Perubahan Fungsi Rawa Semando dan Dampaknya pada Masyarakat

Rawa Semando yang memiliki luas sekitar 136 hektare kini mengalami perubahan fungsi yang signifikan. Sebagian besar area rawa telah berubah menjadi tambak liar yang dikelola oleh masyarakat selama beberapa dekade terakhir. Perubahan ini menyebabkan fungsi utama rawa sebagai kawasan penampungan air semakin berkurang.

Banyak area rawa kini dipenuhi pematang dan sekat tambak, sehingga mengurangi kapasitas penampungan air. Warga dan petani setempat mengeluhkan dampak dari alih fungsi tersebut, seperti menurunnya kemampuan rawa dalam menyerap air, gangguan aliran air ke persawahan saat musim kemarau, serta meningkatnya risiko banjir.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa banyak area rawa telah dibatasi menggunakan pematang tanah untuk memisahkan kepemilikan tambak. Bahkan, sebagian pengelola tambak hanya memasang pirik atau pagar sederhana sebagai pengganti pematang untuk menandai area budidaya ikan mereka.

Keberadaan pematang dan sekat-sekat tambak tersebut disebut berdampak langsung terhadap kapasitas tampung air di kawasan rawa. Volume air yang seharusnya dapat tertampung luas kini berkurang karena terbagi oleh petak-petak tambak liar.

Warga sekitar menyebut perubahan fungsi rawa sebenarnya telah berlangsung cukup lama dan terjadi secara bertahap. Awalnya hanya sebagian kecil lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar, namun lambat laun hampir seluruh kawasan rawa berubah menjadi area tambak.

“Sekarang hampir penuh tambak semua. Dulu masih banyak area terbuka untuk tampungan air, sekarang sudah banyak pematang,” ujar seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap fungsi ekologis rawa, terutama saat musim hujan. Sebagai kawasan cekungan air, rawa semestinya berperan membantu menampung limpasan air agar tidak memicu genangan maupun banjir di wilayah sekitar. Namun dengan banyaknya pematang dan pembagian lahan, aliran air dinilai tidak lagi bebas seperti sebelumnya.

Sejumlah petani di sekitar kawasan rawa juga telah lama mengeluhkan dampak yang dirasakan akibat berkurangnya fungsi tampungan air tersebut. Mereka mengaku distribusi air menuju area persawahan tidak lagi maksimal, terutama saat musim kemarau mulai datang lebih awal.

“Kalau dulu air masih mudah masuk ke sawah, sekarang banyak tertahan karena sudah dibagi-bagi tambak. Saat kemarau petani yang kesulitan,” kata salah seorang petani Ahmad S.

Selain persoalan air, petani juga mengaku khawatir jika kondisi rawa terus menyempit akibat pemanfaatan tambak liar tanpa penataan yang jelas. Mereka menilai keberadaan rawa memiliki peran penting sebagai penyangga pertanian di wilayah sekitar Babat dan sebagian wilayah Kecamatan Sekaran.

Para petani berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penataan kawasan rawa agar fungsi utamanya sebagai tampungan air tetap terjaga. Mereka juga meminta adanya pendataan ulang terhadap tambak-tambak liar yang selama ini berdiri di kawasan tersebut.

“Harapannya ada solusi dari pemerintah. Jangan sampai rawa hilang total karena dampaknya nanti kembali ke masyarakat juga,” ujar petani lainnya.

Meski praktik alih fungsi rawa menjadi lahan tambak telah berlangsung selama puluhan tahun, hingga kini belum pernah ada langkah eksekusi besar dari pemerintah untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut. Warga menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejauh ini belum pernah melakukan penertiban menyeluruh terhadap tambak liar yang berdiri di kawasan rawa tersebut.

Akibatnya, aktivitas budidaya ikan terus berjalan dan bahkan berkembang semakin luas. Di sisi lain, sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan dari aktivitas tambak di kawasan rawa itu. Kondisi tersebut membuat persoalan alih fungsi lahan dinilai cukup kompleks karena menyangkut aspek ekonomi warga sekaligus keberlangsungan fungsi lingkungan.

Diperlukan langkah penataan yang jelas agar fungsi rawa sebagai kawasan resapan dan tampungan air tetap terjaga tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat sekitar. Apalagi, kawasan rawa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk mengurangi risiko banjir serta menjaga ketersediaan air saat musim kemarau, seperti saat ini.

Hingga kini, keberadaan tambak liar di Rawa Semando masih terus berlangsung dan menjadi persoalan yang belum menemukan solusi pasti.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version