Perbedaan Angkringan Solo dan Yogyakarta
Angkringan menjadi salah satu ikon kuliner yang tidak bisa dipisahkan dari kota-kota seperti Solo dan Yogyakarta. Meskipun memiliki kesamaan dalam konsep, angkringan di kedua daerah ini memiliki perbedaan yang mencolok baik dari segi sebutan, minuman khas, maupun isi menu utamanya.
Sebutan Angkringan dan Hik
Di Yogyakarta, masyarakat lebih akrab dengan istilah angkringan. Sedangkan di Solo, tempat makan serupa lebih dikenal dengan nama hik atau wedangan. Istilah hik sudah lama digunakan oleh masyarakat Solo, sementara wedangan merujuk pada kebiasaan menikmati minuman hangat sembari menyantap camilan dan makanan sederhana. Konsep angkringan berasal dari wilayah Klaten, kemudian berkembang di Solo sebelum menyebar ke Yogyakarta dan daerah lainnya.
Minuman Khas yang Berbeda
Salah satu perbedaan paling mencolok antara angkringan Solo dan Jogja terletak pada minuman khasnya. Di Yogyakarta, pengunjung dapat menemukan kopi jos, yaitu kopi panas yang disajikan dengan arang membara yang dimasukkan langsung ke dalam gelas. Saat arang bersentuhan dengan kopi, terdengar bunyi “jos” yang menjadi asal nama minuman tersebut. Sementara itu, angkringan Solo memiliki minuman khas bernama teh kampul. Minuman ini berupa es teh yang dicampur irisan jeruk sehingga tampak mengapung atau “kampul” di permukaan.
Isi Nasi Kucing Tidak Sama
Meski sama-sama menjual nasi kucing sebagai menu andalan, isi nasi kucing di Solo dan Yogyakarta memiliki perbedaan. Di Yogyakarta, nasi kucing umumnya berisi nasi putih dengan sambal teri dalam porsi kecil. Menu ini biasanya disantap bersama gorengan atau aneka sate yang dipanaskan menggunakan bara arang. Sedangkan di Solo, nasi kucing atau sego kucing lebih identik dengan lauk ikan bandeng goreng yang dipadukan dengan sambal goreng. Pilihan lauk pendampingnya pun beragam, mulai dari sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, tempe bacem, hingga tahu dan bakwan.
Mana yang Lebih Dulu Ada?
Meskipun banyak orang menganggap angkringan identik dengan Yogyakarta, sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa konsep ini berkembang lebih dahulu di wilayah Solo dan Klaten. Keberadaan angkringan dapat ditelusuri melalui arsip surat kabar Jawi Swara tahun 1913. Dalam arsip tersebut disebutkan istilah angkring yang digunakan masyarakat pada masa itu. Warga Klaten memanfaatkan peluang dengan menjual makanan keliling menggunakan pikulan. Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi angkringan.
Menurut catatan sejarah Desa Ngerangan, Klaten, sosok yang dikenal sebagai pencipta cikal bakal angkringan adalah Eyang Karso Dikromo. Pada era 1930-an, ia merantau ke Solo dan mengembangkan konsep berjualan makanan sederhana yang kemudian dikenal luas hingga sekarang. Awalnya, angkringan dijual menggunakan pikulan sebelum berkembang menjadi gerobak seperti yang banyak ditemui saat ini.
