Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Serial Legenda Bertuah
Buto Ijo atau raksasa hijau yang penuh amarah mengayunkan tangannya saat tenggelam dalam lautan lumpur cokelat. Tampaknya, Buto Ijo dari cerita rakyat Jawa Legenda Timun Mas ini seperti karakter yang dirancang oleh seorang animator. Namun, bila dilihat lebih dekat, mungkin Anda menyadari bahwa video tersebut dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Adegan-adegan itu merupakan bagian dari salah satu episode program Legenda Bertuah, serial televisi pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan AI untuk menciptakan gambar bergerak. Season satu Legenda Bertuah, yang terdiri dari 14 episode, tayang pada bulan Januari di TRANS7.
Meskipun negara lain termasuk China telah membuat acara televisi yang sepenuhnya dibuat oleh AI, serial Legenda Bertuah bisa jadi menandai sejarah televisi Indonesia, yang memicu reaksi beragam dari penonton. Setiap episode, yang juga dapat ditonton online, menceritakan sejumlah cerita rakyat Indonesia.
Beberapa netizen mengungkapkan pendapat positif tentang program ini. “Keren sih, lumayan refresh dan nambah wawasan terkait legenda-legenda di Indonesia, biar anak-anak Gen Z dan Alpha juga bisa tahu,” tulis seorang netizen di salah satu posting Instagram @legendabertuah.trans7. Netizen lainnya juga menyebut Legenda Bertuah sebagai “program TV AI berkualitas.”
Namun, tidak semua orang setuju. “Ekspresi dan suku bahasanya kaku banget, kelihatan AI-nya. Salah satu kelemahan AI ya itu, kinerja manusia tidak bisa di ganti oleh AI,” tulis netizen. “Kayak negara ini kekurangan animator aja, Anda jatuh miskin kah sampai enggak bisa ngerekrut animator atau yang kuliahnya bikin-bikin animasi atau ilustrasi untuk menceritakan dongeng??!” tulis netizen lainnya.
Penjelasan dari Kepala Departemen Magazine and Information TRANS7
Kepala Departemen Magazine and Information TRANS7, Mira Khairunnisa, membantah alasan utama mereka memilih menggunakan AI adalah untuk menghemat budget. “Enggak murah-murah juga lho produksi [program televisi] AI itu gitu. Jadi bukan ke situ sebenarnya goals-nya,” katanya. “Memang kita melahirkan [program] ini bukan dalam rangka efisiensi cost atau apa segala macam sih enggak, melihatnya as a new tool yang bisa dikembangkan dalam kita memproduksi sebuah konten.”
Mira mengatakan butuh waktu satu bulan bagi departemennya untuk memproduksi satu episode. Ia mengatakan sekitar 10 orang mengerjakan program tersebut. “AI enggak akan bisa kerja sendiri, tetap saja dia dibutuhkan manusia di belakangnya,” ujarnya. “Jadi AI tidak menghilangkan pekerjaan malah justru muncul pekerjaan baru. So there’s nothing to be worried about [tidak ada yang perlu dikhawatirkan].”
Proses Pembuatan Episode dengan Bantuan Prompt Engineer
Menurut Mira, proses pembuatan setiap episode dimulai dengan pembuatan storyboard, pemilihan gambar, penulisan skrip, dan penyuntingan video, yang semuanya dilakukan oleh manusia. Perusahaan ini juga mempekerjakan ‘prompt engineer’ dari berbagai latar belakang pekerjaan seperti operator kamera dan IT, yang memberikan arahan kepada software AI untuk membuat gambar bergerak.
‘Prompt engineer’ ini menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan gambar atau ‘stills’ untuk setiap adegan, sebagai panduan visual agar animasinya tetap konsisten. ‘Stills’ tersebut kemudian dijadikan produk video menggunakan Google Veo. Suara, warna, dan pencahayaan dari video ini kemudian diedit oleh produser lagi.
Mira juga mengatakan mereka juga berkonsultasi dengan konsultan sejarah atau cerita rakyat untuk memastikan naskah dan interpretasi visualnya akurat. “[Kami melakukan pengecekan fakta] sesuai setting zamannya, kemudian setting tempatnya, daerahnya,” katanya. “Jadi harus seotentik itu, every detail di dalam frame itu kita jaga keotentikan yang kita sajikan di layar.”
Pandangan dari Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI)
Dermawan Syamsuddin, dari Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) membantah gambar bergerak yang dihasilkan oleh AI dalam program tersebut dapat disebut animasi. Ia mengatakan gerakan dan akting karakter-karakter tersebut “berlebihan.” “Secara kategori visual, ini enggak masuk ke konten animasi, karena tidak menggunakan gaya animasi pada tampilannya, kayak cartoony, [yang adalah] ciri khas animasi secara global,” katanya.
Pertanyaan Etis dan Dampak pada Industri Kreatif
Satriaddin Maharinga, seorang sutradara, aktor, dan penulis film yang juga dikenal sebagai Arie Kriting, mengatakan program tersebut menimbulkan kekhawatiran di industri kreatif dan memunculkan pertanyaan etis. Ia mengatakan butuh keterampilan khusus untuk memproduksi konten animasi, dan ada pekerja animasi yang telah bertahun-tahun menggeluti bidangnya untuk mengembangkan keahlian mereka.
Tidak ada data di Indonesia tentang berapa banyak pekerjaan yang mungkin hilang atau bertambah berkat penggunaan AI di sektor ini. Sebagai seorang pekerja seni, Arie mengatakan implikasi penggunaan AI harus didefinisikan dengan jelas sebelum digunakan. “Mungkin kalau dari sudut pandang etika sebagai seorang seniman yang mana ini artinya pengamatan saya secara personal, menurut saya sebelum sesuatu itu jelas penggunaannya, apalagi dia menjadi banyak concern dari pekerja seni, maka sebaiknya dihindari dulu lah buat saya.”
Pandangan dari Franklin Darmadi dan Irvan Satya Prana
Franklin Darmadi, sutradara film dan CEO Wokcop Pictures, mengatakan kepada ABC Indonesia bahwa AI memang membantu, tetapi “tidak bisa 100 persen digantikan AI.” “Kalau secara pribadi, saya merasa AI itu harus tetap ada human touch-nya,” katanya. Franklin, yang saat ini sedang memproduksi film drama keluarga, mengatakan ia telah menggunakan AI untuk mencari informasi umum dan untuk hal seperti menghilangkan objek yang tidak diinginkan dari background sebuah adegan.
Irvan Satya Prana, dari Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), mengatakan pekerjaan di bidang animasi dan desain sudah terdampak oleh AI. “Mahasiswa saya, alumni, komunitas secara apa general memang menyampaikan ke saya bahwa ya lebih sulit hari ini bekerja, banyak lay-off,” katanya. Ia mengatakan para pekerja seni saat ini sedang ada dalam masa transisi.
Regulasi AI yang Rumit
Indonesia memiliki strategi AI nasional, yang dikenal sebagai Stranas KA, yang mencakup etika dan kebijakan tetapi bukan dokumen yang mengikat secara hukum. Pemerintah juga telah mengisyaratkan pihaknya mungkin akan merevisi undang-undang hak cipta negara untuk mencakup konten yang dihasilkan AI, yang akan mencakup peraturan untuk melindungi pekerja seni.
Arif Perdana, pakar strategi digital dan ilmu data di Monash University Indonesia, mengatakan menciptakan regulasi seputar AI adalah hal yang “rumit.” “Kalau undang-undang itu terlalu keras masalahnya akan menghambat inovasi, terlalu lemah, terlalu lenient juga akan berbahaya buat publik,” katanya. “Itu harus balance, sesuatu hal yang tricky di public policy.”
Juru bicara Kementerian Ekonomi Kreatif mengatakan pemerintah mempercepat pekerjaan untuk beralih dari pedoman “moral” ke “regulasi yang memiliki kekuatan hukum mengikat.” “Kemenekraf juga aktif mengampanyekan pentingnya etika penggunaan AI di industri kreatif guna meminimalkan risiko efisiensi yang berujung pada PHK massal, dan memastikan adanya standar imbal jasa yang adil bagi kreator yang karyanya bersinggungan dengan ekosistem digital berbasis kecerdasan buatan,” ujar juru bicara Kemenkraf. “AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia, sehingga keputusan kreatif utama tetap berada di tangan manusia.”





