Kehidupan Orang-orang Sederhana yang Menyentuh Hati
Di tengah hujan yang terus mengguyur, seorang ibu berjalan dengan jas hujan dan mendorong gerobak yang ditutup plastik. Di atas gerobak itu, payung terbuka menjadi pelindung bagi dirinya dari tetesan air hujan. Suaranya yang keras memanggil “Jagung… jagung… jagung.” Tiba-tiba, dia berhenti di depan rumah tetangga, yang ingin membeli jagung rebus dari si ibu. Dia tampak lega setelah transaksi selesai.
Pada suatu hari lain, ketika cuaca agak cerah, seorang bapak melewati gang kami sambil mengendarai sepeda motor yang penuh dengan kerupuk dalam kemasan plastik. Ia tersenyum dan menegur saya dengan sopan, “Mari pak,” katanya. Saya merespons dengan senyum dan sedikit menunduk memberi hormat. Bapak ini adalah tetangga kami yang menjual kerupuk. Ia membungkus kerupuk-kerupuk itu di rumah, lalu membagikannya ke berbagai warung mitra dagangnya di sekitar kota.
Diam-diam, saya terharu dan kagum pada orang-orang sederhana seperti mereka. Mereka mungkin bukan orang yang berpendidikan tinggi atau hidup dalam kemewahan. Namun, mereka tidak pernah menyerah. Mereka menjalani hidup dengan penuh semangat dan antusias. Tak ada kata berhenti, meskipun harus keliling kampung bersama gerobak sambil diguyur hujan atau dibakar matahari. Bahkan, tak ada kata menyerah, meskipun harus membawa kerupuk bergelantungan kesana-kemari, dalam hujan atau panas.
Saya teringat pada dialog dengan peserta pelatihan sertifikasi pembimbing ibadah haji beberapa waktu lalu. Salah seorang peserta bertanya, “Bagaimana memahamkan kepada orang awam tentang hikmah dan filosofi haji?” Setelah berhenti sejenak, saya mencoba menjawab. “Orang awam, yang pendidikannya tidak tinggi, belum tentu secara moral dan ruhani lebih rendah dari kaum terpelajar. Seringkali, karena kesederhanaannya, orang awam menerima agama dengan penuh keyakinan dan berusaha sungguh-sungguh mengamalkannya dalam kehidupan,” kataku.
Tidak semua ilmu melahirkan amal. Orang perlu berjuang untuk mendapatkan ilmu, dan juga berjuang lagi untuk mengamalkannya. Karena itu, pendidikan tinggi tidak menjamin moralitas yang tinggi. Bukankah banyak koruptor di negeri kita berasal dari kalangan berpendidikan tinggi? Masalah serius seperti penyelewengan uang negara, kerusakan alam, layanan publik yang buruk, dan penegakan hukum yang lemah sering kali disebabkan oleh para elit terpelajar, bukan orang awam.
Suatu pagi, istri saya mengambil uang tunai dari ATM, lalu pergi ke pasar tradisional untuk belanja sayur dan ikan. Setelah pulang ke rumah, dia sangat lelah dan langsung beristirahat. Pada sore harinya, dia menyadari bahwa dompet dan kartu ATM-nya hilang. Dia segera menelepon salah satu pedagang pasar. Istri saya bertanya, “Apakah ibu melihat atau menemukan dompet saya tertinggal?” Pedagang itu menjawab, “Tidak ada bu. Jangankan dompet, sayur saja kalau punya orang lain, kami akan amankan. Mungkin tertinggal di pedagang lain.”
Pedagang itu berjanji akan menghubungi beberapa pedagang lain yang tadi pagi bertransaksi dengan istri saya. Kami sempat berniat untuk memblokir kartu ATM tersebut. Namun, dua jam kemudian, dia menelepon kembali. “Dompet ibu ada. Seorang tukang becak sudah berusaha mengembalikan ke rumah ibu, tapi rumah ibu sepi tadi siang.” Kami lega. Istri saya berjanji akan mengambil dompet itu besok pagi.
Pagi-pagi, istri saya pergi ke pasar dan bertemu dengan para pedagang yang baik hati serta tukang becak. Dompetnya dibungkus dan diikat dalam kantong plastik. “Kami tak berani membuka dan melihat dompet ini,” kata mereka. Ucapan mereka polos dan tulus. Ketika istri saya memberikan sedikit imbalan kepada tukang becak, dia menolak. “Jangan bu, tidak perlu,” katanya. Hanya setelah uang itu diselipkan dengan sedikit memaksa, dia menerima.
Ya Allah. Meskipun hidup pas-pasan, orang-orang sederhana ini sangat sadar mana yang betul-betul hak mereka dan mana yang bukan; mana yang halal dan mana yang haram.
Dengan menceritakan berbagai kejadian nyata ini, bukan berarti saya menganggap semua orang awam dan kurang berpendidikan itu jujur dan baik. Dalam semua lapisan masyarakat, entah kelas bawah, tengah, atau atas, selalu ada orang baik dan orang jahat, orang jujur dan orang culas. Namun, ada satu poin penting di balik peristiwa-peristiwa tersebut: jika orang awam dan miskin bersedia mencari nafkah yang halal dengan antusias dan enggan mengambil yang bukan haknya, maka kaum elit terpelajar seharusnya lebih baik dari itu, bukan?
Apalagi jika kita termasuk kelas berpunya, mendapat gaji yang lumayan, dan ada jaminan pensiun di hari tua. Mengapa orang yang hidupnya lebih nyaman dan terjamin justru serakah, lalu mau melakukan apapun tanpa memikirkan halal-haram atau hak-batil demi mendapatkan uang lebih banyak?
“Rasa malu adalah sebagian dari iman,” kata Nabi. Iman adalah percaya pada yang baik dan benar. Lawan iman adalah kufur. “Jika kau tak punya malu, lakukan apapun yang kau mau,” kata Nabi.
Jika kita sudah tak punya rasa malu, berarti kita sudah tak lagi menjadi manusia!





