Kehadiran Pak Doktor di Kedai Tok Awang
Tok Awang, sebuah tempat yang sering menjadi pertemuan bagi warga sekitar, kali ini dikunjungi oleh Abdul Mustajab. Meskipun ia bukan tamu jauh, panggilannya yang mentereng, “Pak Doktor”, membuatnya terasa istimewa. Abdul Mustajab memang memiliki gelar doktor dengan huruf “D” besar, yang menunjukkan pendidikannya yang tinggi. Hal ini membuat banyak orang merasa kagum dan bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang hampir ajaib.
Lima belas tahun lalu, Abdul Mustajab masih dikenal sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Ia sering terlihat mengendarai Honda Super Cub C70 yang berwarna merah dan sudah mulai pudar. Pakaian yang ia gunakan pun sederhana: kemeja polos, celana jins, dan rompi coklat bertuliskan “Pers” di bagian punggungnya.
Ketika kantor koran tempatnya bekerja melakukan pemangkasan karyawan, termasuk dirinya, Abdul Mustajab tidak merasa kehilangan. Justru, ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Dengan bantuan rektor dari satu kampus, ia ditampung untuk membantu di divisi humas. Sementara itu, ia juga menggunakan sebagian uang pesangon untuk melanjutkan pendidikan pasca-sarjana.
Perjalanan Hidup yang Berubah
Seiring waktu, Abdul Mustajab akhirnya berhasil meraih gelar doktor dan kini menjadi dosen di beberapa kampus. Namun, kesibukan membuatnya tidak lagi bisa melakukan segala hal seperti dulu. Hari ini, ia datang ke Kedai Tok Awang karena istrinya meminta dibelikan jamu racikan Tante Sela.
“Saya tadi capek keliling-keliling, eh, malah ketemu di sini,” ujarnya, yang langsung disambut dengan celetukan Tante Sela. “Awak kalok siang sampek sore memang seringnya mangkal di sini, Pak Doktor. Besok-besok kalok Kakak mo pesan jamu lagi, tak payah, lah, Pak Doktor carik awak ke mana-mana.”
Menunggu Tante Sela menuntaskan racikan jamu, Abdul Mustajab memesan Sanger Dingin. Leman Dogol, Idam Marley, Jontra Polta, dan Lek Tuman langsung mendekat merapat.
Diskusi tentang Kemerdekaan
“Jarang-jarang, nih, Pak Doktor kemari,” ucap Leman membuka cakap. “Kasih, lah, dulu pencerahan untuk kita-kita.”
“Alamak, pencerahan apa? Macam betul aja.”
“Soal kemerdekaan, Pak Doktor,” sahut Jontra Polta.
“Banyak yang bilang kita belum merdeka,” sambung Idam Marley pula.
Abdul Mustajab mengibaskan tangan. “Ah! Tak ada itu! Faktanya kita sudah merdeka, kok. Sudah 81 tahun.”
“Jadi gak ada masalah, Pak Doktor?”
“Saya gak bilang begitu, Dam. Ada masalah. Besar malahan. Tapi, sebenarnya, bukan merdeka tak merdeka letak masalahnya.”
“Jadi?”
“Cinta tak cinta.”
Rasa Cinta yang Hilang
“Cinta? Cinta cemana maksud Pak Doktor?” tanya Lek Tuman.
“Cinta negeri ini, lah, Pak Kep. Banyak yang menyangkal rasa cintanya.”
“Padahal?”
“Padahal cinta. Memang, ada jugak yang tidak. Ada yang benci. Ada yang betul-betul benci dari hati, mungkin karena kecewa yang sangat dalam. Ada yang benci karena iming-iming. Jabatan, misalnya. Atau uang dari luar negeri. Tapi, sebagian besar tetap cinta, kok. Tetap banyak yang nangis kalok dengar lagu-lagu nasional. Bahkan bukan cumak lagu nasional. Bukan cumak ‘Indonesia Raya’ atau ‘Tanah Airku’. Kelen tau, kalok berada di jauh di luar negeri, saking cintanya sama negeri ini, air mata bisa menetes cumak karena dengar lagu Wali.”
Masalah yang Membayangi
“Masalahnya, rasa itu lebih sering hilang ke balik bayang-bayang.”
“Kenapa bisa gitu, Pak Doktor?”
“Karena terlanjur jijik sama orang-orang di atas sana. Sama pejabat-pejabat. Sama pemimpin-pemimpin pemerintahan. Kejijikan meredam kecintaan. Apalagi sekarang, makin menjijikkan, terutama ketika segenap tingkah polah menjijikkan mereka, secara menjijikkan, dibela oleh orang atau sekelompok orang yang dibayar mahal untuk melakukan segenap pekerjaan menjijikkan.”
Istilah Buzzer dan Influencer
“Buzzer maksud Pak Doktor?” Leman menyambung.
“Influencer?” timpal Idam Marley pula.
Jontra Polta tertawa berderai. “Sekarang ormas-ormas jugak udah sama kelakuannya kek buzzer dan influencer bayaran,” tambah Jontra Polta diikuti tawa berderai. “Gak tahu lagi kita sekarang udah ada berapa ormas. Namanya pun seddep-seddep kali. Kerjaannya ngurusuh-ngerusuhi. Jadi teringat Pamswakarsa waktu di awal-awal zaman reformasi dulu awak.”
Sindrom Sok dan Kecenderungan Masyarakat
Abdul Mustajab ikut tertawa. “Kacau balau memang udah semua. Tapi kelen tahu, sebenarnya, ini terpulang ke diri kita juga. Orang-orang Indonesia, yang sudah jadi pejabat maupun yang masih rakyat jelata, sama-sama sudah terjangkit satu sindrom yang akut.”
“Waduh, sindrom apa pulak itu, Pak Doktor?” tanya Lek Tuman lagi.
“Sindrom sok, Pak Kep.”
“Sok?”
“Patentengan kalok orang kita bilang,” sergah Idam.
“Pecicilan,” sambung Leman.
“Kurang lebih begitu. Saya tanya, kira-kira, sok yang kayak mana yang kelen tahu?”
Berbagai Bentuk ‘Sok’
“Sok keren!”
“Sok paten!” seru Leman Dogol pula.
“Sok penting!”
“Sok penting cemana, Pak Jon?”
“Iya, sok penting, lah, Man. Banyak yang gitu. Dikiranya dia penting, padahal cumak anak bawang aja. Cumak kain lap.”
Ocik Nensi yang baru mengantarkan Sanger Dingin pesanan Abdul Mustajab, ikut menyeletuk. “Sok Lisa Blackpink!”
Lagi, tawa berderai di Kedai Tok Awang. Berbagai variasi ‘sok’ meluncur bertubi, dari yang kedengaran masuk akal sampai yang sama sekali ngawur: sok cantik, sok ganteng, sok imut, sok kaya, sok miskin, sok suci, sok baik, sok lugu, sok pintar, sok kuat, sok jago. Gelak demi gelak terus meletup-letup. Sampai Abdul Mustajab menyela dengan satu ‘sok’ yang belum disebut. Sok merakyat.
Sok Merakyat dan Penipuan
“Biasanya yang ini muncul di musim pemilu. Atau menjelang-jelang akhir masa jabatan, dan yang menjabat itu ingin menjabat lagi, atau mengincar jabatan lebih tinggi. Tujuannya, tiada lain tiada bukan untuk memperdayai rakyat,” ucapnya.
“Oh, iya, ada istilahnya ini dulu, kan?” sebut Lek Tuman. “Gagah kali! Membela wong cilik!”
“Wong cilik ditipu wong licik,” ujar Idam Marley menimpali.
Leman Dogol mendengus kecil, menyunggingkan senyum sinis. “Padahal kalok dipikir-pikir, ya, dari tahun ke tahun, orang-orang yang sok merakyat ini gitu-gitu aja cara mainnya. Kalok pun ada perubahan gak banyak. Pergi ke pajak, belik sayur, belik tempe, belik ikan. Pergi ke rumah-rumah di pinggir-pinggir sunge. Ngomong sama pedagang, ngomong sama warga, janjikan perbaikan kalok dia bisa duduk. Tros kasih duit, tros difoto-foto, divideokan. Tapi, kok, masih ada jugak yang kenak tipu.”
Penipuan yang Terus Berlangsung
“Kau tau apa yang lebih parah, Man?”
“Apa itu, Pak Jon?”
Jontra Polta terkekeh. “Udah pernah kenak tipu, sampek nyumpah-nyumpah, bilang menyesal udah nyoblos dan gak akan mau nyoblos lagi, eh, pas mo dekat-dekat pemilu, pas didatangi, bukannya langsung diusir aja. Padahal tau dia sedang kenak angin surga lagi.”
“Ya, gitu, lah, Pak Jon. Orang kita memang cepat kali lupa.”
“Aku pikir bukan kerna lupa.”
“Jadi?”
“Memang tolol aja.”
Tante Sela masuk kedai mengantarkan dua bungkus jamu pesanan Abdul Mustajab. Jamu Kunyit Asam dan Galian Singset.
“Kurasa ada satu lagi alasannya, Pak Jon,” katanya menimpali.
“Apa itu, Tan?”
“Sedang BeU. Udah sesak kali. Udah gelap, pening kepala. Makanya dikasih beras sekilo tambah uang limpul pun langsung digas.”
