Kehidupan Seorang Penjual Kerupuk yang Berjuang untuk Menunaikan Ibadah Haji
Seorang penjual kerupuk keliling di Jombang, Sutaji, telah menjalani perjalanan panjang selama beberapa dekade demi mewujudkan impian berhaji. Pria berusia 66 tahun ini tercatat sebagai Calon Jemaah Haji (CJH) yang akan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026. Impian ini tidak hanya menjadi harapan pribadi, tetapi juga bukti ketekunan dan kesederhanaan yang ia pegang sejak puluhan tahun lalu.
Perjalanan Awal yang Mulai dari Nol
Sutaji lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Dari usia muda, ia sudah mengenal dunia jual beli kerupuk. Sejak belum menikah, ia mulai berjualan kerupuk dengan cara sederhana, yaitu berkeliling kampung dan mendatangi warung-warung kecil. Tidak ada etalase mewah atau kendaraan bermotor, hanya sepeda pancal dan tekad yang tak pernah padam.
Pada awal 1980-an, Sutaji menikahi Siti Hana (62), seorang perempuan asal Budug. Dari pernikahan ini, mereka membangun rumah tangga yang penuh dengan rasa cinta dan kebersamaan. Sejak awal menikah, Sutaji memiliki satu impian besar, yaitu bisa menunaikan ibadah haji. Impian ini tumbuh diam-diam dalam hatinya, tanpa pernah ia ungkapkan kepada banyak orang.
Kesabaran dan Ketekunan yang Tak Pernah Berhenti
Dari tahun ke tahun, rutinitas Sutaji nyaris tidak berubah. Setiap pagi, saat matahari masih belum terbit, ia sudah bersiap untuk berjualan. Ia mengayuh sepeda ontel tuanya, membawa dua keranjang besar berisi kerupuk. Dari gang-gang di Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, ia menjajakan dagangannya ke berbagai warung.
Pada era 1980-an, penghasilannya hanya sekitar Rp 1.000 per hari. Namun, dari jumlah yang tergolong kecil, Sutaji disiplin menyisihkan Rp 200 untuk ditabung. Uang itu bukan untuk membeli barang, melainkan untuk menyimpan harapan. Meski penghasilannya naik drastis hingga mencapai Rp 100.000 per hari di tahun 2026, ia tetap membagi hasilnya. Separuh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan sisanya kembali masuk tabungan dengan niat yang sama seperti dulu.
Mendaftar Haji, Impian yang Akhirnya Terwujud
Pada 2012, istri Sutaji lebih dulu mendaftar haji. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2019, Sutaji menyusul setelah berhasil mengumpulkan biaya dari hasil kayuhan sepedanya. Kini, pasangan suami istri ini tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026.
Menariknya, Sutaji tidak pernah mengumbar mimpi besarnya kepada banyak orang. Ia memilih menyimpannya dalam doa dan kerja keras. Kepada teman-teman sesama pedagang, ia hanya meminta restu. “Teman-teman saya cuma bilang, semoga lancar berangkat dan pulang. Itu sudah cukup,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Pelajaran Hidup yang Menginspirasi
Bagi Sutaji, kisah hidupnya bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia percaya bahwa jika seseorang memiliki niat baik, Allah SWT akan memberikan jalan yang mudah.
“Kami hanya bisa mendoakan yang lain. Siapapun yang punya niat baik, semoga Allah SWT mudahkan jalannya,” pungkas Sutaji dengan penuh keyakinan.





