Realitas Pahit di Balik Upah Buruh Pengupas Bawang
Potret buruh pengupas bawang di berbagai daerah menunjukkan realitas yang sangat ironis. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, pekerjaan ini masih menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat, meski dengan upah yang tergolong rendah.
Jogja: Rp3.000 per Kilogram
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pengupas bawang hanya dibayar Rp3.000 per kilogram. Ngatiyem, seorang buruh pengupas bawang yang telah bekerja lebih dari 10 tahun, membantah angka yang disebutkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, Jumat (14/8/2026). Menurutnya, upah yang diterimanya jauh dari kata sejahtera.
Pekerjaan ini sangat bergantung pada titipan pedagang besar atau hotel yang membutuhkan jasa kupas bersih. Dalam sehari, Ngatiyem dan rekan-rekannya biasanya hanya mampu mengupas maksimal 10 kilogram bawang. Dengan upah Rp3.000 per kilogram, penghasilan kotor maksimal hanya Rp30.000 per hari.
“Sehari 10 kilogram, tapi tidak langsung 10 kilogram selesai. Nanti kalau misalnya masih banyak bawangnya, dilembur saat malam saat pasar sudah tutup,” katanya.
“Itu pun 10 kilogram tidak dikerjakan sendiri, masih dibagi untuk dua atau tiga orang, tergantung situasinya, karena satu kilogramnya cuma Rp 3.000,” tambahnya.
Meskipun demikian, Ngatiyem tetap mensyukuri pendapatannya itu. Terpenting baginya, uang itu ia dapatkan dengan cara yang halal. “Disyukuri saja diberi sehat dan waras, rezeki sedikit yang penting halal dan berkah.”
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain bekerja sebagai pengupas bawang, Ngatiyem juga menjajarkan sayuran seperti kangkung dan bayam.
Solo: Rp10.000 per Karung
Sementara itu, di Kota Solo, Jawa Tengah, pengupas bawang di Pasar Legi hanya dibayar Rp10.000 per karung. Gini (53), seorang buruh pengupas bawang, mengatakan bahwa pekerjaan tersebut dilakukannya untuk bertahan hidup di tengah usianya yang semakin senja.
Setiap pagi, Gini datang ke Pasar Legi mengambil karung bawang yang tersedia untuk dikupas. “Saya sudah lama ngupas bawang di Pasar Legi. Sudah tiga tahunan. Mau kerja apa bingung, sudah tua,” katanya.
Ia memerlukan waktu hingga berjam-jam untuk mengupas bawang, namun hanya dihargai Rp10.000 per karungnya. Satu karung bawang yang biasanya dikerjakan Gini berisi sekitar 20 kilogram. “Satu karung bawang itu Rp10 ribu, bukan kiloan,” ungkapnya.
Dalam sehari, ia hanya mampu menyelesaikan sekira tiga karung bawang. “Biasanya hanya selesai tiga karung, dengan upah Rp30 ribu per hari,” tuturnya.
Sukabumi: Rp10.000 per Karung
Sama seperti di Kota Solo, buruh pengupas bawang di Kota Sukabumi, Jawa Barat juga hanya dibayar Rp10.000 per karungnya. Yeyet, seorang buruh pengupas bawang di Pasar Tipar Gede, Kota Sukabumi, mendapatkan bayaran itu setelah selesai memisahkan bonggol dengan bawangnya.
Per harinya, Yeyet bisa menyelesaikan tiga hingga empat karung bawang putih, dengan berat sekira 20 kilogram untuk setiap karungnya. “Satu hari kuatnya 3 atau 4 karung, dapat upahnya dihitung per karung. Satu karung itu Rp 10.000,” katanya.
Untuk setiap harinya, Yeyet mendapatkan penghasilan Rp40.000 dari empat karung bawang putih yang ia kupas. Uang tersebut menjadi sumber penghasilan Yeyet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun dari uang itu, Yeyet harus menyisakan sekira Rp15.000 untuk membayar ongkos ojek dan angkutan kota.
“Upahnya nanti suka buat ongkos kesini, bayar ojek 10 ribu terus naik angkot Rp5.000. Alhamdulillah sisanya mah suka dibelikan beras 2 liter mah,” terang Yeyet.





