:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Memahami Panggilan Iman Katolik
Perjalanan rohani sebagai pengikut Kristus sering kali digambarkan sebagai jalan yang penuh berkat, namun di balik itu tersimpan sebuah komitmen mendalam yang menuntut keteguhan hati. Menapaki jejak Sang Juru Selamat berarti siap menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang tidak selalu berjalan mulus. Sering kali, tantangan, penolakan, hingga pengorbanan menjadi bagian tak terpisahkan dari usaha mempertahankan iman yang benar serta melakukan kebaikan di tengah dunia yang majemuk.
Peringatan khusus bagi umat beriman diarahkan pada perayaan liturgi yang sarat makna, yakni Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul, yang dirayakan dengan nuansa liturgi berwarna merah sebagai lambang keberanian dan kemartiran. Melalui momentum ini, umat diajak untuk merenungkan kembali arti sebuah kesetiaan tanpa batas. Rangkaian bacaan suci yang mengiringi hari istimewa ini meliputi Surat kepada Jemaat di Efesus pasal 2 ayat 19 hingga 22, Mazmur Tanggapan dari pasal 19 ayat 2 sampai 5, serta warta Injil suci menurut Lukas pasal 6 ayat 12 hingga 19.
Landasan Rohani: Bacaan Kitab Suci Hari Ini
Pentingnya menyimak sabda Tuhan tercermin jelas dalam bacaan pertama dari Surat Efesus yang memberikan penegasan identitas bagi setiap orang percaya. Di dalam teks tersebut, ditekankan bahwa umat bukanlah lagi orang asing atau pendatang, melainkan bagian dari kawan sewarga dari orang-orang kudus serta anggota resmi keluarga Allah.
- Fondasi Spiritual Keluarga Allah
- Seluruh bangunan iman umat dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi.
- Kristus Yesus sendiri bertindak sebagai batu penjuru yang utama dan kokoh.
- Di dalam Dia, pertumbuhan rohani terjadi secara rapi dan terstruktur demi mewujudkan bait Allah yang kudus.
Sementara itu, kidung mazmur menuturkan bagaimana keagungan Sang Pencipta disuarakan oleh alam semesta. Siang dan malam terus-menerus meneruskan warta kebesaran ilahi ke seluruh penjuru bumi, tanpa suara namun gempitanya dirasakan oleh semua makhluk. Kemah yang dipasang di langit bagi matahari menggambarkan keperkasaan dan keindahan karya tangan Tuhan yang senantiasa menyinari kehidupan umat manusia dari masa ke masa.
Keteladanan Yesus dalam Memilih Para Rasul
Puncak dari narasi liturgis hari ini terangkum dalam bagian Injil Lukas yang menceritakan momen penting sebelum Yesus menentukan para pembantu terdekat-Nya. Sebelum mengambil keputusan besar, Ia memilih untuk pergi ke bukit dan menghabiskan waktu semalam-malaman dalam doa kepada Allah. Tindakan ini memberikan teladan nyata bahwa setiap langkah krusial dalam hidup harus selalu diawali dan didasarkan pada komunikasi yang intim dengan Sang Bapa di surga.
Ketika hari mulai terang, Yesus memanggil para murid-Nya dan menetapkan dua belas orang di antara mereka untuk menjadi rasul. Nama-nama yang tercatat meliputi Simon yang kemudian dinamai Petrus, Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Simon orang Zelot, Yudas anak Yakobus, serta Yudas Iskariot yang kelak mengambil jalan pengkhianatan.
Setelah turun dari bukit, Yesus menjumpai kerumunan orang banyak yang datang dari berbagai wilayah seperti Yudea, Yerusalem, hingga daerah pantai Tirus dan Sidon. Kehadiran mereka didorong oleh kerinduan mendalam untuk mendengarkan ajaran-Nya serta memperoleh kesembuhan dari pelbagai penyakit maupun gangguan roh jahat. Kuasa ilahi yang terpancar dari diri-Nya membuat orang banyak berdesakan hanya untuk menjamah jubah-Nya, sebab kesembuhan sejati senantiasa mengalir bagi siapa saja yang datang dengan iman yang tulus.
Ketulusan dalam berbuat baik sering kali diuji oleh realitas kehidupan yang tidak selalu ramah. Seringkali, apa yang kita lakukan dengan niat tulus justru dipandang sebelah mata atau tidak mendapatkan apresiasi yang layak dari orang lain. Meskipun demikian, reaksi negatif dari lingkungan sekitar seharusnya tidak memadamkan semangat kita untuk terus menebarkan kebaikan. Demikian pula halnya ketika gelombang kesulitan hidup menerpa dan mengguncang rasa aman kita; meninggalkan keyakinan atau iman bukanlah solusi yang tepat.
Jalan kehidupan spiritual tidak pernah dirancang tanpa hambatan. Sang Pencipta tidak pernah memberikan garansi bahwa perjalanan rohani manusia akan selalu mulus tanpa kerikil tajam. Sebaliknya, Ia memberikan undangan yang penuh kasih untuk berjalan beriringan bersama-Nya, menyandarkan seluruh pengharapan dan kepercayaan hanya kepada-Nya di setiap musim kehidupan.
Untuk mendalami esensi dari perjalanan rohani ini, terdapat tiga kata kunci utama yang dapat dijadikan pegangan hidup sehari-hari:
-
Panggilan Hidup
Setiap individu diciptakan dan dipanggil untuk mengikuti jalan kebenaran sesuai dengan latar belakang, kapasitas, serta tugas dan tanggung jawab unik dalam hidupnya masing-masing. Panggilan ini bersifat personal namun memiliki dampak komunal yang luas.
* Kesetiaan Tanpa SyaratKomitmen untuk terus berpegang teguh pada prinsip iman, kebenaran moral, dan kasih yang tulus, bahkan di tengah terjangan badai tantangan dan ketidakpastian dunia.
* Pengorbanan NyataCinta kasih yang otentik tidak cukup hanya diungkapkan lewat kata-kata manis, melainkan menuntut kerelaan berkorban—meluangkan waktu, tenaga, perhatian, hingga menyangkal diri demi mewujudkan kebaikan bagi sesama manusia.
Pesan Pastoral untuk Umat
Saudara-saudari terkasih yang senantiasa berproses dalam iman, mari merenungkan kembali motivasi dasar kita dalam menjalani kehidupan beragama. Jangan sampai kita terjebak menjadi pengikut yang hanya mendekat kepada Sang Kristus semata-mata ketika sedang membutuhkan pertolongan darurat di kala krisis.
Sebaliknya, bertransformasilah menjadi pribadi yang senantiasa setia dalam keheningan doa, menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap aspek pekerjaan, tekun dalam menuntut ilmu dan belajar, menunjukkan kesabaran yang luar biasa di tengah penderitaan, serta senantiasa tulus dalam melayani sesama tanpa pamrih. Mari menjadikan teladan hidup dari Santo Simon dan Santo Yudas, para Rasul, sebagai inspirasi untuk terus berani memberikan kesaksian hidup tentang nilai-nilai Kristiani melalui tindakan nyata di tengah dinamika masyarakat modern.
Pertanyaan Refleksi Pribadi
Untuk memperdalam penghayatan iman dalam keseharian, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan beberapa pertanyaan reflektif berikut:
- Seberapa jauh saya mampu bertahan dalam kesetiaan kepada Kristus ketika badai kesulitan dan penolakan datang menghantam?
- Bentuk pengorbanan konkret apa sajakah yang masih harus saya lakukan agar dapat bertumbuh menjadi pengikut Kristus yang jauh lebih baik dari sebelumnya?
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus, kami menghaturkan rasa syukur yang tak terhingga atas rahmat panggilan-Mu yang senantiasa menuntun kami untuk mengikuti jejak langkah-Mo. Berkat teladan mulia dari Santo Simon dan Santo Yudas, kuatkanlah fondasi iman kami agar tidak mudah merasa gentar menghadapi berbagai kesulitan hidup, serta tidak lekas menyerah ketika dihadapkan pada tuntutan pengorbanan.
Ajarlah kami senantiasa untuk menjaga kesetiaan dalam kehidupan doa, berdiri teguh di atas jalan kebenaran-Mu, dan memelihara ketulusan hati dalam melayani sesama manusia yang membutuhkan. Semoga seluruh nafas dan dinamika hidup kami mampu menjelma menjadi kesaksian yang hidup dan nyata tentang betapa besar kasih setia-Mu. Amin.



