SBY Mengingatkan Bahaya Perang Dunia III
Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan pernyataan yang mengejutkan mengenai potensi terjadinya Perang Dunia III. Ia menyampaikan kekhawatiran tersebut melalui akun media sosialnya, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026). SBY mengungkapkan bahwa situasi dunia saat ini memiliki kesamaan dengan masa menjelang Perang Dunia I dan II. Ia juga mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar Sidang Umum Darurat untuk mencegah krisis global yang lebih besar.
Kekhawatiran SBY tentang Situasi Global
SBY mengatakan bahwa selama tiga tahun terakhir, ia telah memperhatikan perkembangan dunia secara mendalam. Menurutnya, situasi saat ini sangat mirip dengan masa sebelum Perang Dunia I dan II. Hal-hal seperti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus akan perang, pembentukan aliansi negara-negara yang saling bertentangan, serta peningkatan pembangunan kekuatan militer menjadi indikator yang mengkhawatirkan.
Ia juga menyebutkan beberapa dinamika global yang memicu ketegangan, antara lain:
- Operasi militer AS di Venezuela pada awal Januari 2026.
- Ancaman Presiden Donald Trump untuk mencaplok Greenland.
- Perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun kelima.
- Peluncuran rudal balistik Korea Utara ke arah timur.
- Ketegangan China-Taiwan dengan aktivitas militer China di sekitar Taiwan.
- Krisis Iran yang diakibatkan oleh tekanan dari Israel dan AS.
- Eskalasi konflik di Sudan yang menyebabkan pengungsian dan kekerasan.
Doa Tidak Cukup untuk Mencegah Perang
SBY menyoroti bahwa doa saja tidak cukup untuk mencegah peperangan. Ia menegaskan bahwa umat manusia dan bangsa-bangsa harus berupaya keras untuk mencegah terjadinya perang. Ia juga mengingatkan bahwa jika perang benar-benar terjadi, korban jiwa bisa mencapai lebih dari lima miliar orang, serta kehancuran dengan skala masif.
SBY merujuk pada kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang menyatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia.
Usulan PBB Menggelar Sidang Umum Darurat
SBY mengusulkan agar PBB segera menggelar Sidang Umum Darurat yang dihadiri para pemimpin dunia. Tujuannya adalah untuk mengambil langkah-langkah nyata dalam mencegah krisis global skala besar, termasuk kemungkinan terjadinya Perang Dunia III. Meskipun ia mengakui bahwa PBB saat ini tidak sepenuhnya berdaya, ia berharap lembaga tersebut tidak tercatat sebagai organisasi yang tidak mampu bertindak.
Ia menegaskan bahwa PBB dan para pemimpin dunia harus segera bertindak. “Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.”
Reaksi Sekutu Putin atas Deklarasi NATO
Ancaman terhadap potensi Perang Dunia III semakin menguat setelah serangan militer AS ke Venezuela dan rencana invasi ke Greenland. Viktor Medvedchuk, politikus pro-Kremlin, memperingatkan bahwa deklarasi niat dari Prancis dan Inggris untuk mendirikan pusat militer di Ukraina bisa menjadi provokasi yang membawa dunia ke perang dunia ketiga.
Menurut laporan Tass, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyampaikan kritik keras terhadap negara-negara Barat, terutama Eropa, yang dianggap mengobarkan histeria anti-Rusia dan mendukung Ukraina demi memperpanjang konflik.
Deklarasi Paris dan Peran NATO
Deklarasi Paris yang ditandatangani oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertujuan untuk mencegah agresi Rusia di masa depan serta mendukung kedaulatan Ukraina. Namun, pejabat Rusia dan sekutunya berpendapat bahwa langkah ini justru meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO.
NATO, yang awalnya dibentuk setelah Perang Dunia II untuk menghadapi Uni Soviet, terus berkembang ke Eropa Timur. Rusia melihat ekspansi ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Meskipun Ukraina bukan anggota NATO, negara ini masih menjadi fokus utama dalam hubungan geopolitik antara Rusia dan Barat.




