Pemerintah tetap memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan selama bulan Ramadhan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan. Ia menegaskan bahwa siswa akan tetap mendapatkan makanan yang layak untuk dikonsumsi di rumah.
“Jadi nanti kalau makan bergizi, di bulan suci Ramadhan, bagi siswa yang beragama muslim, ya, nanti disediakan makanan kering. Telur gitu, yang kering, roti, kurma, nanti dibawa pulang,” kata Zulhas saat ditemui dalam acara PANFAST 2026 di Hutan Kota, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).
Untuk siswa non-muslim, MBG tetap diberikan sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Selain itu, Zulhas juga menyebutkan bahwa program ini akan terus berlangsung di pesantren, namun tidak pada siang hari melainkan pada waktu berbuka puasa.
“Selain itu, MBG untuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui tetap tidak ada perubahan. Yang berubah hanya untuk siswa yang muslim, yaitu diberi makanan kering,” ujarnya.
Zulhas juga memastikan bahwa kualitas lauk dari MBG tetap sama meskipun menu mengalami perubahan selama bulan Ramadhan. Ia berharap kebutuhan gizi anak-anak tetap terpenuhi selama masa puasa ini.
Kebijakan MBG dan Dampaknya
Namun, tidak semua kabar tentang MBG ini positif. Di Bandarlampung, ratusan siswa dari tiga sekolah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menyampaikan hal tersebut.
“Ada ratusan siswa dari tiga sekolah yang terkena diare di Kecamatan Kemiling diduga karena mereka menyantap MBG pada Rabu (13/2),” katanya saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Sumberjo menjadi salah satu tempat yang terdampak. Sebanyak 77 siswa, 9 guru, dan 1 orang tua terkena dampaknya. Selanjutnya, SD AL Munawaroh mencatat 64 siswa, 11 guru, dan 1 orang tua yang terkena diare.
“Kelima orang yang dirawat rata-rata dari sekolah Al Munawaroh sedangkan untuk di SDN 4 Sumberjo rata-rata rawat jalan,” tambahnya.
Selain dua SD tersebut, terdapat juga 43 siswa SMP Negeri 14 Bandarlampung yang diduga mengalami keracunan MBG. Dari jumlah tersebut, 37 orang menjalani rawat jalan dan 6 orang menjalani rawat inap di rumah sakit dan Puskesmas Kemiling.
Penanganan dan Pemantauan
Muhtadi mengatakan bahwa Dinkes Bandarlampung meminta Puskesmas Kemiling dan Bringin Raya untuk terus memantau kondisi para siswa dan guru yang terdampak. Tujuannya adalah memastikan mereka segera pulih, terutama yang menjalani rawat jalan.
“Saat ini kami sudah mengambil sampel air makanan untuk dicek namun belum bisa memastikan mereka keracunan karena apa. Sebab bisa juga karena penyebab lainnya seperti bahan makanan atau makanan yang sudah diolah karena melewati proses tertentu mengalami tidak layak makan atau basi,” ujarnya.
Petugas Dinkes langsung mendatangi lokasi SPPG untuk mengecek kondisi bangunan. Meskipun secara fisik bangunan memenuhi kriteria, data Dinkes menunjukkan bahwa SPPG tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Ya, data kami SPPG ini belum punya SLHS. Catatan Dinkes ada beberapa poin di SPPG ini belum memenuhi syarat sehingga harus ada perbaikan. Atas dasar itu Dinkes belum mengeluarkan rekomendasi untuk diterbitkan SLHS ke Dinas Perizinan,” tambahnya.
Langkah Ke depan
Dengan adanya kasus ini, Dinkes Bandarlampung meminta agar SPPG tersebut segera memperbaiki kondisi hingga memenuhi standar kesehatan. Selain itu, pemantauan terhadap kualitas makanan dan proses pengolahan harus diperketat untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Program MBG tetap menjadi prioritas pemerintah dalam memastikan ketersediaan gizi bagi anak-anak. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas dan keamanan makanan yang disajikan.




