Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyampaikan perhatian terhadap kejadian kerusuhan suporter dalam laga Persijap Jepara melawan Persis Solo. Ia menilai bahwa suporter sepak bola seolah telah melupakan memori kelam Tragedi Kanjuruhan yang menjadi bagian dari sejarah menyakitkan di dunia sepak bola.
Baru-baru ini, kerusuhan suporter kembali menjadi perhatian setelah terjadi insiden tidak menyenangkan dalam pertandingan antara Persijap Jepara dan Persis Solo. Pertandingan ini berlangsung di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, pada Kamis (5/3/2026), dengan skor akhir 0-0. Meskipun hasilnya imbang, fokus utama adalah pada kerusuhan yang terjadi.
Sejak awal pertandingan, sudah terasa adanya ketegangan antara suporter kedua tim. Situasi semakin memanas hingga terjadi kerusuhan, bahkan pagar pembatas suporter Solo dan tribun VIP nyaris roboh. Suporter saling melempar botol dan merusak fasilitas umum, sehingga mengancam keselamatan jiwa.
Arya Sinulingga mengingatkan bahwa Tragedi Kanjuruhan, yang menewaskan 135 orang, merupakan catatan paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Namun, ia menilai bahwa insiden tersebut belum memberikan efek jera kepada suporter, karena kerusuhan masih sering terjadi dalam beberapa pertandingan.
“Ini suporternya lupa sama (Tragedi) Kanjuruhan dan lain-lain,” ujar Arya Sinulingga kepada awak media di Lapangan C Kawasan GBK, Jakarta. “Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga.”
PSSI telah menetapkan regulasi larangan bagi suporter tamu untuk datang ke stadion. Akan tetapi, aturan ini sering kali diabaikan oleh suporter. Dalam pertandingan Persijap vs Persis, banyak suporter tamu tetap hadir meski larangan diberlakukan.
“Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh away (tandang), tapi tetap saja dilanggar,” kata Arya. “Kemarin juga ada itu satu pertandingan away, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, ‘Ini bagus, ayo dong buka away-nya’. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu.”
Arya menegaskan bahwa emosi yang tidak terkontrol dapat merugikan klub secara finansial dan mengancam keselamatan semua pihak. Ia berharap suporter bisa menjaga sikap baik selama berada di stadion, baik saat masuk maupun saat keluar.
“Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka,” jelas Arya Sinulingga. “Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga.”
Saat ini, kompetisi Super League 2025/2026 sedang berada di titik rawan. Persaingan yang sangat ketat, baik di papan atas maupun bawah, memicu emosi tinggi yang mudah meledak di level suporter. Hal ini juga terjadi di Championship yang memperebutkan tiket promosi.
“Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir (musim),” ungkap Arya. “Jadi, ini kondisi rawan. Ini yang kita harapkan, mudah-mudahan. Ini perangkat pertandingan dikejar-kejar, semua dikejar-kejar, infrastruktur stadion dirusak.”
Arya menyoroti bahwa PSSI sedang melakukan diskusi intensif terkait kondisi ini. Mereka membahas lebih detail tentang situasi yang muncul, termasuk persiapan keamanan dan pengelolaan stadion.
“Mereka tidak tahu di luar pulau Jawa itu stadion saja tidak ada, sangat disayangkan punya stadion seperti itu. Ini yang sedang kami diskusikan dengan ketat, mulai dari pak Rudi dari keamanan juga sangat ketat melakukan diskusi membicarakan lebih detail mengenai kondisi ini.”
Ia menambahkan bahwa situasi ini memerlukan perhatian khusus, baik dari Liga 1 maupun Liga 2. Persaingan di papan atas dan bawah sangat ketat, sehingga perlu penanganan yang tepat untuk menghindari kerusuhan.
Buntut dari kerusuhan suporter dalam laga Persijap Vs Persis, PSSI akan memperpanjang larangan suporter away musim depan.





