Wisata Kuliner Legendaris di Wonogiri yang Wajib Dicoba
Jika kamu sedang merencanakan wisata kuliner di Wonogiri, jangan lewatkan deretan kuliner legendaris yang sudah menjadi favorit banyak orang. Tidak hanya terkenal karena sudah berjualan sejak lama, tempat-tempat makan ini juga memiliki cita rasa autentik yang membuat pelanggan setianya kembali lagi.
Berikut adalah beberapa rekomendasi kuliner legendaris di Wonogiri, Jawa Tengah, yang wajib masuk daftar cobamu:
1. Nasi Tiwul Mbok Sembleng, Hanya Buka di Malam Pon dan Kliwon, Sejak 1991
Di wilayah Wonogiri bagian selatan, yakni Kecamatan Giriwoyo, terdapat sebuah kuliner legendaris yang wajib dicoba, yaitu Nasi Tiwul Mbok Sembleng. Lokasinya ada di Dusun Saratan RT 003/RW 005, Desa Sejati, Giriwoyo, Wonogiri.
Warung tersebut sudah cukup legendaris karena buka sejak tahun 1991 di tengah-tengah perkampungan setempat. Warungnya juga merupakan satu dengan rumah tinggal pemiliknya. Yang membedakan warung ini adalah tidak bukanya setiap hari, melainkan hanya pada malam pasaran Jawa Pon dan Kliwon.
Sang pemilik, Tukimin mengatakan bahwa alasan tidak membuka warung setiap hari adalah karena lokasinya yang jauh dari jalan raya. Ia khawatir tidak laku jika dibuka setiap hari. Meskipun begitu, setiap malam pasaran Pon dan Kliwon, warungnya selalu ramai. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari yang muda hingga tua.
Meskipun menunya sangat sederhana, seperti nasi tiwul, ikan cuwik goreng, sayur lombok, sambal bawang, sayur terancam (semacam urap) dan berbagai macam gorengan, warung makan Mbok Sembleng tetap tidak sepi. Selain dari Wonogiri, pembeli juga banyak yang berasal dari luar kota, seperti Solo, Sukoharjo dan Pacitan.
2. Pecel Mbah Nardi, Tetap Eksis Sejak 1970-an, Bumbunya yang ‘Berani’ Bikin Bertahan
Pecel Mbah Nardi adalah salah satu warung makan yang tetap eksis dan memiliki banyak pelanggan meskipun sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu. Warung makan yang terletak tak jauh dari Lapas Wonogiri itu selalu ramai diserbu para pelanggannya meskipun “hanya” menjual pecel sebagai menu utama.
Yang membuat spesial dari pecel ini adalah sambal kacangnya yang terkenal dengan bumbunya yang berani sehingga rasanya nikmat. Sambal kacang diolah dengan cara tradisional yakni dengan lumpang dan ditumbuk dengan alu. Semuanya dikerjakan secara manual oleh tangan manusia di dapur rumahan.
Disini masaknya pakai kayu semua, nasi dari beras sampai siap santap dimasak menggunakan kayu bakar. Saat Infomalangraya.net berkesempatan mengintip di dapur Pecel Mbah Nardi, sejumlah karyawan sibuk mempersiapkan dagangan, mulai dari mengolah sambal dan memasak nasi. Seluruh makanan disana dimasak menggunakan kayu bakar. Termasuk juga gorengan seperti tempe dan bakwan digoreng diatas minyak panas yang tentunya diatas tungku dengan api yang membara.
Bagi yang penasaran, bisa langsung mendatangi warung Mbah Nardi yang berada di Jalan Jenderal Sudirman No.191, Donoharjo, Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri Kota, Wonogiri. Setiap hari Pecel Mbah Nardi siap menyambut para pelanggan sejak pukul 06.00 WIB hingga ludes.
3. Pecel Mbah Nemleg di Baturetno, Warung Legendaris yang Sudah Berdiri Sejak 1937
Di Wonogiri terdapat banyak kuliner legendaris yang masih eksis walaupun berdiri sejak puluhan tahun lalu. Mempertahankan resep menjadi kunci mereka bisa bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah Warung Mbah Nemleg yang berdiri di Dusun Batu Kidul, Desa/Kecamatan Baturetno, Wonogiri.
Warung yang berdiri sejak tahun 1937 itu punya menu spesial yakni Pecel Empal. Pengelola Warung Mbah Nemleg, Sri Sudarsih menceritakan bahwa warung itu merupakan peninggalan neneknya. Dulu warung itu hanya sebuah gubug yang berdiri di bawah pohon mangga kweni. Awalnya simbah saya, Mbah Sonojoyo. Dulu berjualan wedhang dan berbagai makanan tradisional di sebuah gubug.
Menurutnya, gubug kecil itu awalnya menjadi jujugan para blantik dan pedagang sapi dari wilayah Pacitan, Eromoko, Tirtomoyo dan sejumlah daerah lain di sekitaran Baturetno. Warung tersebut kemudian dilanjutkan oleh putri Mbah Sonojoyo, yaitu Mbah Katinem atau yang disebut Mbah Nemleg. Sejak saat itu, pecel menjadi menu andalan disana.
4. Geti Wijen
Geti Wijen merupakan salah satu makanan tradisional khas Wonogiri. Meskipun berlabel tradisional, geti wijen justru masih banyak diminati. Salah satu produsen geti wijen di Wonogiri adalah Endarti (39) yang beralamat di Dusun Geneng, Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri Kota.
Rasa geti wijen yakni manis, pedas dan sedikit pahit. Teksturnya kering dan renyah. Jika tidak suka rasa pahit bisa dicampur dengan kacang dan mete.
5. Sayur Kuning Mbah Dayat
Satu dari sekian banyak kuliner legendaris di Wonogiri yang layak dicoba adalah Sayur Kuning Mbah Dayat yang berada di Kecamatan Baturetno. Menu yang dijual sangat simpel, yakni sayur kuning.
Sayur kuning yang dimaksud yakni campuran pepaya muda dan nangka yang dimasak dengan tambahan kunir sehingga kuah menjadi kuning. Saat ini, sayur kuning Mbah Dayat sudah diteruskan generasi kedua. Usaha tersebut kini diteruskan oleh anak dan menantunya, salah satunya adalah Mbak Emil yang merupakan menantu.
“Dari awal jualannya di Pasar Bung Karno itu, kira-kira sudah 60 tahunan berjualan,” jelasnya, kepada Infomalangraya.net. Mbak Emil buka mulai subuh di Pasar Bung Karno pada pasaran tertentu, yakni Legi, Pahing dan Wage. Selain di pasar, Mbak Emil berjualan di rumahnya yang terletak di Dusun Balerejo, Desa Watuagung setiap siang hingga malam.
