Perang AS-Israel terhadap Iran: Kekacauan yang Menjalar dan Tantangan Politik
Sepekan setelah agresi AS-Israel terhadap Iran, kawasan Timur Tengah tengah berada dalam kekacauan. Presiden Donald Trump menghadapi tantangan besar dalam menerjemahkan keberhasilan militer menjadi kemenangan geopolitik. Meskipun serangan terhadap pasukan Iran di darat, laut, dan udara telah mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, konflik ini justru meluas menjadi perang regional yang sulit dikendalikan.
Trump, yang sebelumnya berjanji untuk menjauhkan AS dari intervensi militer yang “bodoh”, kini terlibat dalam operasi militer yang tidak dipicu oleh ancaman langsung terhadap AS. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang tujuan dan strategi yang jelas dari operasi tersebut. Laura Blumenfeld dari Johns Hopkins School for Advanced International Studies menyatakan bahwa serangan Iran bisa menjadi kampanye militer yang berantakan dan berpotensi berlarut-larut.
Tujuan yang Tidak Jelas dan Dukungan yang Terpecah
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa tujuan Trump adalah “menghancurkan rudal balistik dan kapasitas produksi Iran, menghancurkan angkatan laut mereka, mengakhiri kemampuan mereka untuk mempersenjatai proksi mereka, dan mencegah mereka memperoleh senjata nuklir.” Namun, jika perang berlarut-larut, jumlah korban di Amerika meningkat, dan kerugian ekonomi akibat gangguan aliran minyak di Teluk meningkat, maka pertaruhan kebijakan luar negeri Trump juga dapat merugikan Partai Republik secara politik.
Meskipun ada kritik dari beberapa pendukung Trump, sebagian besar anggota gerakan Make America Great Again (MAGA) masih mendukungnya dalam kaitannya dengan Iran. Namun, melemahnya dukungan mereka dapat membahayakan kendali Partai Republik atas Kongres pada pemilu sela bulan November.
Kekhawatiran terhadap Rezim Iran
Para analis khawatir dengan pesan beragam dari Trump dan para pembantunya mengenai apakah ia mengupayakan “perubahan rezim” di Teheran. Pada awal konflik, ia menyatakan bahwa menggulingkan penguasa Iran adalah sebuah tujuan, namun dua hari kemudian, ia berhenti menyebutkan hal itu sebagai prioritas. Pernyataan Trump yang terakhir menunjukkan bahwa ia akan berperan dalam memilih pemimpin Iran berikutnya dan mendorong pemberontak Kurdi Iran untuk melancarkan serangan.
Di seluruh kawasan, bahaya meningkat seiring dengan serangan balasan Iran terhadap Israel dan negara-negara tetangga lainnya. Milisi Hizbullah Lebanon telah memperbarui perang dengan Israel, dan memperluas perang ke negara lain. Korban di pihak Amerika sejauh ini rendah, dengan enam anggota militer tewas, namun Trump sebagian besar mengabaikan kemungkinan terjadinya lebih banyak korban di masa depan.
Ancaman terhadap Selat Hormuz
Salah satu kekhawatiran utama saat ini adalah ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, jalur sempit yang dilewati seperlima minyak dunia. Lalu lintas kapal tanker terhenti, yang dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi serius jika hal ini terus berlanjut. Trump secara terbuka menepis segala kekhawatiran mengenai kenaikan harga gas di AS, namun ia dan para pembantunya telah berupaya mencari cara untuk memitigasi dampak perang terhadap pasokan energi.
Tantangan Ekonomi dan Politik
Durasi perang masih belum diketahui dan kemungkinan besar akan menentukan sejauh mana dampaknya. Dengan semakin tingginya biaya yang harus ditanggung untuk kampanye Iran, Trump mengatakan bahwa operasi tersebut dapat berlangsung selama empat atau lima minggu atau “sejauh yang diperlukan”. Namun, ia hanya memberikan sedikit penjelasan mengenai apa yang ia bayangkan akan terjadi selanjutnya.
Seorang perempuan Iran menangis saat berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, Ahad (1/3/2026), untuk mengekspresikan duka cita atas syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Para pekerja mengevakuasi kilang, yang terletak di selatan kota pelabuhan Jubail, Arab Saudi setelah dilaporkan adanya serangan pesawat tak berawak Iran pada Senin (2/3/2026). – (Social Media via Reuters)

Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. – (EPA/ABIR SULTAN)

Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. – (EPA/Stringer)




