Peluang Ekonomi Baru dari Rumput Laut

Penghasilan tambahan yang mencapai Rp 7 juta hingga Rp 8 juta sekali putaran panen rumput laut, dengan masa panen sekitar 45 hari, menjadi potensi besar bagi para petambak ikan atau udang di Indonesia. Bukan hanya sebagai bahan makanan seperti agar-agar, rumput laut kini memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku pengganti plastik. Hasil panen ini diekspor ke perusahaan start-up asal Australia untuk diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan seperti kancing baju, bingkai kacamata, kain, dan perlengkapan mobil.

Kehadiran Delegasi Senior Editors Program Australia-Indonesia

Jadwal pertemuan dalam program AL Legasi Australia-Indonesia Senior Editors Program mengalami perubahan mendadak. Pertemuan yang awalnya dijadwalkan setelah makan siang malah menjadi agenda utama pada pagi hari Selasa (19/5) di Perth, Australia Barat. Rombongan yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia tidak menuju gedung pemerintahan megah, melainkan sebuah kantor sederhana di kawasan Westminster, pinggiran Perth.

Di sanalah delegasi bertemu dengan Anne Aly, salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Australia saat ini. Anne Aly bukan menteri biasa. Sebagai politikus kelahiran Mesir, ia mengemban tiga portofolio sekaligus, yaitu Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, dan Menteri Urusan Multikultural. Ia juga tercatat sebagai muslimah pertama yang menjadi menteri dalam sejarah Australia.

Peran Indonesia dalam Hubungan Australia-Indonesia

Anne Aly menekankan arti penting hubungan antara Australia dan Indonesia, terutama dari perspektif pribadi sebagai seorang migran dan Muslim. “Sebagai seorang migran dan juga Muslimah, kemitraan dengan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia memiliki arti yang sangat penting bagi saya,” ujarnya. Ia mengaku telah beberapa kali mengunjungi Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya. Menurut dia, kerja sama kedua negara selama ini telah menghasilkan berbagai program nyata, mulai dari manajemen kebencanaan hingga pemberdayaan penyandang disabilitas.

Sebagai Menteri Usaha Kecil, Anne melihat masih banyak peluang kolaborasi dengan Indonesia, terutama dalam penguatan ekonomi perempuan dan sektor usaha mikro. “Saya pikir kita dapat melanjutkan berbagai program usaha mikro bagi perempuan dan sejumlah bidang prioritas lainnya seperti kesehatan serta disabilitas,” katanya.

Teknologi Bioplastik Berbasis Rumput Laut

Agenda berikutnya membawa delegasi ke kawasan pesisir Watermans Bay, Perth. Di lokasi itu berdiri perusahaan rintisan bernama Uluu yang tengah mengembangkan teknologi bioplastik berbahan dasar rumput laut. Michelle Wheeler, Kepala Komunikasi Uluu, menjelaskan bahwa plastik konvensional menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Karena itu, perusahaan tersebut mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Kami mengembangkan bahan pengganti plastik dari rumput laut. Kualitasnya bagus dan lebih berkelanjutan,” ujar Michelle. Delegasi kemudian diajak melihat langsung proses produksi. Di dalam fasilitas tersebut tampak rumput laut kering asal Indonesia yang didatangkan dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.

Hasil akhirnya cukup beragam, mulai dari kancing pakaian, bingkai kacamata, hingga komponen interior kendaraan. Secara virtual, CEO Uluu Indonesia Dian Kurniawati menjelaskan bahwa bahan baku diperoleh dari petani tambak yang membudidayakan rumput laut bersamaan dengan ikan atau udang.

Potensi Ekonomi yang Menguntungkan

“Masa panennya sekitar 45 hari. Dalam sekali panen petani bisa memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta,” kata Dian. Uluu saat ini menyerap sekitar 10 ton rumput laut Indonesia untuk diolah menjadi PHA (Polyhydroxyalkanoates), bahan dasar bioplastik yang dapat terurai secara alami. Teknologinya memanfaatkan mikroba air asin yang mengubah gula hasil ekstraksi rumput laut menjadi senyawa biopolimer. Bahan tersebut kemudian dicetak menjadi produk siap pakai seperti kancing, tekstil, dan berbagai komponen industri lainnya.

Hubungan Bilateral yang Semakin Kuat

Topik hubungan bilateral menjadi pembahasan dalam sejumlah diskusi berikutnya. Salah satu narasumber adalah Profesor Edward Buckingham dari Monash Business School yang juga menjabat Ketua Victoria Chapter Australia Indonesia Business Council (AIBC). Menurut Edward, hubungan kedua negara saat ini berada dalam fase yang sangat positif. Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya kerja sama perdagangan maupun investasi.

Ia mencontohkan ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia serta pasokan LPG Australia untuk Indonesia yang semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pandangan serupa disampaikan Profesor Gordon Flake, CEO Perth USAsia Centre sekaligus pakar hubungan internasional kawasan Indo-Pasifik.

Tantangan Pers di Era AI

Hari terakhir program diisi dialog antara editor senior Australia dan Indonesia. Salah satu topik utama yang mengemuka adalah masa depan industri media di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Meski menghadapi disrupsi digital, media cetak di Australia masih mampu bertahan. Surat kabar harian tetap terbit dengan jumlah halaman yang relatif tebal dan didukung model bisnis berbasis langganan pembaca.

Para peserta juga membahas tantangan lain yang dihadapi media, mulai dari tekanan politik, buzzer, hingga kepentingan kelompok tertentu yang dapat memengaruhi independensi pemberitaan. Dalam diskusi tersebut muncul kesepahaman bahwa masa depan media tidak dapat hanya mengandalkan teknologi. Jurnalisme berkualitas tetap harus bertumpu pada kerja lapangan, verifikasi fakta, dan laporan mendalam yang tidak bisa sepenuhnya digantikan AI.

Peserta Diskusi yang Berpengalaman

Delegasi Australia diwakili sejumlah editor dan jurnalis senior seperti Asia Pacipic Correspondent Surat Kabar The Australian Amanda Hodge, Head of Editorial Innovation The Corversation Ashlyne McGhee, ABC Asia Pacific Newsroom Helena Souisa, National Editor The Age dan Sydney Morning Herald David King, serta Guardian International Desk Kate Lamb.

Sementara Indonesia diwakili para pemimpin redaksi dan editor senior dari berbagai media nasional. Hadir Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar yang juga Ketua Forum Pemred Retno Pinasti, Domu D Ambarita dari Tribun Network, Wakil Pemimpin Redaksi Detikcom Fajar Pratama, dan Wakil Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Kartika Sari.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version