Perayaan Paskah 2026: Mengikuti Jejak Penderitaan Kristus

Menyambut perayaan Paskah tahun 2026, Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, Pr mengajak seluruh umatnya di Keuskupan Ruteng untuk menapaki jejak-jejak penderitaan Yesus Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya di Yerusalem. Dalam surat gembala Paskah 2026 yang diberikan oleh Direktur Pusat Pastoral (Puspas) Romo Martin Chen, Uskup Siprianus menyampaikan pesan penting bagi umatnya.

Menurut Uskup Siprianus, masa Paskah bukan hanya tentang mengenang sengsara Yesus Kristus dari masa lalu. Ia juga mengajak umat membawa luka-luka dunia saat ini ke dalam penderitaan Yesus Kristus. Dalam suasana tersebut, ia menjelaskan bahwa kita tidak hanya mengenang sengsara Tuhan sebagai peristiwa masa lampau, tetapi juga diajak membawa luka-luka dunia hari ini ke dalam lambung kudus-Nya.

Ia menyoroti berbagai masalah yang ada di dunia saat ini, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan perang antar bangsa, kesenjangan sosial dan korupsi yang merajalela, judi online dan aneka kejahatan digital yang kian masif, serta perusakan lingkungan dan perubahan iklim yang makin parah. Semua hal ini harus dibawa ke dalam penderitaan Yesus Kristus agar bisa menjadi bagian dari proses pemulihan.

Cinta Tuhan yang Lembut dan Mesra

Uskup Siprianus menekankan bahwa cinta Tuhan adalah cinta yang lembut dan mesra. Ia menjelaskan bahwa cinta yang sejati tidak pernah menolak penderitaan. Sebaliknya, cinta yang sejati tumbuh dalam malam panjang kegelapan dan lahir melalui lika-liku perjuangan yang menegangkan. Ia mengatakan bahwa cinta Tuhan yang menghibur dapat kita rasakan, baik di tengah penderitaan pribadi maupun di tengah luka-luka dunia zaman ini.

Ia juga menekankan bahwa iman Kristiani bukanlah “obat bius” atau pelarian yang menghibur kita dengan mimpi-mimpi indah agar terhindar dari kenyataan hidup yang pahit. Justru, iman Kristiani menggerakkan kita untuk terlibat sepenuhnya dalam kenyataan hidup, termasuk pada bagian yang buram dan perih. Iman ini memberi jaminan batin yang kokoh: siapa yang berjuang bersama Tuhan akan dimampukan mengolah penderitaan menjadi jalan menuju kebahagiaan.

Paskah sebagai Jawaban Allah

Menurut Uskup Siprianus, Paskah adalah jawaban Allah atas rintihan penderitaan manusia. Ia mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan engkau sendirian. Paskah adalah jawaban terhadap kebisuan kematian: di balik gelapnya kubur, terbit cahaya hidup yang abadi.” Paskah juga menjadi tenaga baru bagi langkah-langkah kita yang telah letih dan rapuh, agar tetap berjalan di lorong hidup yang fana ini dengan kekuatan dari-Nya.

Ia merujuk pada firman Tuhan dalam Injil Yohanes 11:25, “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

Berziarah Bersama dalam Pengharapan

Menurut Uskup Siprianus, tema “Berziarah bersama dalam Pengharapan” menjadi semangat yang menghidupi Sinode IV Keuskupan Ruteng pada tahun 2026. Di tengah dunia yang dilanda rangkaian krisis kemanusiaan dan bencana alam, serta kehidupan Gereja yang juga tidak luput dari pelbagai kesulitan dan persoalan, kita ingin tetap berdiri teguh sebagai saksi-saksi pengharapan.

Sinode IV dibingkai oleh motto: Beriman, Bersaudara, Misioner. Ziarah bersama Umat Allah Keuskupan Ruteng bertolak dari persekutuan yang mesra dengan Allah, diwujudkan dalam persaudaraan dan solidaritas, lalu dipancarkan dengan gembira ke tengah dunia.

Hasil Survei dan Diskusi Sinode III

Uskup Siprianus juga menyampaikan bahwa hasil survei dan diskusi mengenai ketercapaian arah dasar Sinode III menunjukkan buah yang sangat menggembirakan. Gereja lokal kita semakin bertumbuh menjadi persekutuan Umat Allah yang beriman secara utuh, dinamis, dan transformatif. Hal ini terutama ditopang oleh pola dan praksis pastoral kontekstual-integral yang telah dijalankan.

Pada tahun 2026, melalui empat sesi sidang sinodal, kita hendak merenungkan mosaik indah karya-karya pastoral yang selama ini telah bersinergi dalam bidang pewartaan, pengudusan, pelayanan, persekutuan, tata kelola, dan pelayan pastoral.

Sinode sebagai Cara Hidup dan Bertindak Gereja

Lebih daripada itu, sinode adalah cara hidup sekaligus cara bertindak Gereja. Sinode bukan sekadar sidang pastoral, melainkan napas seluruh hidup Gereja dalam pelbagai dimensinya, yang dijalankan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan. Paus Leo XIV menegaskan bahwa sinode bukanlah kampanye atau panggung pencitraan, melainkan sungguh sebuah jalan pertobatan.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version