Ketergantungan Indonesia pada Impor dari Tiongkok Meningkat Signifikan
Penggunaan barang impor dari Tiongkok dalam struktur perekonomian Indonesia semakin meningkat. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pangsa pasar Tiongkok dalam impor nonmigas Indonesia mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Hal ini terjadi di tengah penurunan peran mitra dagang tradisional lainnya.
Pada periode Januari hingga Desember 2025, total nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai US$86,99 miliar. Angka ini naik sebesar 21,4% dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$71,63 miliar. Peningkatan ini memperkuat posisi Tiongkok sebagai pemasok utama barang impor bagi Indonesia.
Sebelumnya, pada tahun 2024, Tiongkok hanya menguasai sekitar 36,29% dari total impor nonmigas. Namun, pada tahun 2025, pangsa tersebut meningkat drastis menjadi 41,60%. Dengan peningkatan ini, ketergantungan rantai pasok nasional terhadap satu negara semakin besar.
Tiga Golongan Barang Utama yang Diimpor dari Tiongkok
Terdapat tiga golongan barang utama yang diimpor Indonesia dari Tiongkok pada tahun lalu. Pertama adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya dengan nilai US$19,74 miliar. Kedua, mesin perangkap elektrik dan bagiannya yang bernilai US$19,05 miliar. Ketiga, kendaraan dan bagiannya dengan nilai US$4,93 miliar.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya menyediakan barang konsumsi, tetapi juga komponen penting untuk sektor industri dan transportasi. Hal ini menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang yang sangat strategis bagi Indonesia.
Penurunan Kinerja Impor dari Mitra Dagang Lain
Kondisi ini berbeda dengan kinerja impor dari mitra dagang utama lainnya. Jepang, misalnya, mengalami penurunan nilai impor dari US$14,86 miliar pada 2024 menjadi US$14,42 miliar pada 2025. Pangsa pasar Jepang di Indonesia turun dari 7,53% menjadi 6,90%.
Sementara itu, Korea Selatan mengalami penurunan lebih dalam. Nilai impornya turun dari US$8,67 miliar pada 2024 menjadi US$7,61 miliar pada 2025. Pangsa pasar produk Korea Selatan juga menurun dari 4,36% menjadi 4,10%.
Selain itu, pasokan barang dari Asia Tenggara (ASEAN) juga mengalami penurunan. Nilai impor dari ASEAN turun dari US$34,60 miliar menjadi US$32,46 miliar. Pangsa pasar impor ASEAN di Indonesia mengecil dari 17,50% menjadi 15,53%.
Uni Eropa juga mengalami penurunan. Nilai impornya turun dari US$14,01 miliar pada 2024 menjadi US$12,63 miliar pada 2025. Meskipun pangsa pasar Uni Eropa sedikit meningkat, penurunan secara keseluruhan tetap terjadi.
Neraca Dagang Indonesia pada Tahun 2025
Secara keseluruhan, total impor nonmigas Indonesia pada tahun 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,11% menjadi US$209,09 miliar. Namun, pertumbuhan ini hampir sepenuhnya didorong oleh arus barang dari Tiongkok.
Neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari—Desember 2025 mencatatkan surplus senilai US$41,05 miliar, naik 31,02% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$31,33 miliar. Surplus ini terutama didukung oleh kinerja ekspor komoditas nonmigas yang solid.
Kinerja Ekspor dan Impor
Total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$282,91 miliar, atau naik 6,15% secara tahunan. Ekspor sektor industri pengolahan tumbuh double digit sebesar 14,47%. Sementara itu, ekspor migas justru terkontraksi sebesar 17,69%.
Di sisi lain, total nilai impor sepanjang 2025 tercatat sebesar US$241,86 miliar, tumbuh tipis 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh geliat sektor produksi dalam negeri, terutama impor barang modal yang naik tajam sebesar 20,06%.




