Teror yang Menyerang Ketua BEM UGM dan Pengurusnya
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kini menjadi target dari serangkaian teror yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga sejumlah pengurus BEM UGM serta keluarga mereka juga menjadi sasaran dari ancaman yang tidak jelas asalnya.
Awalnya, intimidasi hanya dialami oleh Tiyo dan orang tuanya. Namun, dalam perkembangannya, lebih dari 40 pengurus BEM UGM menerima pesan dan panggilan misterius dari nomor tak dikenal. Bahkan, orang tua dari beberapa pengurus lainnya juga menjadi korban aksi serupa. Pola yang sama terus berulang: pesan-pesan aneh dan panggilan yang menimbulkan rasa tidak aman.
Tiyo Ardianto menjelaskan bahwa teror yang dialaminya dan pengurus BEM UGM kini menjadi isu publik. Meskipun sudah mendapat perhatian luas, tekanan tersebut belum benar-benar berhenti. Hal ini membuat BEM UGM tidak bisa tinggal diam. Mereka telah melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga seperti Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak universitas.
Meski berbagai pihak mendorong agar kasus ini dilaporkan kepada aparat penegak hukum, BEM UGM masih mempertimbangkan langkah tersebut dan belum memilih untuk menempuh jalur hukum. Fokus utama mereka saat ini adalah menyampaikan evaluasi dan kritik kepada pemerintah.
“Karena pada dasarnya teror yang terjadi itu tidak berimbas apa-apa kepada kami, kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat,” ujarnya saat ditemui di UII Cik Di Tiro, Minggu (22/2/2026).
Fokus pada Evaluasi dan Kritik Pemerintah
Menurut Tiyo, teror yang dialaminya justru memperkuat persaudaraan antar anggota BEM UGM. “Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena justru persaudaraan di antara teman-teman BEM UGM semakin solid. Karena punya nasib yang sama, yaitu menjadi korban dari teror nomor-nomor yang tidak dikenal,” tambahnya.
Tidak Percaya pada Polisi
Ketidakpercayaan terhadap institusi Polri menjadi salah satu alasan BEM UGM enggan melaporkan teror tersebut. Peristiwa kematian seorang anak di Tual, Maluku, setelah dianiaya oleh anggota Brimob Polda Maluku, memperkuat keraguan mereka untuk melaporkan ke polisi.
“Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia. Lalu dengan situasi seperti ini, kita akan minta tolong ke polisi? Rasanya kemanusiaan kami justru dipertanyakan. Karena teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukan dengan itu,” jelasnya.
Curiga Ada Penyusup
Tiyo menduga ada penyusup dari pihak tertentu yang sengaja dimasukkan ke dalam kepengurusan BEM UGM. Ia menyebut bahwa pengurus BEM UGM terdiri dari 600 mahasiswa, sementara jika ditambah relawan kepanitiaan hampir 1.000 orang.
Indikasi itu muncul lantaran ketidakjelasan alasan teror yang menyerang 40-an pengurus BEM UGM. “Dari sekian nomor yang ada, kenapa hanya 40? Kami masih lacak kira-kira penyebabnya apa,” ungkapnya.
“Ada yang sempat menduga, jangan-jangan karena di LinkedIn atau di medsos menyampaikan bahwa dia adalah BEM UGM. Ternyata tidak semua. Sehingga kami menganggap ini acak. Dan yang kami waspadai adalah apakah ada ‘intel’ yang disusupkan oleh pihak-pihak tertentu ke kepengurusan BEM UGM.”
“Karena ini bicara soal data digital, maka siapa yang masuk ke grup besar BEM UGM, ya pasti bisa mengakses siapa saja yang ada di sana,” imbuhnya.
“Kami masih belum punya cukup waktu untuk melacak, karena tidak mudah rasanya melacak dari 600 anggota grup WA, kira-kira siapa yang akan membocorkan.”





