Kesalahan Pemahaman Mengenai Kondisi Vegetatif
Saya pernah berburuk sangka terhadap beberapa orang, termasuk James Rachman Radjimin, almarhum Ali Mahakam, dan Sindunata Sambhudi. Ketika mereka dalam kondisi vegetatif, saya mengira hidupnya seperti tanaman atau sayuran. Persepsi itu sangat negatif.
Pada hari pemakaman James Rachman Radjimin di Hotel JW Marriott Surabaya, saya meminta maaf kepada mereka—teman-teman saya. Ini menunjukkan bahwa saya juga sempat berburuk sangka terhadap ilmu pengetahuan. Istilah “vegetatif” sebenarnya tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang sedang sakit. Menurut berbagai literatur, istilah ini justru digunakan untuk menghormati kehidupan.
Secara etis, hal ini penting—terutama di zaman yang serba “wani piro” ini. Dokter tidak akan memenuhi permintaan keluarga untuk euthanasia. Alasannya, batang otak orang yang dalam kondisi vegetatif masih hidup. Etika medis juga melarang pengambilan organ dari seseorang yang dalam kondisi ini. Jika hati atau ginjal diambil, bisa mengancam kehidupan mereka. Nisa, misalnya, mendonorkan separo hatinya untuk suami karena ilmu pengetahuan sudah memastikan tidak mengancam jiwa Nisa.
Perawatan Intensif Selama Delapan Tahun
Anita, istri Radjimin, terus merawat suaminya dengan perawatan terbaik. Awalnya, dokter-dokter dari berbagai negara diterbangkan ke Surabaya, tetapi semua gagal. Setelah semua dokter menyerah, Anita membawa Radjimin pulang. Salah satu kamar di rumahnya diubah menjadi ICU dengan peralatan lengkap. Perawat dari rumah sakit datang 24 jam sehari, bergantian. Selama delapan tahun, Radjimin dirawat dengan sangat baik.
Saya pernah menengok ke “ICU” itu. Wajah Radjimin terlihat segar, agak tersenyum, kulitnya mulus dan segar. Ia telentang, tidak bergerak. Setiap hari, ia diberi makan tiga kali melalui selang langsung menuju lambung. Makanan dibuat sendiri berdasarkan resep dokter, seperti campuran tepung beras dan ikan gabus, sayur dicampur buah, atau kacang hijau. Semua bahan dilembutkan dan dimasak.
Radjimin hanya makan yang penting-penting, bukan berdasarkan rasa. Pencernaannya bersih, sehingga tidak perlu bekerja keras. Ia tidak pernah salah makan seperti kita, yang sering tergoda oleh rasa. Karena itu, delapan tahun dalam kondisi vegetatif, Radjimin hampir tidak pernah sakit. Hanya pernah terkena Covid dan dirawat di rumah sakit, lalu sembuh.
Obat dan Kesehatan Radjimin
Obat yang ia minum hanya Nexium, obat anti-infeksi. Orang vegetatif memang rentan infeksi. Tidak ada obat lain selain suplemen seperti maltifer fol, yang mengandung zat besi dan asam folat. Obat ini biasa diberikan kepada orang anemia.
Awal Desember lalu, tekanan darahnya turun, lalu kreatininnya meningkat. Keadaannya turun naik hingga akhirnya meninggal dunia pada 6 Januari lalu.
Kehidupan Radjimin Sebelum Kondisi Vegetatif
Saya tidak menyangka kalau Radjimin tidak tamat SMA. Saya tahu ia sangat intelektual, tapi baru kenal ketika ia sudah sukses. Ia memiliki Hotel Westin yang sekarang menjadi JW Marriott. Banyak orang sekolah dulu untuk sukses, tetapi Radjimin sukses dulu baru kuliah. Ia kuliah jarak jauh di universitas Xiamen, jurusan sastra Mandarin. Bahkan ia ambil S-2 di universitas yang sama. Dosen-dosennya terbang ke Surabaya, dan akhirnya Radjimin menjadi ketua alumni universitas itu.
Reflek dan Kesadaran
Meski dalam kondisi vegetatif, keluarga merasa senang karena air mata Radjimin meleleh saat istrinya membisikkan sesuatu. Secara ilmu kedokteran, orang vegetatif bisa melelehkan air mata, tetapi itu bukan dari kesadaran. Itu adalah reflek. Telinga dan saluran pendengaran masih berfungsi, tetapi tanpa kesadaran. Jantung bisa berdetak tanpa alat bantu, tetapi secara otomatis karena batang otak masih hidup.
Setiap keluarga dan anak yang menengoknya selalu membisikkan sesuatu. Bertahun-tahun, bahkan saat ulang tahun pun dilakukan di ICU. Dari pengalaman ini, saya bisa membedakan bahwa reflek itu terjadi di luar kesadaran. Maka, negara tidak bisa dipegang oleh orang-orang vegetatif karena program-programnya didasarkan pada reflek.
