Renungan Katolik: “Hukum yang Terbesar”

Renungan katolik dengan tema “Hukum yang Terbesar” disiapkan untuk perayaan wajib St. Pius X, yang menggunakan warna liturgi putih. Bacaan hari Jumat mencakup Yeh 37:1-14; Mzm 107:2-3.4-5.6-7.8-9; Mat 22:34-40 dan BcO Pkh 8:5-9:10. Berikut adalah renungan lengkapnya.

Bacaan Pertama: Yeh 37:1-14

Lalu kekuasaan Tuhan meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman Tuhan!

Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.”

Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.” Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman Tuhan.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 107:2-3.4-5.6-7.8-9

Ref: Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal kasih setia-Nya.

Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.

Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

Biarlah mereka bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

Bait Pengantar Injil: Mzm 25:5c.5a

Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.

Bacaan Injil Katolik: Mat 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik: “Hukum yang Terbesar”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Sering kali kita mengira iman itu identik dengan “banyak aturan”: mana yang boleh, mana yang tidak boleh, mana yang dianggap penting. Namun Injil hari ini menyingkap kebenaran yang lebih dalam: di tengah segala perintah, ada hukum yang terbesar—pusat yang membuat semua aturan lain menjadi hidup. Santo Pius X, melalui pelayanannya, mengingatkan bahwa iman Gereja membutuhkan hati yang setia pada Tuhan sekaligus kasih yang nyata kepada sesama. Maka, tema “Hukum yang terbesar” menolong kita kembali ke inti: cinta yang menyeluruh.

Saudara-saudari terkasih.

Yehezkiel dalam bacaan pertama (Yeh. 37:1-14) melihat lembah yang penuh tulang kering. Tetapi Tuhan memerintahkan agar tulang-tulang itu bernapas, hidup kembali, dan menjadi umat. Kisah ini bukan hanya gambaran kematian dan kebangkitan, melainkan tanda bahwa Allah mampu membangkitkan kembali yang dianggap sudah selesai. Allah bukan berhenti pada kehancuran. Ia masuk sampai ke “tulang kering” hidup kita, ketika iman lemah, kasih meredup, dan harapan hampir hilang lalu memberi kehidupan kembali melalui rahmat-Nya. Dan dalam Injil (Mat.22:34-40), orang-orang bertanya kepada Yesus untuk menjebak-Nya. Tetapi Yesus menjawab dengan mengembalikan diskusi pada pusat: hukum terbesar ialah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi; yang kedua sama seperti itu: mengasihi sesama seperti diri sendiri. Refleksi kita adalah “Kalau kasih kepada Tuhan tidak nyata”: Mengasihi Tuhan bukan sekadar kata-kata religius, melainkan sikap batin: ketaatan yang lahir dari kepercayaan, doa yang jujur, dan hidup yang tidak berpura-pura. Ketika itu hilang, kita beribadah tetapi hati tetap kering seperti tulang kering. “Kasih kepada sesama”: Yesus menyatukan dua hukum terbesar. Maka iman yang hanya “mengarah ke atas” tetapi mengabaikan sesama, tidak utuh. Mengasihi sesama berarti memperlakukan orang lain dengan martabat: memaafkan, menolong, berbicara jujur, dan tidak menghalalkan cara. “Rahmat Allah membangkitkan kasih”: Yehezkiel menunjukkan bahwa kehidupan datang dari karya Tuhan. Maka bila kita merasa hati tidak mampu mengasihi, itu bukan alasan menyerah, melainkan kesempatan meminta rahmat: Tuhan, hidupkan kasihku. Lalu wujudkan dalam satu keputusan konkret: satu tindakan baik, satu permintaan maaf, atau satu kesabaran yang disengaja.

Saudara-saudari terkasih,

Pesan untuk kita, pertama, Hukum terbesar bukan terutama soal aturan, melainkan soal kasih. Kedua, kasih kepada Tuhan dan sesama tidak bisa dipisahkan. Ketiga, Allah sanggup menghidupkan kembali kasih yang mati, agar iman menjadi nyata dalam tindakan. Tuhan memberkati kita.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version