Tren Impor Indonesia yang Berubah Drastis
Pengaruh China terhadap rantai pasok perdagangan internasional Indonesia semakin jelas terlihat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor nonmigas dari Negeri Panda meningkat signifikan pada tahun 2025, mencapai angka US$86,99 miliar atau naik sebesar 21,4% secara tahunan. Hal ini menyebabkan peningkatan pangsa pasar produk China di Indonesia dari 36,29% pada 2024 menjadi 41,60% pada 2025.
Perubahan ini terjadi di tengah penurunan peran mitra dagang tradisional seperti Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara (Asean). Misalnya, impor dari Jepang turun dari US$14,86 miliar menjadi US$14,42 miliar (pangsa pasar turun dari 7,53% ke 6,90%). Sementara itu, impor dari Korea Selatan juga mengalami penurunan, dari US$8,67 miliar menjadi US$7,61 miliar (pangsa pasar turun dari 3,36% ke 4,10%). Impor dari Asean turun dari US$34,60 miliar menjadi US$32,46 miliar (pangsa pasar turun dari 17,50% ke 15,53%), dan impor dari Uni Eropa juga turun dari US$14,01 miliar menjadi US$12,63 miliar (pangsa pasar turun dari 5,93% ke 6,40%).
Ketergantungan yang Menimbulkan Kekhawatiran
Kondisi ini memicu kekhawatiran dari kalangan ekonom hingga think-tank pemerintah. Ketergantungan yang terlalu dalam pada satu negara dinilai dapat meningkatkan kerentanan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal serta berisiko menggerus kedaulatan kebijakan luar negeri Indonesia.
Menurut Deni Friawan, peneliti senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), fenomena ini terjadi secara alami akibat struktur industri nasional yang mengalami hollow middle atau kekosongan di sektor industri antara. “Industri kita hollow middle, tidak ada di tengahnya. Karena kita tidak punya manufaktur yang dalam dan saling terkait, kita rely on komoditas. Jadi mau tidak mau kita akan mengimpor dari negara lain,” ujarnya.
Deni menjelaskan bahwa pilihan logis bagi industri domestik saat ini jatuh pada China karena barang modal maupun bahan baku dari Jepang dan Korea Selatan relatif lebih mahal. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) lebih fokus pada jasa dan teknologi, sedangkan perkembangan industri Uni Eropa dinilai lambat.
Risiko yang Mengancam
Meski harga murah menjadi daya tarik utama, Deni memperingatkan risiko besar di balik kenyamanan tersebut. Ketergantungan pada satu poros kekuatan membuat ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan di Negeri Tirai Bambu. “Kalau ekonomi China melambat karena masalah properti dan excess supply atau over production, ya kita jadinya akan sangat tergantung itu. Kalau China turun, mau tidak mau kita ikut turun,” tegasnya.
Selain risiko ekonomi, Deni juga menyoroti potensi tergerusnya fleksibilitas Indonesia dalam mengambil sikap di panggung global. Ketergantungan berlebihan pada satu negara bisa membatasi opsi kebijakan luar negeri yang diambil oleh pemerintah.
Langkah untuk Diversifikasi Rantai Pasok
Tampaknya, pemerintah menyadari bahaya ketergantungan ini. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyoroti risiko fragmentasi ekonomi global yang kian nyata. Ia mengatakan, kekhawatiran terbesar pelaku usaha saat ini adalah gangguan rantai pasok akibat tensi geopolitik dan potensi banjir impor barang China ke negara ketiga, termasuk Indonesia.
“Ketakutan akan peningkatan impor dari China dan negara ketiga muncul karena mereka mencari pasar baru setelah tidak bisa mengekspor ke AS,” jelas Mari dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Mari menegaskan bahwa respons kebijakan Indonesia tidak bisa lagi business as usual. Strategi utama untuk memitigasi risiko adalah diversifikasi mitra dagang. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat integrasi ekonomi di kawasan lewat Asean dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), sekaligus mempercepat penyelesaian perjanjian dagang bilateral dengan pasar non-tradisional.
“Cara merespons risiko tinggi adalah diversifikasi. Kita diversifikasi mitra dagang dengan Uni Eropa [IEU-CEPA], aksesi ke OECD, serta perjanjian dengan Kanada dan negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS. Semuanya memiliki potensi pembukaan akses pasar dan peluang untuk rekonfigurasi rantai pasok,” jelas Mari.




