DPR RI Minta Pengusutan Tuntas Teror terhadap Ketua BEM UGM

DPR RI menyerukan pengusutan tuntas terhadap para ‘aktor’ yang diduga terlibat dalam serangkaian teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Aksi teror ini berupa ancaman penculikan dan penguntitan, yang dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap kritik keras Tiyo terkait kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta suratnya kepada UNICEF.

Meski menghadapi tekanan yang dianggap sebagai sinyal buruk bagi demokrasi, Tiyo tetap menegaskan tidak akan gentar dan terus menyuarakan kegelisahan rakyat. Ia memandang aksi teror ini sebagai upaya untuk membungkam suara kritis yang sah secara konstitusional.

Kecaman dari Anggota DPR RI

Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, memberikan kecaman keras atas intimidasi yang menimpa Tiyo. Ia menilai bahwa tindakan teror tersebut bukan hanya ancaman personal, melainkan juga ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat. “Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Hilman menekankan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara adalah manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang dilindungi oleh hukum Indonesia. Ia meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi teror tersebut. “Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegas politisi Fraksi PKB ini.

Selain itu, Hilman mengimbau seluruh elemen masyarakat agar menahan diri dalam menyikapi dinamika yang berkembang. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas, terutama dalam menanggapi isu sensitif seperti kasus tragis bunuh diri seorang siswa SD di NTT. “Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” pungkasnya.

Kronologi Teror yang Menimpa Tiyo

Gelombang intimidasi terhadap Tiyo mulai muncul dalam bentuk pesan digital yang mencemaskan. Hanya empat hari setelah BEM melayangkan kritik tajam terhadap Prabowo, Tiyo melaporkan adanya pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan yang dikirim dari nomor misterius dengan kode negara Inggris.

Pesan-pesan ancaman seperti “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah” terus-menerus menghujani ponsel Tiyo. Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.

Di luar ranah digital, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap. Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi. Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat.

Isi Surat Tiyo kepada UNICEF

Melalui surat resmi tersebut, Tiyo melayangkan ajakan kepada dunia internasional untuk turut menegur Pemerintah Indonesia yang dinilai telah salah dalam menetapkan skala prioritas nasional. Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah seharusnya dialokasikan secara masif pada penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, bukan pada kebijakan yang mengabaikan kesejahteraan dasar rakyat.

Langkah berani ini mulai membuahkan hasil; pascapengiriman surat, Tiyo mengaku telah dihubungi oleh pensiunan UNICEF yang berkomitmen membantu menyampaikan aspirasi tersebut secara langsung kepada Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

Sikap Tak Gentar Menghadapi Tekanan

Meski rentetan teror terus membayanginya, Tiyo Ardianto menegaskan bahwa dirinya tidak akan surut selangkah pun dalam menyuarakan kegelisahan rakyat. Ia memegang teguh prinsip hidup bahwa “something that doesn’t kill you will make you stronger”—apa yang tidak membunuhmu, justru akan membuatmu tumbuh jauh lebih kuat.

Sikap tegak lurus ini juga menjadi representasi kolektif BEM UGM yang berkomitmen untuk tidak akan pernah mengubah arah perjuangan mereka. “Kita (BEM UGM) punya slogan yang sering diucapkan setiap ketemu di jalan ‘semakin ditekan, semakin melawan’. Jadi justru para peneror harus tahu, semakin meneror kita, itu justru semakin bahaya bagi mereka.”

Tiyo berharap rentetan teror yang menimpanya menjadi peristiwa terakhir dan tidak menimpa aktivis lainnya di masa depan. Baginya, intimidasi ini adalah “alarm keras” yang menandakan bahwa kondisi demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. “Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version