Pemerintah Filipina Menerima Jaminan dari Iran Mengenai Akses Selat Hormuz
Pemerintah Filipina melalui Kementerian Luar Negeri pada Kamis (2/3/2026) menerima jaminan dari Iran bahwa kapal-kapal mereka akan diperbolehkan melintasi Selat Hormuz. Jaminan tersebut diberikan setelah Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro melakukan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Filipina menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran menjamin bahwa Iran akan memperbolehkan perlintasan aman dan tak terganggu bagi kapal-kapal, sumber energi, dan pelaut Filipina di Selat Hormuz. Lazaro menggambarkan komunikasinya dengan Araghchi sebagai “produktif” dan mencapai kesepahaman positif untuk memastikan keselamatan para pelaut dan kebutuhan energi Filipina.
Kementerian Luar Negeri Filipina juga menyatakan bahwa kepastian jaminan dari Iran akan meningkatkan keamanan energi negaranya. Diketahui bahwa impor Filipina terkait kebutuhan energi mayoritas berasal dari Timur Tengah. Oleh karena itu, kepastian jaminan dari Iran ini akan sangat memfasilitasi kestabilan pengiriman minyak kritis dan pasokan pupuk untuk Filipina.
Filipina menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang kapal-kapalnya diperbolehkan melintas Selat Hormuz oleh Iran. Kapal-kapal Malaysia yang transit di Selat Hormuz bahkan digratiskan dari kewajiban membayar tol. Hal ini dipastikan oleh Duta Besar Iran untuk Malaysia Valiollah Mohammadi Nasrabadi kepada New Straits Times.
Nasrabadi menyampaikan bahwa pihaknya menerima informasi dari kementerian luar negeri bahwa beberapa kapal Malaysia di Teluk Persia ingin melintasi Selat Hormuz. Setidaknya ada tujuh kapal milik Malaysia yang dijadwalkan akan melintasi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Mohammad Hasan menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut menunggu penyelesaian administrasi sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
“Kami mempertimbangkan ini, dan Insha Allah mereka akan lewat. Tidak ada masalah, sebagaimana Malaysia adalah negara sahabat, dan negara-negara sahabat bisa menggunakan selat itu,” kata Nasrabadi. Ia juga menjawab pertanyaan apakah kapal-kapal Malaysia wajib membayar tol dengan menyatakan bahwa “Tentu (kapal-kapal Malaysia bebas lewat). Kami tidak akan menerapkan tarif.”
Indonesia Berupaya Membebaskan Dua Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz
Sementara itu, Indonesia bersama PT Pertamina International Shipping (PIS) mulai membahas teknis pembebasan dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan setelah upaya negosiasi Indonesia mendapatkan respons positif dari Iran.
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujar Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu (28/3/2026).
Pertamina Pride dioperasikan untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani distribusi energi untuk pihak ketiga. Vega menyampaikan bahwa saat ini, kedua kapal tersebut masih berada di Teluk Arab/Teluk Persia. Prioritas utama bagi Pertamina adalah keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya.
“Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat terselesaikan dengan baik,” ucap Vega.




