Doa sebagai Jembatan Kedekatan dengan Tuhan dan Sesama
Doa merupakan komunikasi yang paling dalam dan berkualitas antara manusia dengan Tuhan. Dalam doa, manusia dapat menyampaikan syukur, harapan, dan keinginan kepada Allah. Doa juga menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara sesama manusia. Semakin seseorang berdoa, semakin besar ia mengenal dan bersekutu dengan Allah. Demikian pula, semakin seseorang mendoakan sesamanya, semakin kuat perasaan kasih sayang terhadapnya.
Doa sebagai komunikasi yang indah dan suci, antara pribadi beriman dengan Allah yang diimani. Dalam komunikasi rohani ini, manusia mengekspresikan syukur dan harapannya kepada Tuhan. Keheningan, disposisi hati, dan lingkungan yang mendukung serta ketekunan dalam doa ikut memperkuat persekutuan dan penyatuan diri dengan Allah secara mendalam.
Yesus sebelum berpisah dengan para murid-Nya, Ia berdoa bagi mereka. Ia menyampaikan harapan-Nya kepada Allah Bapa dengan tekun dan menyatu dengan Bapa-Nya. Dalam doa-Nya, Yesus memiliki dua intensi: pertama, agar para murid bersatu, dan kedua, agar Allah melindungi mereka dari berbagai kejahatan dunia.
“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka yang telah Engkau berikan, karena mereka adalah milik-Mu” (Yoh 17:9). Yesus mendoakan para murid dan menyerahkan mereka dalam kasih dan perlindungan Allah Bapa. Ia mengekspresikan harapan-Nya dalam doa sebagai bukti kasih, kepedulian, dan tanggung jawab-Nya terhadap Bapa yang telah mempercayakan para murid ke dalam tuntunan dan penggembalaan-Nya.
Sebagai bentuk ketaatan dan persatuan-Nya dengan Allah, Ia berdoa agar Allah dimuliakan dalam pekerjaan-pekerjaan yang telah dipercayakan kepada-Nya dan kepada para murid. Yesus menyadari bahwa Ia pergi untuk menyatu dengan Bapa-Nya sementara para murid masih melanjutkan misi kerasulan di tengah dunia. Dunia yang penuh dengan tantangan dan godaan selalu diwarnai dengan penganiayaan, kekerasan, kejahatan, dan berbagai godaan. Karena itu, Ia berdoa kepada para murid yang tinggal di tengah dunia.
Yesus juga berharap agar para murid bertekun dalam doa agar mereka sanggup bertahan dalam aneka cobaan dan kejahatan dunia. Melalui doa, para murid kuat secara spiritual karena senantiasa menjaga keterpautan hati dengan Allah dan Yesus Kristus.
Jose Maria Escriva dalam bukunya Camino atau Jalan (1939), menulis: “suatu tindakan tak akan ada artinya tanpa doa, doa akan berarti dengan pengorbanan. Doa adalah suatu dasar dari bangunan rohani. Doa selalu menjembatani kita untuk bersatu dengan Tuhan dan sesama.” (Escriva, 1939:27-28).
Yesus berdoa untuk memuliakan Allah dan mengungkapkan harapan hati-Nya kepada Allah sebelum menjalani penderitaan salib dan wafat. Ia berdoa sepanjang malam dan doa itu menguatkan-Nya untuk menjalani jalan salib hingga wafat di atas salib. Doa Yesus penuh makna. Doa-Nya bagi para murid, diikuti dengan pengorbanan di salib sebagai tanda kasih-Nya yang agung bagi para murid.
Pengorbanan Yesus penuh makna untuk menebus dosa umat manusia. Sebuah pengorbanan kasih yang diawali dengan doa yang mendalam untuk memuliakan Allah dan untuk mengekspresikan cinta-Nya bagi para murid.
Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 hari ini membawa pesan mendalam bahwa doa itu berdimensi personal dan komunal. Secara personal, setiap pribadi memiliki wajah dan suara yang unik untuk menyampaikan doa-doanya kepada Allah. Doa personal tidak dapat diambil alih oleh media dan instrumen komunikasi. Doa mengekspresikan jiwa dan perasaan serta harapan pribadi beriman kepada Allah yang diimani.
Paus Leo XIV dalam refleksinya berkaitan dengan Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, menegaskan pentingnya merawat “wajah pribadi dan suara manusia yang unik dan khas.” Kemajuan sarana teknologi komunikasi mesti tetap dilihat sebagai instrumen atau sarana yang menolong manusia dalam meningkatkan dan memperlancar komunikasi antar manusia.
Dalam mengembangkan komunikasi sosial, hendaknya membangun kesadaran bersama bahwa setiap pribadi memiliki wajah dan suara yang istimewa. Sebab pada wajahnya terlukis wajah Ilahi dan dalam nada suaranya yang khas terekspresi atau terdengar curahan Roh Allah yang menggerakkan nada suara manusia yang khas dan unik untuk setiap pribadi.
Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia juga menginspirasi kita untuk berdoa seperti yang Yesus lakukan. Berdoa dengan tekun dan penuh hikmat untuk tujuan persatuan para murid dan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Berdoa bagi orang-orang yang dipercayakan dalam pelayanan dan pekerjaan yang kita emban saat ini. Berdoa bagi perdamaian dunia dan terutama berdoa agar kita semua dibebaskan dari segala yang jahat.
Doa dapat dilakukan secara personal dan komunal, dalam liturgi Ekaristi gereja berdoa secara komunal. Bahkan di dalam Ekaristi Kudus, ekspresi persatuan para murid Kristus terbaca dan terkonfirmasi.
Pada perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, Komisi Kepausan untuk Komunikasi Sosial, (23 Maret 1971) mengeluarkan dokumen Communio et Progressio, yakni instruksi pastoral tentang alat-alat komunikasi sosial yang menegaskan bahwa persekutuan dan perkembangan (Communio et progressio) masyarakat manusia menjadi tujuan utama dari komunikasi sosial dan sarana-sarannya.
Gereja melihat sarana-sarana sebagai ’anugerah-anugerah Allah” yang sesuai dengan rencana Penyelenggaraan Ilahi “dimaksudkan untuk menyatukan manusia dalam ikatan persaudaraan, agar menjadi rekan sekerja dalam rencana penyelamatan-Nya” (Communio et progressio, 1971, Art.1-2).
Membaca realitas kemajuan teknologi komunikasi digital dewasa ini dalam terang iman perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, mengingatkan kita bahwa semua sarana komunikasi tetap menjadi instrumen dalam berkomunikasi yang terarah pada persatuan dan persaudaraan.
Doa sebagai bentuk komunikasi personal yang mendalam dengan Allah yang diimani dan sesama yang dikasihi tidak dapat diambil alih oleh sarana-sarana komunikasi. Karena doa personal melibatkan perasaan dan penjiwaan hanya dimiliki oleh pribadi manusia.
Sebagaimana Yesus berdoa bagi para murid-Nya, kita juga diundang untuk mendoakan para murid dan gereja agar selalu terbangun spirit persaudaraan dan persatuan yang sejati.
Kemajuan media komunikasi sosial membantu manusia dalam menyebarkan kabar gembira yang menyelamatkan, memotivasi dan menginspirasi dalam membangun persatuan dan meningkatkan penghargaan terhadap martabat dan pribadi manusia yang memiliki wajah dan suara yang khas.
Semoga dengan merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, kita semakin bertekun dalam komunikasi yang mendalam dan berkualitas dengan Tuhan. Komunikasi yang mendalam dengan Tuhan menjadi dasar untuk mengembangkan komunikasi personal dengan sesama.
Kehadiran dan kemajuan teknologi komunikasi moderen pun mengantar kita semakin menegaskan diri sebagai pribadi beriman yang mampu menggunakannya secara bijak sebagai sarana dalam meneguhkan persatuan dengan Allah dan sesama.
Sarana komunikasi sosial tetap menjadi instrumen-anugerah Allah, yang membantu manusia dalam membangun persatuan dan persaudaraan serta menjauhkan kita dari perpecahan dan aneka konflik sosial.
Kemajuan teknologi komunikasi sosial, mestinya membantu manusia untuk merayakan dan memaknai hidup sebagai pribadi beriman yang memiliki wajah dan suara yang istimewa.
Media komunikasi dapat digunakan sebagai instrumen dalam mewartakan wajah Allah yang Maharahim dan suara Allah yang memotivasi, menggembirakan, memberi penguatan dan harapan serta menggerakkan hati setiap orang untuk membangun persatuan dan harmoni sosial sebagaimana inti doa Yesus “Semoga mereka bersatu sebagaimana Bapa dan Aku adalah satu.”
