Ringkasan Berita:

  • Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyiapkan revitalisasi seluruh 63 Puskesmas pada 2027.
  • Perbaikan Puskesmas dilakukan untuk menjawab keluhan masyarakat.

Laporan Wartawan Infomalangraya.net, Bobby Koloway

Infomalangraya.net, SURABAYA – Revitalisasi seluruh 63 Puskesmas pada 2027 disiapkan Pemkot Surabaya.

Pembenahan meliputi perbaikan fasilitas fisik, penataan ruang tunggu berpendingin udara (AC), pemisahan area tunggu anak dan dewasa, hingga pembenahan sistem antrean pasien melalui aplikasi e-Health.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, perbaikan dilakukan untuk menjawab keluhan masyarakat.

Wali Kota dua periode ini menerima laporan masyarakat soal rumitnya antrean yang tidak teratur dan ruang tunggu yang kurang nyaman.

Ia ingin pelayanan Puskesmas memiliki alur yang lebih tertib dengan kenyamanan fasilitas seperti di rumah sakit.

“Puskesmas itu harus sama dengan rumah sakit, baik kenyamanannya maupun fasilitasi ruang tunggunya,” kata Eri, Senin (19/10/2026).

Dari sisi fasilitas, Pemkot Surabaya menyiapkan ruang tunggu yang lebih representatif.

Ruangan tersebut direncanakan bisa ditutup, memiliki ventilasi yang baik, serta dilengkapi AC.

Area tunggu juga akan dipisahkan berdasarkan kelompok pasien, termasuk menyediakan tempat tersendiri bagi anak-anak agar tidak bercampur dengan pasien dewasa.

“Tempat tunggunya nanti ada AC-nya, jadi orang yang sakit makin sembuh, tidak makin sakit. Lalu, ada tempat yang terpisah-pisah. Kalau anak-anak, tempat nunggunya tersendiri, tidak dicampur dengan orang tua atau dewasa yang sedang sakit,” ujarnya.

Menyasar seluruh Puskemas yang mencapai 63 unit, persiapan teknis dan penganggaran mulai dilakukan saat ini.

Besaran anggaran per Puskesmas akan disesuaikan dengan kondisi bangunan dan kebutuhan perbaikan.

Tim teknis sedang menghitung kebutuhan biaya berdasarkan luas bangunan serta pekerjaan yang harus dilakukan di setiap lokasi.

“Penghitungannya beda-beda per Puskesmas, dilihat dari kondisinya. Ini lagi ada perhitungan yang dilakukan dalam waktu singkat. Insyaallah bisa, karena dari ilmu sipil kan bisa kelihatan kebutuhan biaya per meter perseginya berapa,” jelas Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Jawa Timur ini.

Selain perbaikan fisik, Eri menyoroti penerapan sistem antrean melalui e-Health.

Ia menilai, sistem pendaftaran daring belum berjalan optimal apabila pasien yang sudah mendaftar masih harus mengambil nomor baru hanya karena terlambat beberapa menit.

Padahal, apabila pendaftarannya melalui e-Health maka pasien dapat datang dengan menyesuaikan waktu pelayanan.

Namun menurutnya, pasien yang datang langsung tanpa mendaftar melalui aplikasi tetap harus dilayani, tetapi melalui alur dan ruang tunggu tersendiri.

Pelayanan pasien yang telah terdaftar melalui e-Health perlu diprioritaskan sesuai mekanisme yang disiapkan agar antrean tidak saling bertabrakan.

“Kalau dia langsung datang, maka dia ada tempat ruang tunggu tertentu yang dia akan dilayani setelah yang di e-Health itu selesai. Agar apa? Agar Puskesmas tidak antre,” katanya.

Pengaturan antrean

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr Billy Daniel Messakh mengatakan, peningkatan kualitas Puskesmas juga akan diarahkan pada penampilan bangunan, kebersihan, dan pengelolaan pelayanan.

Puskesmas yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memiliki kewenangan mengelola keuangannya sehingga perlu didorong untuk memprioritaskan peningkatan kualitas fasilitas.

“Sekarang itu Puskesmas semuanya sudah BLUD. Karena sudah BLUD, mereka yang mengatur uangnya sendiri. Tinggal kita atur supaya mereka menjadikan performa Puskesmas yang bagus itu sebagai prioritas,” kata Billy.

Menurut Billy, evaluasi pelayanan juga perlu menyentuh mekanisme antrean yang diterapkan di masing-masing Puskesmas.

Persoalan muncul ketika pasien telah mendaftar, tetapi terlambat datang dari waktu yang ditentukan sehingga urutan antreannya berubah dan memicu kebingungan.

Ia mencontohkan, pasien yang memperoleh nomor antrean dan jadwal kedatangan tertentu bisa mengalami perubahan urutan ketika datang terlambat.

Oleh karena itu, pengaturan antrean perlu dievaluasi agar pelaksanaannya lebih jelas dan tidak membingungkan pasien.

Billy menjelaskan, Puskesmas besar dapat melayani sekitar 250 pasien sehari.

Dengan jumlah kunjungan tersebut, pengelolaan antrean menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan bersama peningkatan kenyamanan ruang tunggu.

“Dengan revitalisasi dan pembenahan sistem pelayanan tersebut, kami menargetkan masyarakat memperoleh layanan kesehatan di Puskesmas yang lebih nyaman, tertib, dan efektif,” kata mantan Direktur RSUD dr Soewandhie ini.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version