Sejarah dan Perkembangan Cinema XXI
Cinema XXI dikenal sebagai jaringan bioskop terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Awalnya, bisnis ini dimulai dengan nama Cinema 21 pada tahun 1987. Pada masa itu, konsep bioskop modern masih menjadi hiburan eksklusif yang hanya tersedia di kota-kota besar.
Pada 15 Juli 1999, Sudwikatmono, pengusaha besar sekaligus sepupu Presiden Soeharto, melepas sahamnya. Sejak saat itu, kepemilikan dan arah bisnis jaringan bioskop ini mengalami perubahan yang turut membentuk wajah industri perfilman Indonesia hingga kini. Saham tersebut kemudian diambil alih oleh Benny Suherman dan Harris Lasmana, dua sosok yang kelak mengubah wajah industri bioskop nasional.
Dari sinilah Cinema 21 berevolusi menjadi Cinema XXI, dengan standar layanan dan teknologi yang semakin modern. Seiring waktu, Cinema XXI terus menghadirkan pengalaman menonton terbaik mulai dari sistem tiket elektronik, kursi yang lebih nyaman, hingga layar berteknologi tinggi. Mereka juga meluncurkan brand The Premiere untuk segmen premium dan IMAX XXI untuk menghadirkan sensasi layar raksasa kelas dunia.
Ekspansi besar-besaran membuat Cinema XXI kini menguasai sekitar 1.300 layar di lebih dari 240 lokasi di seluruh Indonesia. Dominasi tersebut menjadikannya pemain utama industri perfilman nasional, bahkan turut mengendalikan distribusi film lokal maupun internasional.
Meski sempat terpukul pandemi COVID-19, Cinema XXI berhasil bangkit. Pada 2023, induk usahanya, PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. (CNMA), resmi melantai di Bursa Efek Indonesia melalui IPO senilai Rp 2,25 triliun. Langkah ini menunjukkan ambisi Benny Suherman dan Harris Lasmana untuk memperkuat bisnis sekaligus membuka peluang investasi publik dan lapangan kerja baru di sektor hiburan.
Menurut Forbes, kekayaan Benny Suherman pada Februari 2024 tercatat mencapai Rp 1,75 triliun. Bisnis ini pun dijalankan secara kekeluargaan. Putranya, Suryo Suherman, kini menjabat sebagai Presiden Direktur, disusul Arif Suherman sebagai Direktur, dan Melia Suherman yang duduk di kursi Komisaris.
Kini, Cinema XXI bukan hanya tempat menonton film, melainkan juga simbol hiburan modern Indonesia mengakar dari sejarah panjang, tumbuh dengan inovasi, dan terus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.
Sosok Benny Suherman dan Harris Lasmana
Nama Benny Suherman sudah lama melekat dengan dunia hiburan tanah air. Ia adalah co-founder sekaligus pemegang saham mayoritas PT Nusantara Sejahtera Raya (NSR), perusahaan yang mengelola jaringan Cinema XXI, salah satu bioskop terbesar dan terpopuler di Indonesia.
Lahir di Jakarta pada tahun 1948, Benny mengawali kiprahnya bukan langsung di dunia bioskop, melainkan di bidang distribusi dan impor film. Pada periode 1969–1972, ia menjabat sebagai direktur impor, distribusi, dan produksi di CV Sejahtera Film. Setelah itu, ia mendirikan PT Suptan Film yang beroperasi di bisnis impor film hingga 1996.
Dari situlah ia semakin mengakar dalam industri perfilman nasional. Perjalanan panjang Benny akhirnya berbuah besar ketika bersama rekannya, ia mendirikan jaringan Cinema 21 yang kini dikenal sebagai Cinema XXI. Di bawah kendalinya, jaringan bioskop ini berkembang pesat hingga menguasai pasar hiburan layar lebar di Indonesia.
Atas dedikasi dan kontribusinya, Benny dijadwalkan menerima CineAsia ICON Award 2023, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada tokoh berpengaruh dalam industri bioskop Asia. Dari sisi bisnis, kepemilikan Benny di NSR sangat dominan. Melalui perusahaan holding PT Harkatjaya Bumipersada, ia menguasai sekitar 54 persen saham.
Namun, meskipun sempat masuk daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes, posisinya belakangan menurun seiring dengan performa bisnis bioskop yang tidak selalu stabil. Dalam restrukturisasi setelah IPO, nama Harris Lasmana, rekan lama sekaligus figur penting dalam sejarah berdirinya NSR, sudah tidak tercatat sebagai pemegang saham langsung.
Meski begitu, kepemimpinan dan kendali perusahaan masih erat dikaitkan dengan keluarga Suherman dan lingkaran terdekatnya. Harris Lasmana tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang berdirinya jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema XXI. Bersama Benny Suherman, ia dikenal sebagai rekan pendiri PT Nusantara Sejahtera Raya (NSR) yang menaungi Cinema 21 dan kemudian berkembang menjadi Cinema XXI.
Perannya semakin menonjol setelah Sudwikatmono, sepupu Presiden Soeharto sekaligus pemilik awal, melepas sahamnya pada 15 Juli 1999. Saat itu, Harris dan Benny resmi menjadi pemilik utama jaringan bioskop tersebut. Langkah ini menjadi titik balik penting yang mengantarkan Cinema XXI menguasai pasar layar lebar nasional.
Dalam struktur resmi perusahaan, nama Harris tercatat sebagai komisaris di NSR (kode saham CNMA di Bursa Efek Indonesia). Kehadirannya sebagai tokoh eksekutif industri bioskop juga beberapa kali disorot dalam publikasi internasional, termasuk oleh Variety, yang menempatkannya sebagai figur penting perfilman Asia.
Meski begitu, dalam perkembangan terkini khususnya setelah IPO dan restrukturisasi nama Harris jarang disebut sebagai pemegang saham langsung. Walau demikian, jejak kontribusinya dalam membangun pondasi jaringan bioskop modern di Indonesia tetap diakui, dan perannya tercatat kuat dalam sejarah pertumbuhan Cinema XXI bersama Benny Suherman.
