Infomalangraya.net – Fei Zhaojun, programmer komputer berusia 40 tahun di Beijing, di-PHK bersama sekitar 160 rekan kerjanya, hanya dua pekan setelah atasannya mempertanyakan apakah kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) bisa menggantikan pekerjaan programmer manusia.
Kisah Fei mencerminkan kegelisahan yang kian meluas di kalangan pekerja China, seiring adopsi AI yang berlangsung sangat cepat di berbagai sektor industri negara itu.
“Pekerjaan coding level menengah pada dasarnya bisa digantikan di kebanyakan kasus. Bahkan jika ini adalah bencana yang berujung pada tergantikannya semua manusia, pada tahap ini, kita tetap harus memakainya karena semua orang lain juga memakainya,” kata Fei.
Kini, Fei mengisi waktu kosongnya dengan membuat video pendek (vlog) tentang kehidupan orang-orang biasa.
Data dari lembaga riset International Data Corporation (IDC) menunjukkan jumlah perusahaan industri di China yang memakai model dan agen AI melonjak dari 9,6 persen pada 2024 menjadi 47,5 persen pada 2025.
Dampaknya pun mulai terasa di sektor lain. Produksi serial drama pendek yang memakai aktor sungguhan anjlok sekitar 75 persen, seiring makin banyak studio beralih memakai video hasil produksi AI, menurut sejumlah laporan media China.
Tingkat pengangguran di perkotaan China saat ini berkisar 5 persen. Namun angka pengangguran anak muda usia 16-24 tahun tercatat sekitar tiga kali lipat dari angka itu. Angka ini di luar mereka yang masih berstatus pelajar.
Kondisi ini diperparah oleh struktur populasi China yang menua dan menyusut. Negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa ini diproyeksikan hanya memiliki kurang dari dua orang usia produktif untuk menanggung setiap satu lansia pada 2050.
Rasio itu jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat (AS), yang pada periode sama diproyeksikan masih punya lebih dari 2,5 orang usia produktif per lansia.
Yang ikut terdampak
Fei bukan satu-satunya pekerja yang terdampak. Du Qinchun, penerjemah freelance di Chengdu, kini justru dipekerjakan untuk melatih model AI penerjemah, pekerjaan yang dulu berpotensi menggantikan profesinya sendiri.
“Memang benar bahwa upah di industri ini sudah dipangkas lebih dari separuh dibanding beberapa tahun lalu,” kata Du.
Wang Zheng, penulis skenario berusia 32 tahun yang sebelumnya menggarap video edukasi animasi 3D, mengundurkan diri setelah perusahaannya memangkas separuh dari 13 penulis skenario yang bekerja di sana.
Kini, Wang bekerja secara mandiri membuat buku cerita anak bergambar, dengan AI sebagai salah satu alat bantunya.
Robot humanoid kini mulai dipakai menyortir paket di kantor pos, meski skalanya masih kecil. Robot-robot ini juga mulai merambah tugas yang tadinya dianggap butuh sentuhan manusia, seperti mengatur lalu lintas dan membuat kopi.
Robot pengantar makanan pun makin banyak ditemui di berbagai kota di China. Kehadirannya berpotensi mengancam mata pencaharian jutaan pekerja pengantar makanan di negara itu.
Tak semua merasa terancam
Meski begitu, tak semua pekerja memandang AI sebagai ancaman.
Yang Zheng, guru kimia SMA berusia 29 tahun, menilai kehadiran AI justru membantu proses belajar-mengajar.
“Guru tidak bisa selalu ada setiap saat. Ini hal yang baik bagi siswa karena AI bisa menghasilkan jawaban secara real-time, sehingga siswa bisa langsung mengajukan pertanyaan lanjutan,” kata Yang.
Analis dari lembaga riset Plenum, Shujing He, menyebut sikap masyarakat China terhadap AI cenderung berbeda dibanding negara lain.
“Sentimen anti-AI di China tampak jauh lebih rendah dibanding di tempat lain. Kebanyakan orang tampak bersikap positif, netral, atau sekadar tertarik dengan AI,” kata He.
He menambahkan, tugas yang dulu membutuhkan pelatihan khusus kini bisa dikerjakan hampir semua orang yang punya akses ke perangkat AI.
“Tugas yang dulu membutuhkan pelatihan khusus kini bisa dikerjakan oleh hampir siapa saja yang memiliki akses ke perangkat AI. Ini terlihat jelas terutama di bidang pengembangan software dan pembuatan konten multimedia,” kata He. “Akibatnya, pekerja yang perannya terlalu terfokus di bidang-bidang ini bisa menghadapi risiko tergantikan yang lebih besar.”
Sebuah laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menemukan bahwa perempuan menghadapi risiko kehilangan pekerjaan akibat AI yang lebih tinggi dibanding laki-laki.
Menurut laporan itu, perempuan cenderung bekerja di bidang yang lebih rentan terhadap otomatisasi, seperti perakitan komponen elektronik. Perempuan juga masih kurang terwakili di bidang sains dan teknologi, sehingga peluang mereka beralih ke pekerjaan baru yang muncul akibat AI pun lebih terbatas.
Kebijakan AI Plus
Sikap masyarakat yang relatif terbuka terhadap AI ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah China sendiri.
Lewat inisiatif bertajuk “AI Plus” dan rencana pembangunan lima tahun yang berlaku hingga 2030, pemerintah China secara aktif mendorong penyebaran AI ke berbagai sektor industri, sebagai bagian dari upaya mengungguli AS dalam persaingan teknologi.
Namun sejumlah ekonom mengingatkan, adopsi AI yang terlalu cepat berisiko justru melemahkan kekuatan ekonomi China secara keseluruhan.
Ekonom dari Cornell University, Eswar Prasad, menilai AI memang berpotensi mendongkrak produktivitas di berbagai sektor, tetapi juga membawa risiko bagi lapangan kerja.
“AI kemungkinan besar akan mendongkrak produktivitas di berbagai sektor, tetapi bisa membawa dampak sangat mengganggu terhadap lapangan kerja, yang akan memperparah masalah pertumbuhan lapangan kerja,” kata Prasad.
Kekhawatiran pekerja atas potensi kehilangan pekerjaan pun disebut mulai menekan belanja konsumen di China, memperparah tekanan ekonomi yang sebelumnya sudah muncul akibat perlambatan sektor properti di negara itu, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Associated Press dan Fortune.





