Fungsi Puasa dalam Mendidik Jiwa dan Menjaga Kesehatan
Puasa bukan hanya sekadar ritual agama, tetapi juga menjadi sarana untuk mendidik jiwa manusia agar tetap berada dalam fitrahnya. Dalam perspektif Islam, puasa memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan antara puasa dengan kesehatan lambung, jantung, paru-paru, otak, dan organ-organ lainnya sangat erat.
Menurut konsep yang ditulis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam “The Concept of Education in Islam: Framework for an Islamic Philosophy of Education”, manusia terbagi menjadi dua entitas utama, yaitu: (1) jiwa dan wujud batiniahnya yang meliputi rūh, nafs, qalb, dan ‘aql; dan (2) jasad, fakultas jamaniah, serta indera-inderanya. Episentrum atau titik utama seorang manusia adalah qalb atau hati, yang merupakan pusat spiritual dan titik paling dekat dengan Allah. Qalb juga disebut sebagai fitrah, sementara ‘aql mewakili kemampuan berpikir dan memahami.
Rūh, atau jiwa, dianggap sebagai unsur ketuhanan yang bersemayam di pusat hati. Bahkan, ruh diciptakan sebelum jasad tercipta, lalu mendapat tiupan ruh, maka jadilah manusia. Ruh telah ada semenjak azali seperti adanya malaikat dan iblis, dan pada akhirnya akan tetap ada setelah hancurnya tubuh manusia. Ruh kelak akan dihadirkan pada hari pembalasan.
Komponen jiwa berikutnya adalah nafsu diri atau ego, yang melewati berbagai tahap perkembangan dan pemurnian. Nafs al-Ammārah adalah jiwa yang cenderung kepada kejahatan, tahap diri yang pertama dan paling rendah. Nafs al-Lawwāmah adalah jiwa yang mencela diri sendiri, tahap kedua yang ditandai dengan refleksi diri dan penyesalan atas perbuatan salah. Nafs al-Mutmainnah adalah jiwa dalam kedamaian, tahap tertinggi dari diri, ditandai dengan ketenangan, ridha, dan penuh kepuasan terhadap kehendak dan ketetapan Allah.
Selain itu, jiwa juga meliputi fitrah, yakni keadaan alami dan suci seseorang saat lahir; Ākhirah, atau akhirat yang melambangkan kehidupan abadi tak terbatas setelah kematian; al-Munjiyāt, berupa sarana keselamatan, tindakan, dan praktik yang mengarah pada keamanan, kebahagiaan, dan kesuksesan spiritual; Tazkiyah an-Nafs, atau penyucian diri, suatu proses pembersihan hati dan jiwa dari penyakit rohani melalui program dan proses pendidikan; Tahzīb al-Ahlāq, yakni penyempurnaan akhlak, perbaikan akhlak dari perilaku tercela seseorang, mencakup pendidikan sebagai ta’dib atau menanamkan ilmu dan iman.
Jihād an-Nafs merupakan perjuangan melawan diri sendiri, melawan hasrat yang merusak dan membinasakan, dan berusaha mengikuti dorongan batin untuk mencapai pertumbuhan spiritual. Pada medan ini terjadi pertempuran hebat antara kekuatan setan yang ingin menjerumuskan dengan tuntunan wahyu. Jika tarikan setan lebih kuat, maka akan berada pada kuasa golongan iblis, jika pengaruh tuntunan wahyu lebih besar, maka akan berada pada teritorial fitrah dan para malaikat.
Syaithān merupakan sebuah entitas—manusia dan jin—yang selalu menggoda dan mengarahkan ke arah kejahatan, dan segala bentuk dosa. Ghaflah, atau keadaan lalai, lupa dan asyik dengan berbagai gangguan duniawi, disebabkan karena pengaruh dan gangguan setan. Dunyā, yakni dunia material tempat kita tinggal saat ini, dan kesenangan serta gangguan yang hakikatnya bersifat sementara. al-Muhlikāt, berupa bahaya terhadap jiwa, unsur-unsur yang membahayakan kesejahteraan rohani dan mengakibatkan kemerosotan akhlak jiwa dan raga.
Segenap komponen jiwa dan raga setiap manusia pada akhirnya dapat dibaca dari orientasi hidup masing-masing. Jika tujuan utama hidupnya adalah untuk kesenangan duniawi yang bersifat materialistik semata, maka setiap langkahnya akan didukung oleh setan dan ketenangan dan kepuasaan jiwa dan raganya semua terkait dengan perhiasaan dunia. Sebaliknya, jika orientasi hidupnya untuk akhirat, mengabdi, menghamba, atau beribadah kepada Allah, maka segenap amal ibadahnya semua dipersembahkan untuk keperluan dan kepentingan di alam akhirat.
Komponen-komponen di atas merupakan unsur-unsur yang terdapat pada jiwa, dan memang itulah sasaran utama pendidikan dalam Islam. Namun, tidak berarti meninggalkan pendidikan bersifat jasmani, sebab tubuh juga harus dididik dengan pendidikan islami yang membuat tubuh berjalan seiring dengan hukum-hukum syariat, membiasakan diri bergerak untuk keshalehan, sehingga dengan mudah mampu menjalankan apa yang ditetapkan oleh Allah.
Kebutuhan manusia akan syahwat perut dan “di bawah perut” itulah yang menjadi muhlikāt atau menjerumuskan ke jurang kenistaan. Jika tidak mendapatkan pendidikan, niscaya akan bermaksiat terhadap Rabbnya dan kelak, akan mendapat siksa. Maka, di antara tujuan utama pendidikan jasadiyah dalam Islam adalah untuk membantu manusia menjalankan kewajiban agama, meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah, serta menerima apa yang diridhaiNya, dan pada tahap tertentu merasa tergantung, dan butuh untuk berbuat kebaikan.
Pada tahap ini, ibadah puasa sangat efektif dalam meredam syahwat manusia yang berorientasi pada kerusakan jiwa dan raga. Dengan puasa, manusia mampu meredam dan mengatur keinginannya, terutama syahwat perut dan di bawah perut. Sebab hal-hal yang halal saja tidak dibolehkan pada waktu tertentu yakni sejak terbit matahari hingga tenggelam, apalagi memang perkara syubhat dan haram, tentu harus dicampakkan jauh-jauh.
Puasa merupakan sarana efektik meredam nafsu yang mengarah kepada kebinasaan di bawah kendali setan dan pada akhirnya menggiring manusia pada level paling hina yakni nereka, tempat ini, bukan asal muasal manusia. Melalui sarana puasa, jiwa kotor penuh noda akan terkikis. Nafsu tercela seperti serakah, takabbur membanggakan diri sekaligus merendahkan orang lain, dengki, sirik terhadap kejayaan orang lain dan berangan-angan agar orang sengsara.
Puncaknya, menjadi psikopat sebab dirinya hanya bahagia ketika orang lain sengsara, dan akan sengsara melihat orang lain bahagia. Berbagai jalan ditempuh untuk menyiksa orang, termasuk membuat laporan dan tuduhan serta sumpah palsu demi menghukum orang lain melalui Aparat Penegak Hukum. Bahkan, jika perlu bekerjasama dengan jin untuk membuat orang sengsara, memisahkan suami istri, bahkan menyakiti hingga mengakibatkan kematian. Itu semua akibat jiwa yang dikendalikan nafsu setan. Jika puasa tidak mampu meredam nafsu jahat semacam itu, berarti belum mencapai tujuan ideal syariat puasa.
Sebab, derajat akhir dari puasa adalah taqwa yang pada prinsipnya lebih dekat kepada kesehatan jiwa, sebab jiwa yang takwa adalah mereka yang selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya, jangan sampai terjerumus dalam perkara maksiat dan kemungkaran. Ibarat berjalan di jalanan penuh duri pada malam gelap gulita. Kata Ali bin Abi Thalib, “Taqwa itu takut pada Allah, mengamalkan al-Qur’an, dan memiliki persiapan untuk perjalanan panjang di hari akhirat, [al-khauf bil jaliil, al-‘amal bit-tanziil, wal isti’daad liyaum ar-rahiil]”. Selamat menjalankan Ibadah Puasa!.




