Infomalangraya.net – Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp akhirnya sepakat membayar penyelesaian (settlement) atas gugatan yang diajukan 29 negara bagian di Amerika Serikat (AS).
Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu harus membayar hingga 18 miliar dollar AS atau sekitar Rp 321 triliun.
Selain itu, Meta juga akan mengubah Facebook dan Instagram untuk meningkatkan perlindungan bagi pengguna remaja.
Tampaknya, Meta tidak ingin sendirian. Dalam mereka terang-terangan menyebut “YouTube” dan “TikTok”, yang notabene adalah kompetitor mereka, agar ikut menyesuaikan platformnya demi keamanan pengguna remaja.
“Kami ingin memastikan kebermanfaatan bagi remaja dari standar baru industri ini, tapi kami tidak bisa sendirian. Perlindungan ini hanya akan benar-benar efektif apabila kami dengan rekan kami -TikTok dan YouTube- bersama-sama menerapkan langkah yang sama,” kata Meta dalam surat terbuka.
Bukan cuma itu, mereka juga menyebarkan seruan ini lebih luas. Bahkan, mereka tak tanggung-tanggung memanfaatkan tool iklan berbayar yang selama ini menjadi “mesin uang” Meta, untuk menyebarkan ajakan ini.
Menurut laporan Business Insider, iklan tersebut mulai disebar sejak Rabu (26/8/2026) atau sesaat setelah putusan pengadilan California, AS. Dalam tangkapan layar yang dibagikan outlet media tersebut, slide pertama langsung berbunyi “Surat terbuka untuk TikTok dan YouTube untuk bergabung dengan kami mendukung remaja”.
Strategi cerdik
Memang, aplikasi Instagram dan Facebook milik Meta bukan satu-satunya platform media sosial yang mendapat sorotan terkait penggunaan oleh remaja.
Di sisi lain, strategi mengorbitkan surat terbuka lewat iklan berbayar semacam ini, bisa menjadi langkah ciamik tim Public Relations (PR) Meta.
Sebab, posting ini tidak hanya akan dilihat oleh pengguna yang mengikuti (follow) akun resmi Meta di Facebook dan Instagram saja, namun juga menjangkau ke mereka yang bahkan tidak mengetahui eksistensi akun tersebut.
Mark Borkowski, konsultan hubungan masyarakat asal Inggris, menyebut iklan Meta sebagai upaya “reputational jujitsu”, atau strategi untuk membalikkan tekanan reputasi menjadi keuntungan bagi perusahaan.
Sam Gauchier, konsultan merek dan komunikasi, menilai langkah Meta cukup cerdik.
“Ini sebenarnya langkah yang cukup cerdas dari Meta. Mereka menempatkan TikTok dan YouTube dalam posisi di mana hampir semua respons yang diberikan akan menguntungkan Meta,” kata Gauchier kepada Business Insider, sebagaimana dihimpun KompasTekno.
Jika TikTok dan YouTube mengikuti langkah Meta, perusahaan tersebut dapat mengklaim bahwa tekanan publik yang mereka dorong berhasil membuat kedua platform pesaing itu melakukan hal serupa.
Sebaliknya, jika TikTok dan YouTube tidak mengikuti, Meta berpotensi terlihat sebagai pihak yang lebih peduli terhadap keselamatan remaja.
“Di atas kertas, Meta mengambil pendekatan ‘tanggung jawab bersama’. Strategi ini dirancang agar Meta tetap dipandang sebagai pemimpin industri dalam situasi apa pun,” kata konsultan komunikasi Michael Draznin.
Ada kepentingan bisnis tersembunyi
Salah satu perubahan yang akan dilakukan Meta pada platformnya adalah, pengguna remaja akan dibatasi menggunakan aplikasi Meta selama dua jam per hari. Akses juga akan diblokir pada malam hari, sementara notifikasi akan disesuaikan.
Masalahnya, saat pengguna tersebut dibatasi menggunakan platform Meta, bukan tidak mungkin mereka mencari alternatif ke platform pesaing.
Borkowski mengatakan, secara tersirat, Meta ingin semua platform ikut menanggung “kerugian” atas pembatasan yang mereka lakukan.
Kate Winick, analis utama Forrester, mengatakan belanja iklan bisa saja justru mengalir ke TikTok dan YouTube jika penggunaan Instagram oleh remaja dibatasi.
Meta mengatakan remaja menyumbang kurang dari 1 persen pendapatan keseluruhan perusahaan. Rata-rata, remaja di AS juga disebut menghabiskan sekitar satu jam per hari di Instagram.
Untuk menambah tekanan, Meta bahkan akan membayar tambahan 5,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 93,7 triliun), di luar pembayaran Rp 300 triliun tadi, jika TikTok dan YouTube sepakat menerapkan perubahan produk bagi remaja.
Perubahan hanya berlaku di AS
Meta mengatakan, perubahan platform Facebook dan Instagram hanya akan berlaku bagi pengguna remaja di Amerika Serikat saja.
Aturan ini pun hanya mengikat selama lima tahun. Berikut perubahan yang akan berlaku di Facebook dan Instagram bagi pengguna remaja di AS:
- Batas penggunaan dua jam per hari: Waktu penggunaan Facebook dan Instagram untuk pengguna di bawah 18 tahun dibatasi maksimal dua jam per hari secara kumulatif. Batas ini hanya dapat dinonaktifkan dengan izin orangtua.
- Bisa turun menjadi satu jam: Jika platform lain seperti TikTok, Snapchat, dan YouTube juga menerapkan pembatasan serupa, batas penggunaan Facebook dan Instagram akan diturunkan menjadi satu jam per hari.
- Mode malam: Akses ke Facebook dan Instagram akan diblokir secara otomatis pada tengah malam hingga pukul 06.00.
- School Mode: Notifikasi akan dibisukan selama jam sekolah, yakni pukul 08.00-15.00 pada hari sekolah.
- Pengingat waktu penggunaan: Remaja akan mendapat pengingat setelah menggunakan aplikasi selama 15 menit secara terus-menerus. Notifikasi tambahan akan muncul ketika total penggunaan mencapai 60 dan 90 menit.
- Jumlah “like” disembunyikan: Jumlah like akan disembunyikan secara default pada profil remaja maupun konten yang mereka lihat atau berinteraksi.
- Feed tanpa algoritma: Remaja dapat memilih feed yang tidak menggunakan algoritma sebagai dasar rekomendasi konten.
- Autoplay dapat dimatikan: Pengguna dapat menonaktifkan fitur autoplay untuk video dan konten.
- Filter riasan ekstrem dilarang: Filter kosmetik atau riasan yang dianggap ekstrem tidak lagi tersedia bagi pengguna remaja.
- Verifikasi usia ditingkatkan: Meta akan meningkatkan teknologi untuk memastikan usia pengguna dan menerapkan pembatasan yang sesuai.
- Orangtua tetap punya kendali: Orangtua dapat menerapkan pembatasan yang lebih ketat dibandingkan pengaturan bawaan Meta.
Meta mengatakan, fitur keamanan akan terpasang secara bawaan (default) dan otomatis. Sehingga, pengguna tidak perlu melakukannya secara manual.
Juru bicara Meta menyebut perusahaan akan “memantau perubahan ini” dan tetap “berkomunikasi dengan pemerintah di negara lain”.
Namun, Meta tidak memberi kepastian soal kapan atau apakah fitur ini bakal diperluas ke luar Amerika Serikat, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Engadget.
