Ringkasan Berita:
- Warga Nahdliyin dari berbagai daerah memanfaatkan Muktamar ke-35 NU untuk berziarah ke makam KH Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang.
- Jumlah peziarah meningkat signifikan sejak 25 Agustus dan diperkirakan mencapai ribuan orang setiap hari.
- Selain berdoa, pengunjung juga melihat peninggalan Mbah Wahab serta menikmati kuliner dan membeli oleh-oleh khas Jombang.
- Makam tersebut buka 24 jam selama pelaksanaan muktamar.
Infomalangraya.net, JAKARTA – Warga Nahdliyin dari berbagai daerah memanfaatkan momen Muktamar ke-35 NU untuk berziarah ke makam pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).
Para warga Nahdliyin tampak berangsur-angsur berdatangan ke kompleks makam dengan berjalan kaki, menggunakan mobil, sepeda motor, hingga becak motor.
Sebagian besar peziarah berjalan kaki dari tempat mereka menginap di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.
KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) adalah seorang ulama besar dan salah satu tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
Lahir 31 Maret 1888 di Jombang, beliau wafat pada 29 Desember 1971.
Mbah Wahab ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2014.
Jumlah peziarah ribuan orang
Juru Kunci Makam KH Abdul Wahab Hasbullah, M Saifut, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan signifikan sejak 25 Agustus 2026.
Meski tidak menyebut angka pasti, Saifut memperkirakan jumlah peziarah mencapai ribuan orang setiap hari.
“Pengunjungnya naik pesat. Mulai tanggal 25 sudah mulai banyak. Tidak bisa dihitung, ribuan,” kata Saifut.
Para peziarah tetap antusias meski harus berjalan di bawah terik matahari untuk mencapai makam KH Wahab Hasbullah.
Setibanya di lokasi, para peziarah terlebih dahulu melaksanakan salat. Setelah itu, mereka berziarah ke makam Mbah Wahab.
Selain berziarah, para pengunjung juga melihat berbagai pameran dan peninggalan KH Wahab Hasbullah yang berada di sekitar kompleks makam.
Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung adalah sumur yang disebut telah berusia ratusan tahun.
Menurutnya, pada hari biasa jumlah peziarah berkisar ratusan orang. Namun, selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, jumlahnya bisa meningkat hingga dua kali lipat.
“Kalau Sabtu-Minggu atau hari libur, biasanya sekitar 40 bus. Itu belum kendaraan pribadi. Mobil pribadi malah lebih banyak lagi, sampai tidak muat,” katanya.
Saifut mengatakan ada perbedaan pola kedatangan peziarah antara hari biasa dengan saat Muktamar NU.
Pada hari biasa, peziarah umumnya datang menggunakan kendaraan pribadi maupun bus.
Sementara saat Muktamar, banyak pengunjung yang memilih berjalan kaki dari tempat penginapan mereka.
Saifut mengatakan kompleks Makam KH Wahab Hasbullah buka selama 24 jam.
Para peziarah, kata Saifut, bisa datang kapan saja ke Makam KH Wahab Hasbullah.
Selain berziarah, pengunjung juga dapat menikmati berbagai sajian kuliner serta membeli pernak-pernik dan oleh-oleh khas Jombang untuk dibawa pulang.
Pengelola makam, kata Saifut, juga terus menjaga kebersihan dan keamanan kawasan untuk memberikan kenyamanan kepada para peziarah.
Dia mengungkapkan, para pengunjung makam berasal dari berbagai kalangan.
Tidak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat hingga tamu dari luar negeri juga tercatat pernah berziarah ke makam Mbah Wahab.
“Pengunjungnya dari Arab dan negara lainnya,” kata Saifut.
Jejak Mbah Wahab
KH Abdul Wahab Hasbullah merupakan salah satu tokoh utama pendiri NU sekaligus ulama pejuang yang memiliki peran besar dalam perkembangan pesantren, gerakan Islam, dan perjuangan kebangsaan Indonesia.
Ia lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888. Sejak kecil, KH Abdul Wahab Hasbullah tumbuh dalam lingkungan pesantren.
KH Abdul Wahab Hasbullah kemudian menjadi santri kelana dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren, sebelum melanjutkan pendidikan ke Makkah.
Sepulang dari Tanah Suci, KH Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya fokus pada pendidikan pesantren. Ia aktif membangun organisasi dan ruang gerakan kaum santri.
Sejumlah organisasi yang dirintisnya antara lain Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Gerakan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kemudian bermuara pada berdirinya NU pada 1926.
KH Abdul Wahab Hasbullah juga memiliki peran penting dalam Komite Hijaz, yang memperjuangkan kepentingan ulama pesantren dan kebebasan menjalankan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah di Tanah Suci. Komite tersebut menjadi salah satu mata rantai penting menuju lahirnya NU.
Di bidang kebangsaan, KH Abdul Wahab Hasbullah dikenal sebagai ulama yang memadukan keislaman dan nasionalisme.
Dirinya turut mendorong kesadaran kebangsaan melalui gerakan pesantren dan organisasi. Ia juga dikenal sebagai pencipta syair “Ya Lal Wathan”, yang kemudian menjadi salah satu simbol nasionalisme warga NU.
Dalam perjalanan NU, KH Abdul Wahab Hasbullah kemudian menjadi Rais Aam NU dan merupakan salah satu figur penting yang menjaga kesinambungan organisasi setelah wafatnya KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Hasbullah dikenal aktif menghadiri berbagai muktamar NU hingga menjelang akhir hayatnya.
KH Abdul Wahab Hasbullah wafat pada 29 Desember 1971, beberapa hari setelah menghadiri Muktamar NU di Surabaya. Ia kemudian dimakamkan di kompleks Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2014.
Mengenai Muktamar NU
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026.
Muktamar NU secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Adapun agendanya antara lain membahas arah organisasi, program kerja, rekomendasi umat, serta pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Muktamar diikuti oleh ribuan delegasi dari pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga cabang istimewa NU di seluruh dunia.





