Pementasan Teater “Iswara” di Asrama Al Furqon, Mengangkat Isu Ketidakadilan Perempuan
Pementasan teater “Iswara” yang digelar oleh santri Asrama Al Furqon menarik perhatian banyak pihak. Dalam pementasan ini, isu ketidakadilan terhadap perempuan menjadi fokus utama. Setiap adegan dibuat dengan prinsip pesantren, tetapi tetap menjaga alur cerita utuh. Pementasan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter, kreativitas, dan keberanian menyampaikan kritik dalam lingkungan pesantren.
Kehidupan Asih dalam Drama “Iswara”
Dalam lakon “Iswara”, tokoh utama bernama Asih adalah putri seorang kepala desa yang memiliki kedudukan terhormat. Namun, di balik statusnya, ia menghadapi tekanan dari ayahnya yang otoriter. Ayah Asih memandang pendidikan perempuan sebagai hal yang tidak perlu diperjuangkan. Bagi Asih, rumah justru menjadi tempat pertama kali ia berjuang untuk gagasan-gagasan yang ingin ia wujudkan.
Asih memiliki mimpi besar, yaitu membuka sekolah bagi anak-anak desa. Langkah ini dianggap melawan adat dan kodrat yang biasanya diberlakukan terhadap perempuan. Tekanan datang dari berbagai arah, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Dari konflik ini, drama bergerak dari sekadar cerita menjadi cermin sosial. Dialog demi dialog dalam lakon ini menyentuh soal hak, pilihan hidup, serta tafsir peran perempuan dalam budaya patriarki.
Pemisahan Adegan Laki-Laki dan Perempuan
Ada hal unik yang membuat pementasan ini berbeda. Sepanjang pertunjukan, tidak ada satu pun adegan yang mempertemukan pemeran laki-laki dan perempuan dalam satu panggung yang sama. Babak demi babak disusun secara terpisah. Ketika tokoh laki-laki tampil, panggung menjadi milik mereka sepenuhnya. Begitu pula saat adegan beralih pada tokoh perempuan. Tidak ada tatap muka langsung, tidak ada sentuhan, bahkan tak ada dialog silang antarlawan jenis secara fisik.
Namun, alur cerita tetap utuh. Cerita tidak terputus. Transisi cahaya, musik latar, serta pengaturan adegan membuat emosi penonton tetap terjaga. Keterbatasan justru melahirkan kreativitas baru dalam penyutradaraan. Konsep ini sejalan dengan prinsip yang dijaga di lingkungan pesantren. Seni tetap diberi ruang tumbuh, tetapi tidak keluar dari koridor nilai dan syariat yang diyakini para santri.
Wadah Pembinaan Karakter Santri
Pengasuh Asrama Al Furqon PP Darul Ulum Rejoso, KH. Mustain Dzul Azmi atau Gus Azmi menjelaskan bahwa seni teater di pondoknya adalah wadah pembinaan karakter untuk para santri. Dalam teknis pelaksanaannya, para santri diberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi kemampuan diri dan tetap berpihak pada koridor syariat.
“Pementasan diatur menggunakan strategi. Setiap babak tidak ada pertemuan ataupun dialog antara santri laki-laki dan perempuan,” katanya dalam keterangan yang diterima Infomalangraya.net pada Sabtu (14/2/2026). Baginya, teater bukan sekadar hiburan. Ia adalah medium pembelajaran. Melalui panggung, santri belajar percaya diri, bekerja sama, menyusun gagasan, hingga menyampaikan kritik dengan cara santun.
Kesimpulan
Di akhir pementasan, pita merah di tubuh Asih memang belum sepenuhnya terlepas. Tetapi pesan yang ditinggalkan terasa jelas, suara yang berani tak mudah dibungkam. Malam itu, di sebuah aula pesantren di Jombang, para santri membuktikan bahwa seni bisa tumbuh berdampingan dengan nilai. Bahwa panggung dapat menjadi ruang dakwah sekaligus ruang kritik. Dan bahwa di balik keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk merdeka.





