Kehidupan yang Tidak Selalu Seperti yang Terlihat
Media sosial penuh dengan kisah-kisah sukses WNI di luar negeri. Gaji dalam dollar, kehidupan nyaman, dan pekerjaan yang terasa santai. Namun, di balik layar, tidak semua kisah itu benar-benar seperti yang ditampilkan. Banyak dari mereka yang hidupnya jauh dari kata mapan. Sukses yang dipamerkan sering kali hanya ilusi, sementara mereka yang benar-benar berjuang melalui pendidikan justru bekerja dalam senyap tanpa perlu spotlight.
Ketika berita-berita tentang keberhasilan orang Indonesia seperti seorang perempuan yang menjadi spa therapist dan membuka banyak cabang, atau seorang master chef yang bekerja untuk produser film Amerika, muncul, mereka viral dan tampak seperti kebenaran. Namun, pada akhirnya, cerita-cerita ini justru menipu para pembaca media sosial agar tertarik bekerja di luar negeri dan mendapatkan gaji besar.
Kisah Puspita Cahyani: Sukses yang Menipu
Ada sebuah cerita yang sangat menggugah rasa ingin tahu. Seorang perempuan Indonesia bernama Puspita Cahyani, usia 51 tahun asal Banyuwangi, memiliki jaringan bisnis spa premium di dua kota besar Australia. Diceritakan bagaimana ia lahir di daerah pedesaan yang kental dengan suasana sawah. Dulunya ia ahli dalam pijat urut di resort Bali, lalu bertemu dengan seorang duda yang membantunya membangun bisnis. Dari bisnis kecil, akhirnya berkembang hingga omset mencapai 6 miliar dan memiliki 5 cabang. Ia juga menyentuh angka AUD 600.000.
Namun, setelah membaca cerita ini, ternyata di akhir cerita tertulis bahwa pembaca bisa langsung menghubungi nomor dan bio untuk bekerja di Australia secara mandiri dan legal. Ini adalah contoh storytelling yang sangat menjebak.
Cerita Jonathan Andrea Nugroho: Sukses yang Tidak Nyata
Cerita kedua tentang seorang bernama Jonathan Andrea Nugroho, usia 43 tahun asal Jakarta. Awalnya dia bekerja sebagai master chef. Hidupnya berubah ketika temannya memberinya secarik kertas yang menyebutkan ada agency yang mencari master chef untuk seorang klien istimewa. Ketika dia mengetahui siapa klien tersebut, ia kaget karena orang itu adalah Leonardo DiCaprio.
Dengan kerendahan hati, ia mencoba melewati ujian di dapur sang maestro. Ia membuat rendang dan nasi goreng khas Indonesia. Akhirnya, ia diterima sebagai master chef dan digaji 200.000 USD, setara dengan Rp.3,3 milyar per tahun. Namun, setelah dicek, ternyata cerita ini juga tidak valid dan hanya untuk kebutuhan promosi.
Tujuan Storytelling yang Menyesatkan
Setiap kali membaca cerita yang tidak masuk akal, saya langsung googling untuk memastikan kebenarannya. Ternyata, kedua cerita ini tidak valid sama sekali dan hanya untuk kebutuhan story telling untuk mengiklankan bisnis atau memberikan informasi yang salah tentang kesuksesan orang Indonesia di luar negeri.
Berita-berita keberhasilan yang inspiratif memang mudah viral. Apalagi di era sulitnya mencari pekerjaan, membaca orang sukses WNI di luar negeri seperti Australia dan Amerika Serikat sangat menarik. Namun, berita hoax disebarkan untuk meningkatkan algoritma dan mencapai trending topik. Pemilik akun mendapatkan keuntungan dari posting yang tidak relevan dan tidak benar.
Sayangnya, berita viral itu tidak sesuai dengan fakta. Setelah dicek, keduanya adalah berita bohong alias hoax.
Impian Sukses yang Tidak Mudah Dicapai
Tidak semua orang yang ingin bekerja di luar negeri mudah meraih kesuksesan. Saya selalu mengikuti berita tentang TKW dan TKI yang berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan legal. Namun, bayangan atau impian untuk kaya atau sukses itu tidak segampang itu.
Mereka bisa mendapatkan gaji lebih besar dibanding UMR di Indonesia, tetapi seringkali habis karena godaan besar seperti penipuan, hutang ke bank, menggadaikan paspor, atau transfer dana gaji ke keluarga hingga habis.
Selain itu, bagi mereka yang berpendidikan informal, penting untuk mengedukasi diri agar bisa belajar atau sekolah formal supaya tidak lagi bekerja sebagai TKW atau TKI.
Sukses dengan Pendidikan
Sepupu saya pernah berwisata dengan kapal pesiar “Alaska” dari California ke beberapa negara termasuk Alaska. Sebagai netizen di Amerika, dia kaget bertemu dengan para crew yang bekerja sebagai pelayan atau waiter/waitres. Sikap mereka sangat sopan dan menyenangkan. Ketika mengetahui tamunya adalah orang Indonesia, terasa seperti bertemu dengan teman sesama bangsa.
Dalam obrolan singkat, mereka ternyata harus melalui sekolah formal sebelum bekerja di kapal pesiar. Setelah selesai pendidikan, mereka direkrut oleh agensi dan bekerja di kapal. Gajinya dalam mata uang asing USD, jauh lebih besar dari UMR. Namun, sukses mereka berasal dari pendidikan yang mereka tempuh dengan biaya sendiri.
Program Pelatihan untuk Pekerja Kapal Pesiar
Beberapa lembaga pelatihan di Indonesia menawarkan program pendidikan untuk bekerja di kapal pesiar:
- Marine Curise Yogyakarta (MCY): Alumni yang berhasil bekerja di Alaska, Hawaii, dan Amerika Serikat. Program pelatihannya mencakup housekeeping, food & beverage, dan barista.
- World Curise Academy (WCA) Yogyakarta & Medan: Lembaga pendidikan yang menyalurkan lulusannya untuk bekerja di kapal pesiar Amerika dan Eropa.
- BAS Academy Jakarta: Lembaga pelatihan kerja kru pesiar dan perhotelan dengan agen manning agency, PT. Sentina Arta Sumberdaya.
- Captain’s Club College Yogayakarta: Sekolah kapal pesiar yang berdiri sejak 2009 dan memiliki kerjasama dengan agen-agen kapal pesiar internasional.
Meskipun ada biaya pelatihan berkisar antara Rp.3 juta hingga Rp.16 juta, pastikan untuk mendaftar kepada lembaga yang memiliki izin resmi (Lembaga Kursus dan Pelatihan/LKP) dan bekerja sama langsung dengan agen Manning Agency/Manpower supplier yang diakui oleh Perhubungan Laut.
Dengan sukses melalui pendidikan dan legal, diharapkan tingkat hidup para calon pekerja yang akan bekerja di luar negeri, akan jauh lebih baik ketimbang mendengarkan sukses story yang tidak punya dasar kebenarannya.





