Peringatan SBY tentang Potensi Perang Dunia Ketiga
Anggota Komisi I DPR Fraksi Nasdem, Amelia Anggraini, memberikan tanggapan terhadap peringatan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga. Menurutnya, peringatan tersebut adalah bentuk alarm pencegahan yang bertujuan untuk memperkuat upaya mencegah konflik yang lebih besar, bukan untuk menambah kepanikan.
Amelia menekankan bahwa SBY telah lama memperhatikan isu perdamaian dan keamanan internasional. “Saya menghormati peringatan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI ke-6 dan juga negarawan yang puluhan tahun menekuni isu perdamaian dan keamanan internasional,” ujarnya.
Ia menilai kekhawatiran SBY soal risiko eskalasi menuju konflik yang lebih luas patut dianggap sebagai peringatan dini. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk memperkuat langkah-langkah de-eskalasi, bukan untuk menciptakan kecemasan berlebihan.
Mendorong PBB untuk Sidang Darurat
Selain itu, Amelia menyambut baik dorongan SBY agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat untuk mencegah potensi perang dunia. Namun, ia menyarankan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) lebih proaktif dalam menjalankan strategi diplomasi.
Beberapa langkah yang disarankan oleh Amelia antara lain:
- Penguatan diplomasi pencegahan
- Mendorong forum-forum darurat yang relevan
- Memastikan perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan
- Menegakkan penghormatan pada hukum internasional
Tujuan dari langkah-langkah ini adalah untuk memperlebar ruang dialog sebelum “ruang dan waktu” pencegahan semakin sempit.
Kebijakan Luar Negeri yang Kuat Dimulai dari Dalam Negeri
Meskipun mendukung langkah-langkah diplomatik internasional, Amelia menekankan pentingnya penguatan fondasi di dalam negeri. Ia setuju dengan penekanan Menteri Luar Negeri Sugiono bahwa foreign policy begins at home.
Menurut Amelia, kebijakan luar negeri yang kuat harus didasari oleh:
- Ketahanan nasional
- Stabilitas sosial dan ekonomi
- Ketahanan energi dan pangan
- Kesiapsiagaan perlindungan WNI
- Koordinasi lintas lembaga
Dengan fondasi yang kuat, Indonesia bisa lebih efektif dalam mendorong perdamaian secara bebas-aktif, kredibel, dan berorientasi hasil.
Peringatan SBY yang Mengkhawatirkan
Sebelumnya, SBY menyatakan bahwa Perang Dunia Ketiga sangat mungkin terjadi. Meskipun ia tetap percaya bahwa perang besar ini bisa dicegah, namun ia mengkhawatirkan ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit.
“Day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” ujar SBY.
Ia mengaku selama tiga tahun terakhir terus mengikuti perkembangan dunia, khususnya dinamika global belakangan ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, SBY merasa cemas akan potensi perang dunia ketiga.
Kesamaan Situasi Global Saat Ini dengan Sejarah
SBY menyoroti kesamaan situasi global saat ini dengan peristiwa Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945). Beberapa hal yang disebutnya antara lain:
- Munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang
- Terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan
- Pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perang
- Geopolitik yang benar-benar panas
Ia menilai bahwa sejarah mencatat bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi.
“Saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi,” ujar SBY.





