Safari Ramadhan di Cirebon: Pernyataan Tegas Gubernur Jawa Barat
Di tengah suasana penuh kekhidmatan dan antusiasme warga, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menggelar Safari Ramadan di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kabupaten Cirebon. Acara yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026) malam ini menjadi momen penting untuk menyampaikan pesan-pesan penting terkait berbagai isu sosial yang sedang marak terjadi.
Pesan Tegas tentang Kasus Vina
Salah satu topik utama yang disampaikan oleh Dedi Mulyadi adalah kasus Vina, seorang perempuan asal Desa Gombang yang diduga terjebak dalam sindikat nikah pesanan di luar negeri. Dedi menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan segera turun tangan untuk menangani kasus ini.
“Dari atas panggung, saya memastikan bahwa pemerintah provinsi akan menangani kasus Vina. Nanti akan dijemput seperti warga lainnya ketika berada di luar negeri,” ujar Dedi dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut langsung disambut dengan tepuk tangan meriah dari ribuan warga yang hadir. Dedi juga menyampaikan bahwa data kasus Vina akan segera disampaikan kepada Bupati Cirebon untuk dikoordinasikan lebih lanjut.
Fenomena Perempuan Jawa Barat yang Terjebak Janji Pernikahan Luar Negeri
Selain itu, Dedi juga menyentil fenomena perempuan Jawa Barat yang mudah tertarik dengan janji-janji manis pernikahan ke luar negeri. Ia menyoroti bagaimana banyak perempuan yang tergoda oleh janji uang atau mahar yang mewah, namun akhirnya tidak terpenuhi.
“Banyak sekali perempuan Jawa Barat yang mudah tergoda oleh janji uang, janji dinikahi dengan mahar yang mewah. Pada akhirnya, seluruh janji itu tidak ditepati, seperti janjinya politisi,” katanya, disambut tawa hadirin.
Dedi menekankan pentingnya kesadaran diri dan kewaspadaan terhadap tawaran-tawaran yang terlalu bagus untuk dipercaya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah akan terus memberikan perlindungan bagi warga yang terjebak dalam situasi semacam ini.
Pentingnya Kepemimpinan yang Berorientasi Rakyat
Dalam pidatonya, Dedi juga menyampaikan pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia menegaskan bahwa atribut seperti partai, golongan, atau ormas tidak lagi relevan ketika seseorang menjadi pemimpin.
“Saya tidak akan pernah memimpin membicarakan dari mana partainya, dari mana golongannya, dari mana ormasnya. Seluruh atribut itu hilang ketika kita jadi pemimpin. Yang ada hanya satu: kepentingan rakyat yang harus lebih utama dari kepentingan pribadi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten dalam membangun daerah. Menurut Dedi, kerja sama yang baik antara gubernur dan bupati dapat membantu memperbaiki berbagai masalah yang ada.
Acara yang Penuh Nuansa Religius dan Nasionalis
Acara Safari Ramadan kali ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Gus Miftah Maulana Habiburokhman, Bupati Cirebon Imron, serta unsur Forkopimda Kabupaten Cirebon. Selain itu, hadir pula anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten Cirebon, serta jajaran pemerintah Desa Kedungjaya.
Di lokasi acara, nuansa religius dan nasionalis sangat kental terasa. Lambang Garuda Pancasila terpampang besar di bagian tengah panggung, lengkap dengan kain merah putih yang menjuntai. Dua layar LED raksasa di sisi panggung menampilkan logo Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan ilustrasi kepala harimau.
Lampu sorot putih dan kuning menyapu langit malam, sementara ribuan warga memadati area depan panggung. Banyak di antaranya mengangkat ponsel untuk merekam momen tersebut. Lantunan selawat yang diiringi musik hadroh menciptakan suasana khidmat sekaligus semarak.
Video Call Langsung dengan Vina
Sebelum menyampaikan pernyataannya di atas panggung, Dedi Mulyadi diketahui telah melakukan video call langsung dengan Vina selama sekitar 25 menit pada hari yang sama. Dalam percakapan tersebut, Dedi bertanya tentang kronologi kejadian dan meminta Vina untuk menjelaskan secara jujur agar tidak terjadi kesalahan di kemudian hari.
Vina mengaku sempat ditegur oleh Dedi, karena ia merasa ada kesalahan dalam tindakannya. Namun, ia tetap menerima teguran tersebut. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk segera dipulangkan.
“Vina minta dibantu pulang pak, soalnya semua berkas ditahan. Vina gak tahu kalau mereka agen,” jelasnya.
Ia juga diminta untuk membagikan lokasi dan nomor pihak yang terlibat. “Disuruh sharelock, kirim nomor pelaku sama kontak,” katanya.
Meski telah mendapat respons langsung dari orang nomor satu di Jawa Barat, rasa takut masih menghantui Vina. Namun, ia mengaku mendapat penguatan dari Dedi.
“Katanya enggak, tenang aja. Kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat,” tuturnya menirukan pesan yang diterimanya.
Dari tangkapan layar video call yang diperoleh, terlihat Dedi mengenakan pakaian putih dan penutup kepala tradisional dengan latar pintu kayu berukir. Di pojok bawah layar tampak wajah Vina dalam jendela kecil (self-view). Durasi panggilan tercatat sekitar 25 menit.
