dan sembilan kekalahan. Posisi tersebut sudah cukup aman, mengingat pesaing terdekat di zona bawah, Persekat Tegal, baru mengoleksi 26 poin di peringkat kesembilan.
Di atas lapangan, kemenangan PSMS ditentukan oleh gol cepat Felipe Cadenazzi pada menit keempat. Meski hanya satu gol, laga berjalan penuh tensi dan drama, termasuk kartu merah yang diterima PSMS di babak pertama.
Pelatih kepala PSMS Medan, Eko Purdjianto, mengaku bersyukur atas hasil tersebut, meskipun timnya hanya menang dengan selisih satu gol. “Alhamdulillah, setelah beberapa pertandingan kita tidak menang, hari ini walaupun hanya 1-0 tetap kita syukuri,” kata Eko.
Namun, Eko Purdjianto juga menyoroti permainan anak asuhnya yang mengalami penurunan tempo secara signifikan. Ia menilai, setelah unggul 1-0, PSMS Medan sebenarnya masih mampu mengendalikan jalannya pertandingan dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Sayangnya, berbagai kesempatan tersebut gagal dimaksimalkan menjadi gol tambahan.
“Sebenarnya kita punya banyak peluang, tapi setelah gol pertama pemain seperti takut salah sehingga tidak berkembang sesuai karakter,” katanya.
Ia juga menyoroti kartu merah yang diterima Antoni Nugroho di penghujung babak pertama. Baginya, hal tersebut seharusnya tidak perlu dilakukan. “Kartu merah itu tidak perlu, tapi inilah sepak bola. Yang penting saya apresiasi pemain karena tidak pernah menyerah sepanjang pertandingan. Kita bisa clean sheet dan meraih tiga poin,” tambahnya.
Sementara itu, kapten PSMS Medan, Erwin Gutawa, turut mengungkapkan rasa syukur atas kemenangan tersebut dan memberikan apresiasi kepada suporter yang hadir. “Terima kasih kepada suporter yang sudah datang mendukung kami. Semoga di pertandingan berikutnya melawan Adhyaksa FC, dukungan tetap diberikan agar kami bisa kembali meraih tiga poin,” katanya.
Terpisah, pelatih Sriwijaya FC, Iwan Setiawan, tetap memberikan apresiasi terhadap jalannya pertandingan meski timnya harus pulang tanpa poin. “Selamat untuk PSMS Medan atas kemenangan ini. Pertandingan cukup menarik, kedua tim punya karakter yang sama militan, disiplin, dan tidak mau kalah,” ujarnya.
Namun, ia menyayangkan kegagalan timnya dalam memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di babak kedua. Menurut Iwan Setiawan, situasi tersebut seharusnya menjadi peluang emas untuk menekan dan membalikkan keadaan. Sayangnya, momentum itu tidak mampu dimaksimalkan, bahkan justru berbalik menjadi kerugian setelah timnya ikut kehilangan satu pemain dan harus


