Renungan Wanita Kaum Ibu Kristen

Renungan ini dapat digunakan dalam setiap ibadah, baik secara pribadi maupun bersama. Dapat juga dibaca setiap hari sebagai panduan bagi wanita Kaum Ibu Kristen. Renungan ini disusun oleh Komisi Wanita Kaum Ibu GMIM untuk edisi bulan Desember 2025 hingga Januari 2026. Pokok renungan berasal dari pembacaan Alkitab di 1 Yohanes 2:7-17 dengan tema utama “Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di Dalam Terang”.

Khotbah: Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di Dalam Terang

Ibu-Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tanpa terasa kita sudah memasuki minggu keempat bulan pertama tahun 2026 ini. Perayaan Natal dan Tahun Baru telah kita lalui, dan kini kita mulai menapaki perjalanan panjang di tahun ini bersama Tuhan, Sang Terang Dunia.

Tema renungan kita kali ini adalah “Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di Dalam Terang”. Dari tema ini, kita seperti didorong untuk tetap hidup dalam kasih yang saling melengkapi di segala keadaan, seperti yang kita terapkan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru. Tema ini relevan ditempatkan di awal tahun ini karena banyak orang yang mengalami kelelahan rohani dan fisik setelah perayaan, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa menyebabkan stres.

Itu sebabnya, banyak ibu-ibu yang mulai sibuk di awal tahun ini dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk bulan Desember nanti, dengan orientasi hanya pada keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16).

Ibu-Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tema perenungan kita ingin menjelaskan bahwa kasih bukan sekadar slogan atau hanya untuk diketahui, tetapi kasih adalah buah Roh pertama yang wajib dihasilkan oleh setiap orang percaya. Kasih yang didemonstrasikan adalah kasih yang dimaksud dalam surat Yohanes ini.

Maksud ini hendak dijelaskan kepada orang percaya di akhir abad pertama Masehi, ketika surat 1 Yohanes ini ditulis. Yohanes dan orang-orang percaya pada Yesus masa itu sedang tidak baik-baik saja. Mereka hidup di tengah-tengah komunitas kaum gnostik yang mengandalkan pengetahuan (gnosis), yang mengklaim memiliki pengetahuan rohani tentang terang, tetapi kontras dengan kehidupan sehari-hari karena mereka membenci sesamanya.

Implementasi etis dari iman seperti kasih dan perbuatan baik terabaikan. Rasul Yohanes menyanggah balik pandangan gnostisisme ini dengan menyatakan bahwa terang yang sejati tidak hanya sebatas pengetahuan dan kecerdasan, tetapi harus berdampak pada tindakan yang memulihkan dan memberdayakan, bukan kebencian.

Kasih terhadap saudara mutlak dilaksanakan dalam hidup bersama. Terkesan dalam kondisi yang massif ini, Rasul Yohanes dengan sengaja menjadikan kasih sebagai alat uji atas kaum gnostik. Sebab baginya, percaya tanpa tindakan mengasihi sama artinya dengan kemunafikan dan hidup di dalam kegelapan (ay.9).

Perintah mengasihi saudara, bagi sang rasul, bukanlah suatu hal baru, tetapi menjadi baru dan benar sebab telah disempurnakan dan diwujudkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus (ay.7-8), yang dalam kasih-Nya, telah setia sampai mati tersalib demi keselamatan manusia. Dengan demikian, kasih bukan sekadar aturan, tetapi menjadi standar hidup yang dihidupkan oleh Kristus sendiri.

Tahun 2026: Tahun Terakhir dalam Pelayanan GMIM

Tahun 2026 adalah tahun terakhir dalam periode pelayanan GMIM. Di tahun ini, bukan tidak mungkin kita akan berhadapan dengan kondisi kasih yang akan pudar dari kehidupan setiap orang, karena hubungan sosial yang semakin terdistorsi oleh interaksi daring.

Artinya: hubungan yang tadinya tulus, selalu bertemu dalam canda, berubah menjadi renggang karena jarak, waktu, atau kesibukan. Kasih yang seharusnya menuntut pengorbanan waktu dan tenaga, terpelintir menjadi sebuah respons cepat di dunia maya.

Contohnya: Ketika ada undangan keluarga, kehadiran kita digantikan dengan ucapan RIP/Turut Berdukacita atau Selamat Ulang Tahun, atau hanya sekedar memberikan jempol dan emoji, dan lain-lain. Kondisi ini menyebabkan kasih menjadi tidak berkorban, tidak berempati, dan tidak berintegritas. Inilah yang membuat kualitas kasih kita, meskipun terlihat ramai di dunia maya, terasa kosong dan dingin dalam realitas komunitas gereja.

Mulai bulan ini pun, kita akan kembali ke kegiatan rutin dalam persekutuan wanita kaum ibu baik di kolom maupun jemaat. Kita akan kembali menjalankan ibadah secara formal tanpa hati yang tergerak oleh kasih. Ini juga akan menciptakan kondisi di mana seseorang bisa terlihat rajin beribadah (hidup dalam terang), tetapi dingin terhadap sesama (hidup dalam kegelapan).

Bahkan sebentar bisa saja karena akan ada pemekaran kolom, pemilihan pelsus dan kategorial wanita kaum ibu, kasih akan pudar karena saling menjatuhkan atau alasan lainnya.

Menjadi Pribadi yang Kredibel dalam Kasih Allah

Maka belajar dari Firman Tuhan di minggu ini, kita terajak untuk menjadi pribadi yang kredibel dalam melaksanakan kasih Allah. Sebagai tiang doa, maka wanita Kaum Ibu memiliki peran strategis untuk menyingkirkan segala bentuk gosip, iri hati, dan perselisihan yang dapat menjadi sandungan dan memecah belah persekutuan.

Hidup dalam terang berarti berbicara yang benar dan membangun iman, bukan merusak. Wanita Kaum Ibu dituntut untuk menjadikan kasih yang nyata sebagai bukti bahwa kita hidup di dalam terang Tuhan, setia dalam kasih kepada Tuhan dan sesama seperti mengasihi diri sendiri. Itulah hukum Tuhan yang harus dilakukan. Amin.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version