Isu Kepindahan RMS ke PSI dan Dampaknya terhadap Peta Politik Sulsel
Isu kepindahan Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan, Rusdi Masse (RMS), ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi topik hangat yang memicu perhatian publik dan kalangan pengamat politik. Menurut analisis dari Direktur Celebes Research Center (CRC), Saiful Bahri, isu ini tidak bisa dianggap remeh karena potensi dampaknya terhadap peta politik di Sulawesi Selatan sangat besar.
Profil RMS: Simbol Keberhasilan NasDem di Sulsel
Saiful Bahri menilai bahwa posisi RMS bukan hanya sebagai ketua partai, tetapi lebih dari itu. Ia menjadi simbol keberhasilan NasDem di wilayah Sulawesi Selatan. RMS dikenal memiliki insting politik yang kuat serta mesin politik yang solid dan militan hingga tingkat bawah. Hal ini membuatnya menjadi sosok penting dalam struktur partai.
“Kepindahan RMS tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa,” ujar Saiful. “Ini akan menjadi semacam ‘gempa’ bagi NasDem sendiri, sebaliknya, bagi partai yang dituju RMS, ini bisa menjadi ‘durian runtuh’.”
Kuatnya Politik Figur di Sulsel
Di wilayah Sulsel, politik figur memiliki pengaruh yang sangat besar. Saiful Bahri menjelaskan bahwa loyalitas pemilih dan kader di beberapa daerah basis RMS lebih tertuju pada sosok RMS daripada pada logo partai. Contohnya adalah daerah seperti Sidrap, Pinrang, hingga Ajatappareng.
“Ini yang harus benar-benar diantisipasi NasDem jika RMS benar-benar pergi,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kehilangan sosok seperti RMS bisa berdampak signifikan terhadap elektabilitas partai.
Ujian Serius bagi NasDem
NasDem kini sedang menghadapi fase ujian serius terkait jargon restorasi dan sistem kaderisasi partai. Jika RMS benar-benar pindah, maka partai harus membuktikan bahwa sistem partainya berjalan tanpa bergantung pada satu orang.
“Faktanya, praktik politik kita di daerah masih sangat bertumpu pada ketokohan,” ujar Saiful. Ia menegaskan bahwa NasDem perlu melakukan audit internal, terutama soal loyalitas infrastruktur di daerah.
Ancaman bagi Kader-Kader Muda NasDem
Selain itu, isu kepindahan RMS juga menjadi tantangan bagi kader-kader muda NasDem. Utamanya yang saat ini menduduki posisi strategis, termasuk Ketua DPRD Sulsel, Andi Rahmatika Dewi (Cicu). Saiful menilai bahwa ini ujian sesungguhnya bagi politisi muda NasDem.
“Selama ini banyak yang menikmati efek ekor jas tokoh senior. Sekarang mereka harus membuktikan daya tahan politiknya sendiri, tanpa bergantung pada komando dan logistik RMS,” ujarnya.
Tindakan yang Harus Dilakukan NasDem
Untuk meredam dampak yang mungkin timbul, Saiful Bahri menyarankan agar NasDem segera bergerak secara organisasi. Ia menekankan bahwa kepastian kepemimpinan di Sulsel menjadi kunci.
“Jangan merasa aman di atas, padahal di bawah sudah kosong,” pesannya. Ia menilai bahwa NasDem perlu memperkuat konsolidasi internal untuk menghindari kemungkinan eksodus kader.
Kursi Legislatif dan Loyalitas Politik
Meski kursi legislatif tidak bisa serta-merta ikut pindah partai karena terikat mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW), secara politik loyalitas kader di dalam parlemen bisa berubah. Ini bisa membuat NasDem pincang di legislatif jika konsolidasi partai tidak kuat.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, isu kepindahan RMS ke PSI menjadi momen penting bagi NasDem. Dengan posisi RMS yang sangat strategis, kehilangan sosok tersebut bisa berdampak luas terhadap peta politik Sulsel. Oleh karena itu, partai perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan konsolidasi internal.





