Peristiwa Kebakaran yang Mengubah Kehidupan Siswa SD Negeri 61 Mahakeret
Pada akhir tahun 2025, sebuah peristiwa tragis terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SD) 61 Mahakeret, Manado, Sulawesi Utara. Gedung sekolah tersebut tiba-tiba terbakar, menyebabkan seluruh bangunan hancur dan siswa harus beralih belajar ke sekolah-sekolah sekitar. Kejadian ini menimbulkan rasa sedih dan khawatir bagi para siswa, guru, serta masyarakat sekitar.
Kebakaran terjadi pada hari Rabu, 17 Desember 2025, siang hari. Api menyebar dengan cepat karena angin kencang, sehingga hanya dalam beberapa menit, api melalui rumah tetangga dan menyerang gedung sekolah. Hanya dinding yang tersisa, sementara isi ruangan seperti meja, kursi, dan dokumen penting hangus terbakar. Beruntung, saat kejadian, para siswa sedang liburan, sehingga tidak ada korban jiwa. Namun, para guru tetap berada di sekolah dan harus menghadapi situasi yang sangat mengerikan.
Marho, salah satu guru yang menjadi saksi kejadian, mengatakan bahwa awalnya mereka melihat asap pekat dari rumah yang terbakar. Asap itu langsung memenuhi ruang kelas dan kantor. Para guru berusaha menyelamatkan barang-barang di dalam kelas, namun kondisi yang semakin parah membuat mereka terpaksa mundur. Beberapa alat elektronik seperti laptop dan chromebook berhasil diselamatkan, tetapi banyak barang lain yang musnah, termasuk ijazah dan dokumen penting.
Siswa-siswa yang sedang liburan datang ke sekolah setelah kejadian. Mereka melihat pemandangan yang menyedihkan dan langsung menangis. Salah satu siswa bahkan memeluk guru dan bertanya, “Bu, kami nanti sekolah dimana?” Guru tersebut tidak bisa menjawab dan hanya merangkulnya. Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa dan guru.
Upaya Pemerintah untuk Memperbaiki Sekolah
Walikota Manado, Andrei Angouw, telah mengajukan permohonan kepada Kementerian untuk pembangunan kembali SD Negeri 61 Mahakeret. Ia menyatakan bahwa pembangunan sekolah tersebut tidak masuk dalam APBD 2026 karena waktu yang terlalu dekat dengan akhir tahun. APBD sudah ditutup, sehingga tidak sempat diproses. Namun, jika dana dari Kementerian belum tersedia, pemerintah kota berencana untuk menganggarkan pembangunan di APBD berikutnya agar siswa dapat segera memiliki ruang kelas baru.
Andrei Angouw berharap sekolah tersebut segera diperbaiki. Ia juga mengatakan bahwa para siswa sangat berharap bisa kembali belajar di sekolah mereka sendiri. “Jika dana Kementerian tak turun, maka akan kami anggarkan lagi di APBD berikutnya,” katanya.
Harapan Siswa dan Guru
Jacky, salah satu siswa SD Negeri 61 Mahakeret, menyampaikan harapannya agar sekolah segera dibangun. “Saya ingin sekolah ini segera dibangun, agar kami bisa belajar kembali,” ujarnya. Harapan serupa juga disampaikan oleh Marho, guru yang masih terus berada di sekolah setelah kejadian. Ia mengatakan bahwa para siswa dan guru sangat sedih dan berharap kejadian ini tidak terulang.
Sekolah yang sebelumnya menjadi tempat belajar dan berbagai kenangan indah kini hanya tinggal dinding. Para siswa dan guru terus berdoa agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga dan membawa perubahan positif.
Rencana Kedepan
Untuk sementara, para siswa SD Negeri 61 Mahakeret belajar di sekolah-sekolah terdekat. Meskipun situasi ini cukup merepotkan, mereka tetap bersemangat untuk belajar. Para guru juga berusaha memberikan dukungan penuh agar siswa tetap fokus pada pendidikan.
Dengan upaya pemerintah dan komunitas sekitar, diharapkan sekolah tersebut segera pulih dan kembali menjadi tempat belajar yang nyaman bagi siswa. Semoga kejadian ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan dan keamanan di lingkungan pendidikan.
