Pengakuan Randy Permana tentang Aktivitas Taqy Malik di Arab Saudi

Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, mengungkapkan pengalamannya bersama Taqy Malik, seorang YouTuber sekaligus penghafal Al-Qur’an. Menurut Randy, Taqy Malik pernah berurusan dengan aparat keamanan dan intelijen di Madinah akibat aktivitas sosialnya yang dinilai ilegal.

Pembagian Makanan dan Dokumentasi di Media Sosial

Salah satu aktivitas yang menarik perhatian otoritas setempat adalah pembagian makanan di sekitar Masjid Quba. Kegiatan ini dilengkapi dengan dokumentasi di media sosial, yang dinilai melanggar aturan. Randy menyebut bahwa aktivitas tersebut tidak hanya melanggar ketentuan, tetapi juga memicu kecurigaan dari pihak berwenang.

Risiko Penjara Jika Terulang

Randy menegaskan bahwa jika Taqy Malik kembali melakukan aktivitas serupa, risikonya sangat besar. Ia menyatakan bahwa saat ini laporan terhadap Taqy sudah menumpuk di kalangan aparat keamanan. “Insyaallah kalau misal tahun ini Taqy datang lagi ke sana, bukti itu sudah ada semua, teman-teman sudah banyak laporan ke polisi dan ke intel-intel yang ada di Madinah. Insyaallah dia sudah langsung ketangkap dan itu enggak ada negosiasi, sudah langsung dipenjara dia,” ujarnya.

Teknologi Keamanan Saudi yang Canggih

Randy juga menyoroti kecanggihan teknologi keamanan Saudi, terutama sistem biometrik yang mampu melacak wajah seseorang hanya dari konten viral di media sosial. “Konten itu viral di Saudi, terdeteksi sama polisi Saudi. Mukanya dia di-biometrik keluar data visanya dicarilah di hotelnya, ketemu di pelataran ditangkap,” tambahnya.

Awal Program Wakaf Tahun 2023

Menurut Randy, program wakaf Al-Qur’an mulai berjalan pada 2023. Saat itu, Taqy Malik membuka donasi wakaf mushaf yang kemudian dibelikan langsung dari percetakan resmi di Madinah. Pembelian dilakukan langsung dari percetakan dengan harga pabrik, sehingga biaya relatif lebih murah dibandingkan harga pasaran.

Ribuan Mushaf dan Awal Kecurigaan

Pada periode awal, jumlah mushaf yang dibeli dari hasil wakaf mencapai ribuan eksemplar. Namun, pembelian dalam jumlah besar inilah yang kemudian memicu perhatian pihak berwenang. Selang beberapa minggu setelah transaksi besar tersebut, pembelian mushaf dalam jumlah banyak mulai dibatasi.

Aturan Ketat Mushaf Wakaf di Masjid

Randy menjelaskan bahwa mushaf yang digunakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memiliki aturan ketat. Umumnya, mushaf wakaf di dalam masjid hanya diperbolehkan berasal dari percetakan resmi pemerintah Arab Saudi. Percetakan tersebut dikenal luas sebagai percetakan resmi pemerintah Saudi untuk mushaf Al-Qur’an.

Visa Umrah Jadi Sorotan

Setelah adanya pembatasan, pembelian mushaf dalam jumlah besar menjadi semakin sulit, terutama bagi jemaah yang datang menggunakan visa umrah. Randy menyebut, pembatasan ini dilakukan karena adanya indikasi bahwa sebagian jemaah menggunakan visa umrah untuk aktivitas yang dicurigai sebagai bisnis mushaf.

Peringatan untuk Lebih Hati-hati

Randy mengaku telah beberapa kali mengingatkan Taqy Malik agar lebih berhati-hati dan tidak terlalu terbuka dalam menjalankan program wakaf tersebut, terutama pada tahun kedua. Ia bahkan menyarankan agar distribusi mushaf dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan aparat.

Sedekah Makanan yang Berujung Masalah

Selain itu, Taqy Malik pernah berurusan dengan aparat keamanan setempat dan bahkan disebut masuk dalam pantauan intelijen di Madinah. Menurut Randy, persoalan tersebut berkaitan dengan aktivitas sosial Taqy Malik yang dinilai tidak sesuai dengan aturan yang berlaku di Arab Saudi. Kegiatan tersebut bukan sekadar tindakan amal biasa, melainkan aktivitas yang dianggap ilegal karena dilakukan tanpa izin resmi dari otoritas setempat.

Lokasi dan Jenis Makanan Jadi Sorotan

Masalah tidak berhenti pada dokumentasi di media sosial. Randy menuturkan bahwa pembagian makanan dilakukan di lokasi yang dianggap tidak semestinya, yakni di sekitar Masjid Quba, bukan di area masjid utama sebagaimana lazimnya. Selain itu, jenis makanan yang dibagikan disebut tidak sesuai dengan karakter jemaah di kawasan tersebut, sehingga memicu persoalan baru.

Sempat Menghilang dan Pindah Tempat Tinggal

Menyadari dirinya tengah menjadi sorotan aparat, Taqy Malik disebut melakukan langkah-langkah untuk menghindari kejaran pihak berwenang. Randy mengungkap bahwa Taqy bahkan harus berpindah tempat tinggal secara mendadak. “Sampai yang awalnya dia stay di hotel, dia kabur, dia cari apartemen yang jauh dari masjid saat itu, tahun itu. Dia tahu sendiri dan itu posisi memang lagi sama saya,” tegas Randy.

Alasan Randy Membuka Suara

Randy mengaku bahwa keputusannya berbicara ke publik bukan tanpa alasan. Ia khawatir tindakan Taqy Malik justru berdampak buruk bagi para Warga Negara Indonesia (WNI) lain yang mencari nafkah di Makkah dan Madinah. “Itulah kenapa saya dengan keras dengan lantang bersuara kemarin ini karena saya ingin tinggal lama di Saudi seperti itu,” ujarnya.

Riwayat Kontroversi Taqy Malik

Sebelumnya, nama Taqy Malik memang bukan kali pertama terseret polemik. Ia sempat terlibat persoalan pengadaan lahan untuk pembangunan Masjid Malik Al Mulki, yang diketahui berdiri di atas tanah yang belum sepenuhnya dilunasi. Kasus tersebut mencuat sejak 2023 hingga 2025 melalui jalur hukum dan media sosial.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version