Teka-Teka Penerima Uang Sayembara Rp250 Juta

Teka-teki mengenai siapa yang berhak menerima uang sayembara sebesar Rp250 juta dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi masih menjadi pertanyaan besar. Sebelumnya, Dedi Mulyadi menjanjikan hadiah tersebut bagi siapa saja yang berhasil menemukan keberadaan Taufik Hidayat, buronan dalam kasus penyekapan sadis yang sempat menjadi perhatian publik.

Setelah Taufik Hidayat berhasil diamankan pada Selasa (23/6/2026) petang, muncul pertanyaan baru mengenai pihak yang berhak menerima hadiah ratusan juta rupiah tersebut.

Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa persoalan pemberian sayembara itu akan dibahas terlebih dahulu bersama pihak kepolisian. Pasalnya, hadiah tersebut pada awalnya ditujukan bagi warga yang dapat menemukan keberadaan pelaku. Namun dalam perkembangannya, Taufik Hidayat akhirnya berada dalam penanganan aparat kepolisian.

“Ya sayembaranya kan diumumkan untuk warga yang menemukan. Sekarang polisi yang menemukan, nanti kita bicarakan,” ujar Dedi Mulyadi, Rabu (24/6/2026). Menurut pria yang akrab disapa KDM itu, pemberian hadiah kepada aparat penegak hukum tidak bisa dilakukan begitu saja. Perlu ada pembahasan lebih lanjut agar tidak menimbulkan persoalan dari sisi aturan maupun etika.

Taufik Hidayat Diserahkan oleh Mantan Atasannya

Di tengah belum jelasnya siapa penerima hadiah tersebut, terungkap fakta lain yang cukup mengejutkan. Taufik Hidayat ternyata tidak ditangkap secara koersif oleh aparat di lokasi persembunyiannya. Ia justru diserahkan kepada pihak kepolisian oleh Dadang Ahyar Ismail, sosok yang diketahui pernah menjadi atasannya beberapa tahun lalu.

Proses penyerahan diri Taufik berlangsung di kediaman Dadang yang berada di Komplek Griya Pesona, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/6/2026) sore. Keterlibatan Dadang dalam proses penyerahan diri Taufik pun membuat namanya ikut menjadi sorotan publik. Tak sedikit yang menilai dirinya memiliki peran penting hingga buronan tersebut akhirnya berhasil diamankan.

Meski demikian, Dadang mengaku tidak memiliki keinginan untuk menikmati uang sayembara tersebut apabila nantinya diberikan kepadanya. Sebaliknya, ia memilih mengalihkan seluruh dana itu untuk membantu korban yang mengalami luka berat akibat kasus penyekapan tersebut.

Dengan sikap yang berlapang dada, Dadang menegaskan bahwa kepentingan korban menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan pribadi. “Kalau diberikan oleh Pak Dedi, uangnya saya berikan pada korban,” ujar Dadang saat diwawancarai Tribun Jabar, Rabu (24/6/2026).

Drama di Balik Layar: Telepon Minta Perlindungan

Dadang membeberkan cerita di balik layar sebelum pelaku akhirnya menyerah. Beberapa hari lalu, Taufik yang panik karena fotonya viral se-Indonesia mendadak menghubungi Dadang melalui sambungan telepon untuk meminta perlindungan.

“Dia bilang, dia viral se-Indonesia. Terus harus gimana, dia bilang ke saya minta bantuan perlindungan ke saya,” kata Dadang. Mendengar keluhan mantan anak buahnya, Dadang tidak melindunginya secara keliru. Ia justru memberikan pemahaman logis dengan menyodorkan tiga pilihan pahit yang akan dihadapi pelaku jika terus melarikan diri.

“Saya bilang ke TH, pertama, kamu misalkan mau terus lari sampai kapan, pasti capek. Kedua karena sudah ramai, kamu bisa ditangkap warga dan bisa dihakimi sampai mati. Ketiga, semisalnya ketangkap polisi, kayak di TV bisa ditembak. Di situ saya bilang kamu milih yang mana. Lebih baik menyerahkan diri,” ucapnya.

Setelah berpikir lama, Taufik akhirnya luluh dan berkata, “Ya sudah, saya ngikut Bapak aja mau menyerahkan diri.”

Muncul Tiba-tiba di Rumah Mantan Atasan

Meski sudah berjanji, Taufik sempat menghilang beberapa saat. Kejutan terjadi pada Selasa (23/6/2026) pagi, saat Dadang bersiap berangkat kerja, Taufik tiba-tiba sudah berdiri di depan rumahnya di Ciparay. Dadang sempat bingung karena harus bekerja dan belum sempat menghubungi kepolisian. Namun, ia dengan tegas mengunci komitmen pelaku agar tidak melarikan diri lagi dari pertanggungjawaban hukum.

“Akhirnya saya bilang ke TH, ‘kamu terserah mau kemana. Tapi yang jelas hari ini kamu harus nyerahin diri’,” tegas Dadang. Barulah pada sore hari, jajaran kepolisian datang ke lokasi setelah berkoordinasi. Sesuai perjanjian di awal, Taufik bersikap kooperatif saat dijemput petugas dengan syarat didampingi oleh Dadang dari belakang hingga ke Mapolda Jabar.

Kini, setelah pelarian sang buron berakhir damai berkat ketegasan mantan atasannya, publik tinggal menunggu realisasi dari komitmen mulia Dadang yang memilih mendonasikan uang sayembara tersebut untuk pemulihan fisik dan psikis korban YTR.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version