Menjaga Warisan Leluhur di Dusun Baskara Bakti
“Halo, Pui.” Sapaan tersebut mungkin terdengar asing bagi telinga sebagian besar masyarakat Melayu Bangka pada umumnya. Kendati demikian, bagi penduduk yang mendiami Dusun Baskara Bakti, kata pui atau pui ade yang memiliki arti “tidak ada” justru merupakan salah satu peninggalan berharga berupa bahasa leluhur yang masih bertahan hingga hari ini.
Walaupun demikian, situasi di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua generasi muda di dusun tersebut masih memahami bahasa warisan turun-temurun ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Din, salah seorang warga senior setempat, sebagian anak-anak muda kini sudah mulai kehilangan pemahaman terhadap bahasa nenek moyang mereka.
Pergeseran Penggunaan Bahasa Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa yang dulunya menjadi identitas utama masyarakat pesisir ini semakin jarang terdengar. Warga kini lebih memilih untuk menggunakan bahasa Melayu Bangka dalam interaksi sosial di lingkungan sekitar, serta menggunakan bahasa Indonesia ketika berada di bangku sekolah.
Selain faktor lingkungan, berbagai hal lain turut mempersempit ruang gerak penggunaan bahasa leluhur tersebut, di antaranya:
* Pergaulan sosial yang semakin luas dengan masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang berbeda.
* Kebiasaan menggunakan gawai atau perangkat teknologi modern yang mendominasi aktivitas keseharian anak-anak muda.
* Kurangnya ruang praktik berbahasa di luar lingkungan keluarga inti.
Masyarakat Dusun Baskara Bakti sendiri sebenarnya membawa serta bahasa dan tradisi ini ketika mereka melakukan perpindahan dari Pulau Semujur ke daratan pada Desember 1978. Pada masa awal kepindahan tersebut, warga sempat tinggal di dalam tenda-tenda serta pondok sederhana sebelum akhirnya memperoleh bantuan hunian tetap dari pemerintah. Wilayah dusun ini kemudian mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada era 1980-an berkat adanya program dari Dinas Sosial serta ABRI Masuk Desa.
Identitas Asli: Suku Laut atau Suku Sekak?
Selama ini, bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat kerap kali diidentifikasikan sebagai bahasa Sekak. Namun, koreksi penting disampaikan oleh Muhammad Sani, salah seorang warga Baskara Bakti. Berdasarkan cerita turun-temurun dari para orang tua mereka, identitas yang jauh lebih tepat untuk disematkan bukanlah Suku Sekak.
“Kalau dikatakan Suku Sekak tuh sebenarnya kalau menurut orang tua kami dulu, kami bukan Suku Sekak. Sekak tuh suku pedalaman. Kami ini Suku Laut atau Orang Pesisir,” ungkapnya menegaskan identitas kelompok mereka.
Di tengah kekhawatiran akan punahnya bahasa tersebut, nyatanya warisan leluhur ini belum sepenuhnya lenyap dari ingatan para generasi mudanya. Beberapa pelajar, seperti Cika Aprilia dan Fadia Alya yang merupakan siswi SMP Negeri 2 Namang asal Baskara Bakti, mengaku masih mengenali sejumlah ungkapan tradisional. Ungkapan seperti pui ade hingga eko de, makan belum masih akurat mereka pahami.
Menariknya, mereka tidak mempelajari kosakata tersebut melalui bangku kelas formal, melainkan secara tidak langsung dari percakapan sehari-hari orang tua di rumah. Proses penyerapan bahasa ini terjadi secara alami melalui pendengaran. Kendati demikian, memahami arti dari beberapa kosakata tentu belum tentu membuat generasi muda ini mampu menggunakannya secara aktif dalam percakapan sehari-hari.
Tantangan Sosial dan Kendala di Lingkungan Sekolah
Alya, seorang guru Informatika di sekolah tersebut, berpendapat bahwa faktor lingkungan pergaulan memegang peranan besar dalam menentukan pilihan bahasa yang digunakan oleh anak-anak. Menurutnya, pada dasarnya setiap anak memahami bahasa daerah masing-masing, namun mereka kerap menyesuaikan diri dengan lawan bicara yang tidak memahaminya.
Pengalaman kurang menyenangkan bahkan pernah dialami oleh Cika, yang mengaku sempat diejek oleh teman sebaya ketika tanpa sengaja berbicara menggunakan bahasa Suku Laut. Hal tersebut dibenarkan oleh Alya, meski ia mencatat bahwa kejadian semacam itu tergolong jarang dan tidak pernah berujung pada tindakan ujaran kebencian.
Di sisi lain, dunia pendidikan formal juga belum dapat memasukkan pelestarian bahasa ini ke dalam kurikulum pengajaran. Kepala SMP Negeri 2 Namang, Qomari, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat program khusus, baik dari Kantor Bahasa maupun institusi perguruan tinggi, yang berkaitan langsung dengan upaya pelestarian bahasa Suku Laut.
Ketiadaan kurikulum khusus ini membuat pihak sekolah belum memiliki landasan yang memadai untuk mengimplementasikannya ke dalam kegiatan belajar mengajar muatan lokal.
“Semenjak Pak Batman meninggal, kami sudah ndak tahu itu kemungkinan ada atau tidak pemerintah mengatasi sedemikian itu,” kata Sani.
