Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yogyakarta Dalam Sorotan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di Daerah Istimewa Yogyakarta kini menjadi sorotan publik. Niat baik untuk menyediakan asupan gizi yang layak bagi para siswa harus berhadapan dengan realitas di lapangan, terutama selama bulan Ramadan.
Beberapa waktu terakhir, muncul keluhan dari masyarakat terkait tampilan dan komposisi menu kering yang dibagikan. Menu tersebut dinilai kurang memenuhi ekspektasi kelayakan gizi. Keresahan ini bermula setelah sejumlah keluhan warganet viral di media sosial. Dalam unggahan tersebut, publik menyoroti pembagian paket MBG yang secara visual lebih menyerupai kotak kudapan untuk rapat ketimbang makanan padat gizi.
Dari berbagai foto yang beredar di linimasa, paket makanan tersebut hanya berisi telur rebus, buah seperti salak atau jeruk, onde-onde, aneka gorengan, roti keju, susu kotak, kurma, dan bahkan keripik tempe. Modifikasi menu menjadi bentuk kering ini diketahui dilakukan sebagai bentuk penyesuaian, mengingat para siswa sedang menjalankan ibadah puasa. Makanan sengaja dibagikan dalam bentuk kering agar dapat dibawa pulang dengan praktis untuk menu berbuka.
Namun, modifikasi tersebut memunculkan tanda tanya besar mengenai standar gizi dan nilai paket yang diterima siswa. Penanggung jawab MBG dipanggil oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk segera melakukan evaluasi.
Evaluasi Menyeluruh Diperlukan
Sultan menekankan bahwa program ini harus berjalan dengan akuntabilitas yang jelas, baik dari sisi kualitas gizi maupun transparansi nilai barang. Evaluasi menyeluruh diminta agar asumsi-asumsi liar di tengah masyarakat dapat diredam dengan fakta yang terang.
“Jadi kami mengajukan syarat, tidak sekadar anggapannya ini harganya tidak Rp10.000. Harapannya, menu tersebut diperbaiki, termasuk kejelasan harganya,” tegas Sultan. “Dan mereka menyetujui hal tersebut. Misalnya, jika diberikan pisang, harus jelas berapa harganya supaya clear.”
Pada akhirnya, kejelasan rincian menu dan harga menjadi sebuah keharusan demi menjaga kepercayaan publik terhadap program ini.
Kritik dari Wali Siswa
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Yogyakarta memang mengalami penyesuaian selama bulan Ramadan. Namun, perubahan menu yang didominasi oleh kudapan kering mulai memicu keluhan dari para orang tua siswa.
Ruswati, wali siswa di salah satu SMP negeri di Kota Yogyakarta, menceritakan bahwa MBG yang diterima anaknya selama Ramadan jauh dari kata mengenyangkan. Jika biasanya siswa mendapatkan satu porsi makanan bergizi berupa nasi dan lauk pauk, saat ini menunya berubah menjadi paket makanan ringan.
“Kemarin cuma roti kecil kayak donat, terus kacang telur plastik kecil, jeruk satu, sama susu kotak kecil satu. Sudah itu saja,” keluhnya. Menurutnya, anak-anak cenderung kurang suka dengan jenis makanan semacam itu, meski mau tidak mau jatah MBG tetap harus diambil.
Perubahan Mencolok
Senada, Wardana, wali siswa di SMP negeri lainnya di Kota Yogyakarta, turut menyoroti perubahan mencolok pada menu MBG yang diterima anaknya. Jika sebelum Ramadan siswa bisa menikmati nasi dengan sayur, lauk, bahkan sesekali burger atau spaghetti, kini menu beralih ke konsep takjil.
“Ramadan ini isinya jadi roti, kurma, telur rebus, onde-onde, dan kawan-kawannya. Mungkin jadi seperti ini supaya bisa dimakan nanti pas buka puasa ya,” katanya. Meski bisa memaklumi alasan di balik pemilihan menu kering tersebut, ia tetap menyimpan keraguan terkait kecukupan gizi yang terkandung di dalamnya.
Saran Pakar Kesehatan UMY soal MBG Kering
Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Merita Arini, MMR menilai menu MBG kering selama Ramadan kurang memenuhi gizi seimbang. Beberapa paket MBG kering memang cukup memenuhi angka kecukupan energi, namun protein terbatas, dominan makanan manis atau berbasis tepung, kandungan lemak dan garam cukup tinggi.
Ia menilai peran ahli gizi di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sangat penting dalam menyusun menu MBG. Menurut dia, ahli gizi juga perlu memadukan makanan tinggi natrium dengan makanan lain dalam satu paket MBG.
MBG Kering Itu Camilan
Menurut Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY itu, MBG kering yang diberikan selama Ramadan seperti camilan atau makanan pendamping. Dengan demikian, perlu ada edukasi kepada keluarga penerima manfaat untuk menyediakan makanan sehat.
Jika MBG kering berkelanjutan, ia mendorong SPPG untuk berkolaborasi dengan UMKM sekitar yang bisa menyediakan menu dengan masa simpan lebih panjang. “Kan ada UMKM yang bisa memasak daging atau sayuran yang di-vacum, tanpa pengawet. Nah, SPPG bisa berkolaborasi,” ujarnya.
MBG Kering Perlu Dievaluasi
Pelaksanaan MBG kering selama Ramadan juga perlu dievaluasi secara khusus, mengingat mekanisme distribusi yang berbeda. Evaluasi tersebut mencakup kualitas menu, keamanan pangan, konsumsi aktual anak, dan penerimaan menu.
Dari kacamata kesehatan publik, sinergi lintas sektor penting, baik dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan lain-lain. Sinergi hexahelix dibutuhkan untuk memperkuat kualitas MBG sebagai intervensi kesehatan masyarakat.




