Motif Sembilan Murid Meledek Guru PPKn yang Viral di Media Sosial Terungkap
Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di SMA Negeri 1 Purwakarta, Jawa Barat. Sembilan siswa menjadi sorotan setelah video mereka meledek guru PPKn, Bu Atun, viral di media sosial. Video berdurasi 31 detik tersebut menunjukkan sejumlah siswi mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah di belakang guru saat sedang mengajar.
Peristiwa ini memicu banyak respons dari masyarakat, baik dalam bentuk kritik maupun dukungan. Namun, Bu Atun, yang merupakan guru PPKn di sekolah tersebut, menyatakan bahwa ia telah memaafkan para muridnya. Ia bahkan menyebut bahwa para siswa itu menangis setelah menyadari kesalahannya.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya.
Bu Atun menekankan bahwa tujuan utama menjadi seorang guru adalah untuk membimbing, bukan memberi hukuman yang berlebihan. Ia tidak pernah melaporkan kejadian tersebut, karena ia percaya bahwa pendekatan pendidikan yang tepat dapat mengubah perilaku siswa.
“Saya tidak pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlaq tinggi dan selamat dunia akhirat,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa awalnya para siswa tersebut bersikap biasa saja, bahkan terbilang santun. Mereka sempat salaman dan ingin foto bersama dengan Bu Atun. Ia menghargai sikap mereka meskipun sedang mengajar di kelas lain.
Namun, setelah melihat video yang beredar, Bu Atun merasa sedih. Ia tak menyangka bahwa murid-murid yang di depannya bersikap santun justru meledek di belakang.
“Sedih itu manusiawi. Tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa tindakan para siswa bukan tanpa alasan. Saat itu, Bu Atun sedang mengajar pelajaran PPKn tentang keberagaman. Materi tersebut mencakup berbagai aspek seperti makanan, karya, nyanyian, dan kesenian daerah.
Bu Atun membagi kelompok siswa untuk mengerjakan tugas. Namun, saat presentasi, kelompok siswa tersebut berubah. Meski begitu, mereka tidak protes dan tetap mempresentasikan tugasnya dengan baik.
“Jadi ketika dipindah ke giliran terakhir mereka tetap presentasi, tetap manis, memperlihatkan gak ada apa-apanya sama bu Atun, minta foto bersama, terus ibunya keluar dan terjadi seperti itu, ibu juga gak tahu,” ujarnya.
Purwanto memastikan bahwa tindakan sembilan siswa tersebut dilakukan secara sengaja. Namun, mereka tidak akan dikeluarkan dari sekolah. Sebaliknya, mereka akan menjalani pembinaan selama tiga bulan yang meliputi:
- Kegiatan sosial
- Pendampingan psikologis
- Pengawasan intensif
“Sanksinya pertama kita akan memberi sanksi pada mereka ditangani selama tiga bulan melakukan aksi sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat, akan tetap mendapat pelajaran akan didampingi psikolog, ada wali yang mendamping, orang tua juga setiap minggu ikut evaluasi di sekolah ini terhadap perkembangan anak mereka,” ujarnya.





