Kejadian Mengamuk di Musala Gili Trawangan
Pada Kamis malam (19/2/2026), sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di musala Gili Trawangan, Lombok Utara. Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Selandia Baru, Miranda Lee, tiba-tiba mengamuk saat warga sedang melakukan tadarus. Peristiwa ini memicu kepanikan dan ketegangan antara pelaku dan warga setempat.
Penyebab Kekacauan
Menurut laporan, Miranda Lee merasa tidak nyaman dengan suara tadarus yang terdengar dari speaker musala. Ia kemudian masuk ke dalam musala dan mencabut kabel mikrofon, yang membuat warga emosi. Tindakan tersebut memicu reaksi dari warga yang berusaha menenangkan pelaku, namun ia justru melawan dan menyerang.
Kejadian ini juga dilaporkan menyebar di media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat seorang perempuan dengan pakaian hitam dan rambut pirang terikat masuk ke dalam musala dan mulai marah-marah. Ia bahkan mencakar salah satu warga hingga terluka. Meski begitu, warga tetap berusaha menjaga ketenangan dan tidak membalas dengan kekerasan fisik.
Tindakan Pihak Berwenang
Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, mengungkapkan bahwa kejadian ini terjadi sekitar pukul 23.30 Wita. Menurutnya, saat itu warga sedang melakukan tadarus di dalam musala. Tiba-tiba, pelaku masuk dan langsung mencabut kabel mikrofon. Hal ini membuat warga menjadi emosi, namun mereka tetap berusaha menjelaskan situasi tanpa memperparah konflik.
Husni menyebutkan bahwa aturan selama bulan puasa di Gili Trawangan menyatakan bahwa penggunaan speaker harus berubah setelah pukul 24.00 Wita. Namun, pada saat kejadian, penggunaan speaker masih diperbolehkan. Pelaku disebut sudah lama tinggal di Gili Trawangan bersama orang tuanya, namun tampaknya tidak memahami aturan dan kebiasaan setempat.
Ancaman dengan Parang
Setelah warga berusaha melerai, pelaku disebut tetap melawan. Saat di desak untuk menjauh, ia justru menyerang dan melukai warga. Bahkan, pelaku merebut handphone warga dan masuk ke dalam villa miliknya. Ketika warga mencoba mengambil handphone tersebut, pelaku menggunakan parang untuk melawan.
Selain itu, pelaku juga mengejar aparat kepolisian dengan parang. Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, mengonfirmasi kejadian ini dan menyatakan bahwa pihaknya sedang memantau situasi pasca-kejadian.
Edukasi untuk Wisatawan
Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), Irjen Polisi Edy Murbowo, menyampaikan bahwa kejadian ini telah dapat diatasi. Ia menekankan pentingnya edukasi bagi para wisatawan, khususnya WNA, tentang tradisi dan kebiasaan setempat selama bulan puasa. Menurutnya, warga setempat harus memberi penjelasan bahwa ada tadarus Alquran yang biasa dilakukan hingga pukul 24.00 Wita sesuai kesepakatan warga.
Edy menambahkan bahwa pemahaman dan edukasi harus diberikan secara baik kepada para wisatawan. Tugas kapolres adalah berkordinasi dengan takmir masjid, kepala lingkungan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk menjaga toleransi beragama. Ia menyarankan agar volume speaker dikurangi agar semua pihak bisa menjaga toleransi.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya pemahaman antara penduduk setempat dan para pendatang atau wisatawan. Selain itu, perlu adanya edukasi yang lebih baik agar tidak terjadi konflik serupa di masa depan. Dengan demikian, keberagaman dan kerukunan dapat terjaga di wilayah Gili Trawangan.





