Aksi Damai Bonek dan Bonita di Surabaya

Di tengah lalu lintas yang padat, kawasan Darmo di Kota Surabaya menunjukkan pemandangan yang berbeda. Puluhan Bonek dan Bonita hadir di Simpang Empat Polisi Istimewa pada Selasa (5/5/2026) malam, dengan membawa bunga untuk dibagikan kepada pengendara dari luar kota. Mereka memilih cara unik dalam merespons situasi rivalitas suporter sepak bola Jawa Timur, terutama setelah insiden sweeping kendaraan warga Surabaya di kawasan Pantai Wedi Awu, Malang.

Aksi ini menjadi simbol persaudaraan antar suporter, khususnya yang berasal dari daerah dengan rivalitas tinggi. Fokus utama mereka adalah pada kendaraan berplat “N” asal Malang yang melintas di kawasan tersebut. Setiap pengendara diberi bunga sebagai bentuk pesan damai dan penolakan terhadap aksi balasan yang sempat memicu kekhawatiran publik.

Respons Damai Setelah Insiden Sweeping di Malang

Insiden sweeping kendaraan berplat “L” milik warga Surabaya di Pantai Wedi Awu, Malang, sempat memicu emosi dan keresahan di kalangan suporter sepak bola Jawa Timur. Namun, suporter Persebaya Surabaya memilih merespons situasi dengan cara yang berbeda. Mereka tidak turun ke jalan untuk mencari konfrontasi, melainkan menunjukkan pesan persaudaraan melalui aksi bagi bunga di pusat Kota Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si. hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan damai yang dilakukan oleh suporter Green Force. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk komitmen bahwa masyarakat tidak terpancing atau terprovokasi oleh situasi apapun.

Menurutnya, rivalitas sepak bola seharusnya tidak berkembang menjadi permusuhan antardaerah. Kompetisi cukup berlangsung di lapangan, sementara hubungan antarmanusia tetap harus dijaga dengan baik. Sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi di dalam lapangan, namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan di luar lapangan.

Bonek dan Bonita Pilih Jadi Penjaga Suasana

Sekitar 50 Bonek dan Bonita yang terlibat dalam aksi itu tampak menjaga suasana tetap tenang sepanjang kegiatan berlangsung. Tidak ada teriakan provokatif maupun intimidasi terhadap pengguna jalan yang melintas. Bunga yang dibagikan menjadi simbol sederhana untuk meredam situasi yang sempat memanas di media sosial.

Di tengah rivalitas panjang sepak bola Jawa Timur, langkah ini menjadi pesan kuat bahwa suporter juga bisa hadir sebagai penjaga kedamaian. Pentolan Bonek, Hasan Tiro, menegaskan bahwa aksi serupa bukan pertama kali dilakukan. Menurutnya, komunitas suporter memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga hubungan baik antarpendukung klub.

“Untuk aksi hari ini, ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara lain dalam merespons situasi, dengan cara yang lebih damai,” katanya. Ia menilai rivalitas sepak bola tetap penting sebagai bagian dari atmosfer pertandingan. Namun, rivalitas tidak boleh berubah menjadi kebencian yang merugikan masyarakat umum.

Rivalitas Persebaya Surabaya dan Arema FC Diminta Tetap Sehat

Rivalitas antara suporter Persebaya Surabaya dan Arema FC selama ini dikenal memiliki tensi tinggi. Dalam beberapa kesempatan, gesekan antarsuporter kerap muncul dan berdampak pada keamanan masyarakat. Karena itu, aksi damai di Simpang Empat Polisi Istimewa dinilai menjadi momen penting untuk menunjukkan sisi lain dari kultur suporter sepak bola.

Di tengah derasnya konten provokasi di media sosial, pesan damai justru hadir dari jalanan Kota Surabaya. Hasan Tiro kembali mengingatkan bahwa rivalitas cukup berlangsung selama pertandingan berjalan. Setelah peluit akhir dibunyikan, suporter tetap harus bisa hidup berdampingan tanpa rasa permusuhan.

“Rivalitas cukup berlangsung 90 menit di dalam lapangan. Setelah itu, kita tetap bisa duduk bersama, ngobrol, dan saling menghargai,” imbuhnya. Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat yang melintas di lokasi aksi. Beberapa pengendara bahkan terlihat berhenti sejenak untuk menerima bunga dan menyampaikan apresiasi kepada para suporter.

Kasus Sweeping Diserahkan ke Aparat Penegak Hukum

Terkait kasus sweeping kendaraan warga Surabaya di Malang, Hasan Tiro memastikan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. Ia meminta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan. Menurutnya, proses hukum penting untuk memberikan keadilan sekaligus efek jera kepada pelaku. Langkah tersebut juga dinilai menjadi cara terbaik untuk mencegah konflik semakin meluas.

“Untuk kasus tersebut, kami dari Surabaya sepenuhnya menyerahkan kepada pihak kepolisian. Kami percaya, dengan bukti-bukti yang ada, pelaku bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Harapannya, ini bisa menjadi efek jera agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Aksi bagi bunga yang dilakukan Bonek dan Bonita akhirnya menjadi pengingat bahwa sepak bola tetap memiliki ruang besar untuk nilai kemanusiaan. Dari sebuah simpang jalan di pusat Kota Surabaya, pesan damai itu mengalir sederhana namun kuat di tengah rivalitas yang selama ini identik dengan panasnya emosi.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version