Kehidupan di Rumah Potong Hewan Saat Masa Padat Idul Fitri
Di tengah kegembiraan menjelang Idul Fitri, suasana di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Pangkalpinang mengalami perubahan signifikan. Aktivitas yang biasanya berjalan normal kini menjadi lebih sibuk dan penuh tantangan. Para pekerja harus bekerja lebih cepat dan efisien untuk memenuhi permintaan masyarakat akan daging yang akan digunakan dalam perayaan hari raya.
Di dalam ruang pemotongan yang tidak terlalu luas, berbagai suara saling bersahutan. Suara lenguhan sapi, percikan air dari selang yang menyapu lantai, serta bunyi logam dari peralatan yang saling beradu menciptakan suasana yang riuh. Belasan pekerja bergerak dengan cepat di antara beberapa sapi yang telah dipotong, sementara aktivitas berlangsung hampir tanpa henti hingga menjelang fajar.
Para penyembelih, khususnya, harus berjaga sejak sore hingga subuh demi memastikan kebutuhan daging masyarakat terpenuhi. Di tengah kesibukan itu, para penyembelih yang tergabung dalam Organisasi Syiar Sembelih Halal Bangka Belitung (Sybilal Babel) memegang peran penting dalam memastikan proses penyembelihan sesuai dengan syariat Islam.
Ketua Sybilal Babel, Anggi Galingga Soufyan, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan teknik penyembelihan antara di RPH dan penyembelihan saat Idul Adha di masjid atau lingkungan masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa syariat Islam tetap menjadi dasar utama dalam setiap proses penyembelihan.
“Di RPH ini kita menggunakan metode stunning. Jadi hewannya dipingsankan dulu sekitar 20 detik, baru si eksekutor menyembelih. Waktunya harus cepat, tidak boleh lewat dari itu, karena kalau terlalu lama sapi bisa sadar lagi dan berontak,” ujarnya.
Setelah terkena alat stunning di bagian kepala, sapi akan langsung kehilangan keseimbangan. “Biasanya setelah kena alat, sapi langsung oleng, tubuhnya goyah, lalu roboh. Nah di momen itu penyembelih harus cepat, kami dalam waktu 5 sampai 10 detik setelah sapi jatuh langsung dilakukan penyembelihan,” katanya.
Pada masa puncak menjelang Idul Fitri, jumlah sapi yang disembelih bisa mencapai ratusan ekor dalam satu hari. “Pada hari Selasa kami menyembelih sekitar 154 ekor untuk dua RPH dengan 16 orang. Lalu hari Rabu meningkat menjadi 170 ekor dengan 18 orang,” ujarnya.
Proses penyembelihan sendiri dimulai sejak sore hari dan berlangsung hingga pagi. “Biasanya kami mulai setelah Asar sekitar pukul 15.30 WIB, dan selesai menjelang subuh, sekitar pukul 05.00 atau 05.30 WIB. Jadi lebih dari 12 jam kami bekerja di sini,” katanya.
Durasi kerja yang panjang menuntut kondisi fisik yang prima dari para penyembelih. “Kalau sudah masa puncak, waktunya panjang sekali. Hampir tidak ada jeda. Kami harus tetap fokus karena proses ini tidak boleh salah,” ujarnya.
Untuk menangani jumlah sapi yang besar, Sybilal Babel biasanya menurunkan sekitar 15 hingga 20 anggota. “Kalau jumlahnya sudah ratusan, kami turunkan sekitar 15 sampai 20 orang. Tidak hanya menyembelih, tapi juga membantu proses lainnya di dalam ruang potong,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, sebagian besar sapi yang dipotong merupakan jenis Brahman Cross (BX) impor dari Australia dengan bobot berkisar antara 480 hingga 800 kilogram. “Sapi ini cukup kuat dan cenderung mudah berontak karena tidak terbiasa diikat. Jadi penanganannya memang butuh tenaga dan teknik khusus,” katanya.
Dengan bobot besar dan karakter yang kuat, proses penyembelihan menjadi tantangan tersendiri, terlebih dilakukan di ruang yang terbatas. “Setelah disembelih, sapi langsung ditarik dan dikuliti. Semua harus cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap anggota tim memiliki peran masing-masing. “Ada yang menggiring sapi, ada yang mendampingi penyembelih, dan ada yang khusus membersihkan lantai supaya tidak terlalu licin,” jelasnya.
Meski terlihat terorganisir, kondisi di dalam ruang pemotongan cukup berisiko. Lantai sering kali dipenuhi campuran air, darah, dan lemak dari sapi yang baru disembelih. “Darah sapi itu ada lapisan lemaknya. Kalau bercampur air, lantai jadi sangat licin. Kalau tidak hati-hati bisa terpeleset,” kata Anggi.
Karena itu, para pekerja harus sigap menjaga kondisi lantai agar tetap aman. “Kami terus membersihkan lantai. Kalau tidak, bisa seperti dilapisi minyak dan itu berbahaya,” ujarnya.
Selain itu, risiko juga datang dari gerakan refleks sapi setelah disembelih. “Kadang sapi meskipun sudah dipingsankan masih bisa menendang atau bergerak. Itu refleks, tapi tetap berbahaya kalau tidak waspada,” katanya.
