Legenda Sepak Bola Indonesia yang Mengukir Sejarah
Tan Liong Houw, seorang legenda sepak bola Indonesia dan Persija Jakarta, menerima penghargaan Legend of the Year dari Yayasan Bakti Sepak Bola Indonesia. Penghargaan ini diberikan oleh PSSI dalam acara PSSI Award 2026 pada Sabtu, 28 Maret 2026. Selain membawa Persija Jakarta meraih gelar juara nasional, Tan Liong Houw juga pernah memimpin timnas Indonesia menahan imbang Uni Soviet di perempat final Olimpiade 1956.
Siapa Tan Liong Houw?

Dalam buku karya M Ikhsan Mahar berjudul “Tan Liong Houw, Auman ‘Macan Betawi’ Tak Lekang Waktu” yang terbit di laman Kompas.ID, disebutkan bahwa dalam sejarah sepak bola Indonesia hanya ada satu “macan” yang bermain untuk Macan Kemayoran, julukan Persija Jakarta. Nama itu adalah Tan Liong Houw alias Latif Harris Tanoto. Meskipun lahir di Surabaya, namanya melekat kuat dengan klub kebanggaan warga Jakarta tersebut.
Tan Liong Houw dikenal sebagai “Macan Betawi” karena permainannya yang penuh semangat dan berani. Ia menjadi salah satu pemain andalan Persija Jakarta dan Tim Nasional (Tim Garuda) sejak awal era 1950-an. Dalam sejarah perserikatan, ia menjadi salah satu pemain yang mengukir prestasi besar bagi sepak bola Indonesia.
Prestasi Hebat di Dunia Sepak Bola
Menurut Almanak Sejarah Indonesia: Peristiwa & Tokoh yang diterbitkan Intisari, Tan Liong Houw lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 2 Juli 1930 (beberapa sumber menyebut tanggal kelahiran 26 Juli 1930). Dia dikenal sebagai pemain yang sangat tangguh dan berpengaruh dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Selama 12 tahun berkarier sebagai pemain sepak bola, Tan Liong Houw lebih dari 100 kali tampil dalam pertandingan internasional. Salah satu momen penting dalam kariernya adalah saat Olimpiade Melbourne 1956. Saat itu, timnas Indonesia yang dipimpinnya berhasil menahan imbang Uni Soviet dengan skor 0-0 sebelum akhirnya kalah dalam pertandingan ulang.
Tan Liong Houw juga menjadi pesepakbola terkenal kedua setelah M. Saelan. Berkat prestasinya, ia mendapat penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto. Setelah pensiun dari dunia sepak bola, ia beralih menjadi pebisnis sukses, termasuk sebagai agen film di Jakarta dan pemilik pabrik daur ulang oli bekas di Pulogadung.
Karier Awal dan Perjalanan Hidup
Tan Liong Houw mulai bermain sepak bola di klub internal Persija PS Tunas Jaya yang dulu bernama Chung Hua. Salah satu momen paling dikenang adalah ketika ia membawa Persija menjadi juara pada 1954 setelah mengalahkan PSMS Medan. Dalam pertandingan final yang berjalan sengit, ia bermain apik dan menjadi pengatur serangan Macan Kemayoran. Bahkan, ada kejadian walk out dari para pemain PSMS saat itu.
Meski awalnya tidak didukung orang tua, Tan Liong Houw tetap bermain sepak bola. Orangtuanya melarang keras putranya jadi pemain sepak bola, terutama sang ibu, Ong Giok Tjiam. Akibatnya, adiknya, Tan Liong Pha, harus mengubur mimpi bermain sepak bola. Namun, Tan Liong Houw tetap gigih dan bahkan sempat “dibuang” ke Semarang agar tak main bola lagi. Di Semarang, ia justru semakin berkembang setelah bergabung dengan PS Tuna Jaya.
Peran dalam Timnas Indonesia
Tan Liong Houw bermain untuk Timnas Garuda selama 12 tahun, sejak 1950. Debutnya dimulai saat Asian Games I New Delhi 1951 saat usianya masih 20 tahun. Ia kembali dipanggil pada Asian Games II 1954 dan mencapai puncaknya di Olimpiade 1956.
Selain menembus perempat final Olimpiade Melbourne 1956, ia juga membawa Indonesia menjuarai Merdeka Games 1961 di Malaysia setelah menang 2-1 atas tuan rumah di babak final. Era Tan Liong Houw adalah masa ketika banyak pemain keturunan Tionghoa bermain untuk timnas Indonesia, seperti The San Liong, Kwee Kiat Sek, Bee Ing Hien, hingga dirinya sendiri.
Ciri Khas dan Jejak yang Terus Berlanjut
Salah satu ciri khas Tan Liong Houw adalah selalu mengikatkan handuk di tangan kirinya saat bertanding. Gaya permainannya yang enerjik dan berani membuat lawan-lawannya sering kesulitan. Setelah pensiun dari dunia sepak bola, ia pernah menjadi anggota Dewan Penasihat PSSI dari 1999 hingga 2003.
Jejaknya diteruskan oleh dua putranya, Wahyu Tanoto dan Budi Tanoto, yang juga berhasil menjadi pemain timnas Indonesia era 1970 hingga pertengahan 1980-an. Keberhasilan Tan Liong Houw tidak hanya dalam dunia sepak bola, tapi juga dalam kehidupan bisnis dan pengabdian kepada olahraga tanah air.





